Diary Guru

Urusan Dunia

Urusan Dunia

Manusia dewasa yang telah menjalani hidup bertahun-tahun dengan berbagai masalah yang dihadapi mungkin memahami dengan baik yang namanya “urusan dunia”. Bagaimana dengan anak-anak?

Kisah ini terjadi di kelas kami, kelas 2 SD yang biasa kami sebut Mukmin 2. Berharap agar nama tersebut dapat terinternalisasi pada diri mereka. Walau kisah ini sudah lama namun kami masih sangat baik mengingatnya karena memang sangat berkesan.

“Setiap hari pasti ada masalah ya ustadzah!” kata salah satu siswa yang diaminkan oleh teman-teman sekelasnya. Seperti hari-hari sebelumnya kalau tidak ngambek, ya mungkin ada siswa yang menangis. Dan hari ini ada siswa yang menangis karena ada masalah dengan temannya. Kala itu sedang istirahat pertama, tiba-tiba seorang siswa masuk kelas sambil menangis.

“Kenapa? Kok nangis?” tanya kami padanya.

“Stikerku diambil sama Fulan! Dia ambil pas aku taruh dekat kamar mandi”, jawabnya masih sambil mengangis.

“Ya coba kamu minta baik-baik dan bilang sama Fulan kalau itu punya kamu”, jawab kami mencoba memberikan solusi.

“Huu…, huu…, huu….,” siswa tersebut tak menjawab dan malah mengeraskan tangisannya.

Tanpa diminta, salah satu temannya yang masih menyelesaikan catatan berkomentar,

“Sudahlah Mus, itukan cuma dunia, nggak penting itu Mus.” Kata temannya tersebut. (Seingat kami saat berkomentar dia sambil angkat tangan dan telunjuk kanannya, sehingga sangat mantap dalam berkomentar).

Kami yang masih di situ tentu saja terperanjat dengan komentar bermakna nasihat yang disampaikan temannya tadi. “Masyaa Allaah” kata itu yang langsung terlontar dari mulut kami. Benar-benar dibuat takjub kami mendengarnya. Anak usia 2 SD sudah memahami konsep urusan dunia yang menurut dia tidak penting karena tidak akan kita bawa sebagai bekal di akhir hayat nanti.

Membersamai anak-anak di sekolah membuat semakin banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Kita sebagai orang dewasa juga sudah sepantasnya memahami hal yang sama dengan komentar siswa tadi. Begitu banyak di luar sana terjadi pertikaian dan masalah yang berbuntut panjang hanya karena urusan duniawi. Kisah ini mengingatkan kami pula pada doa salah seorang shahabat, Abu Bakar radiallaahu’anhu: “Ya Allah, jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami.

Bersyukurlah anak-anakku, segala masalah yang kita hadapi saat ini akan menjadikan kita kuat di kemudian hari nanti. Teriring doa untuk kalian, semoga Allah selalu merahmati kalian dan menjadikan kalian manusia shalih hingga akhir hayat kalian nanti. Meletakkan segala urusan dunia hanya di tangan dan cinta kepada Allah serta urusan akhiratlah yang kita simpan di hati.

_Ustadzah 2ty_ (Jogja, 29/01/2016)

.

Tinggalkan Balasan