Merasa sedih itu pernah dialami setiap orang. Cara menyikapinya setiap orang beragam. Ada yang tenggelam dan berlarut-larut dalam kesedihan, bahkan apa pula kemudian melakukan tindakan yang membawa efek jangka panjang dan menghinakan. Contohnya adalah orang yang gagal mengelola kesedihan hingga bertindak untuk mengakhiri hidupnya, yang berakibat fatal yaitu diharamkan masuk syurga sebagaimana dalil hadis berikut:

عَن جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ بِهِ جُرْحٌ، فَجَزِعَ، فَأَخَذَ سِكِّينًا فَحَزَّ بِهَا يَدَهُ، فَمَارَقَأَ الدَّمُ حَتَّى مَاتَ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: بَادَرَنِي عَبْدِي بِنَفْسِهِ، حَرَّمْتُ عَلَيْهِ الجَنَّةَ

Dari Jundub bin Abdullah radhiyaLlaahu ‘Anhu, dia berkata: RasuuluLlaahu ‘Alaihi wasallam bertutur dalam sabda, “Dahulu ada seorang laki-laki sebelum kamu yang mengalami luka, lalu dia berkeluh kesah, kemudian dia mengambil pisau, lalu dia memotong tangannya. Kemudian darah tidak berhenti mengalir sampai dia mati. Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hamba-Ku mendahului-Ku terhadap dirinya, Aku haramkan surga baginya’. (H.R. Al-Bukhori, no. 3463)

Kali ini, penulis akan fokus pada salah satu cara sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla firmankan. Tepatnya dalam surah Al Insyirah ayat 6.

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan” (Q.S. Al Insyirah : 6)

Kesulitan yang termasuk di dalamnya kesedihan, dapat dikelola dari buliran-buliran faedah dan hikmah yang terkandung dalam ayat di atas, diantaranya :

1. Keyakinan dekatnya kemudahan.
Bahkan dalam ayat di atas menyatakan bahwa kemudahan itu
datang bersama kesulitan. Jika sepakat dengan pemahaman
seperti ini, maka tak perlu sedit berlarut lagi, karena jika kita
mendapat kesulitan atau merasa sedih, sejatinya kita berada
di perbatasan, kemudahan dan kesenangan melambai-lambai
memanggil kita. Tinggal bagaimana kita menyikapinya,
apakah mau meraih lambaian tersebut ataupun malah
bersabar dalam kesedihan. Saya kira kita sepakat sabar
seperti ini tidak pada tempatnya.

2. Kemudahan itu selalu menang.
Menang disini diambil dari faedah lafal “Al ‘Usyru” atau
kesulitan yang terdapat dalam dua ayat (ayat 5 dan 6) dan
bentuk penulisannya yang memakai alif dan lam (bukan
‘Usyrun tapi Al ‘Usyru) yang bermakna istighroq wal ‘umum
atau menyeluruh dan umum dengan kemudahan yang
menggunakan lafal tanpa alif lam (tankir) yaitu yusra yang
menunjukkan perulangan atau berbilang. Maka dalam tafsir
syeikh Sa’di menjelaskan maksud umum ini bahwasanya
setiap atau segala kesulitan walaupun itu sampai taraf
kesulitan tertinggi sekalipun. maka pada akhirnya ada
kemudahan yang menyertainya. Dua kemudahan atau lebih
lawan 1 kesulitan, maka kemudahan pasti menang. Jadi kalau
ada yang masih berlarut dalam kesedihan maka sejatinya ia
tak melibatkan kekuatan kemudahan yang jumlahnya tak
berbilang.

Jika masih ragu dengan rumusan solusi dari Al Qur’an. Masih belum move on dari firman Ar Rahman, maka saya yakin ia tak akan mampu beranjak dari kesulitan atau kesedihan walaupun ia dinasehati oleh motivator ulung berskala international. Karena adakah di dunia ini nasehat yang lebih tinggi dari nasehat Rabbul ‘Izzah?
Wallahu A’lam. (KI)

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *