Diary Guru

Benih-benih Tanggungjawab Ada Pada Dirimu!

Memiliki sikap tanggungjawab dan mandiri adalah sebuah kelebihan. Betapa tidak, tak sedikit permasalahan yang terjadi, bermuara pada hilangnya sifat ini pada diri seseorang. Maraknya kenakalan remaja misalnya, itu terjadi tak lepas dari kurangnya tanggungjawab orangtua dalam mendidik dan membina dalam lingkup keluarga. Dalam ranah kehidupan masyarakat juga terjadi, masih tingginya angka pengangguran, bertambahnya angka kemiskinan adalah salah satu bukti, sikap tanggungjawab seorang pemimpin yang belum tertunaikan dengan maksimal, dll.

Nah, adalah sebuah hal yang menggembirakan bagi seorang guru, bila melihat murid-muridnya mulai menampakkan hal-hal positif, apalagi jika prilaku tersebut berawal dari kontribusi dirinya, baik secara langsung maupun tidak, baik kontribusi yang sedikit maupun banyak. Seolah terasa mendapat tetesan embun dimusim kemarau, adem dan segaaar rasanya, hm…hm… tak bisa diungkap dengan kata-kata, terasa lebih pokoknya!!!

Namun kami menyadari, bahwa dari satu kejadian tidaklah cukup untuk bisa berkesimpulan apalagi memastikan. Karena hidup ini adalah bagian proses, maka yang terjadi pun merupakan bagian dari sebuah proses, yah proses menuju pembentukan karakter in sya Allah. Paling tidak perkataan tersebut sebagai sebuah doa. Doa dari seorang guru terhadap peserta didiknya. Doa dari seorang “ayah” terhadap “anak”nya di sekolah … Aamiin Ya Rabb.

Okelah langsung saja, biar anda tidak menunggu lama, biar arah tulisan tidak mengarah kemana-mana, dan mumpung ide menulis kisah masih ada di kepala, he..he…

Bermula dari kegiatan rutin MI Al Wahdah Sleman Yogyakarta, yaitu halaqoh Al Qur’an setiap pekan sekali. Kegiatan yang diprogramkan sebagai wahana memperkuat dan melatih agar siswa lebih dekat dengan al Qur’an ini, seperti biasa ada penugasan menghafal ayat Al Qur’an. Waktu itu, Kamis, 18 Rabiul Akhir 1437 H atau 28 Januari 2016 M tugas menghafal adalah 1 ayat dalam surah Adz Dzariyat ayat 56 beserta artinya. Alhamdulillah mayoritas siswa hafal semua, kecuali 3 anak. Karena alokasi waktu sudah habis dan harus beralih menuju pembelajaran berikutnya maka khusus ketiga anak yang belum setoran tadi, diberi keringanan boleh mengikuti pembelajaran berikutnya dengan syarat harus hafal ayat ini dan disetor usai pulang sekolah. Alhamdulillah mereka setuju dengan syarat tersebut, yaitu menyetor tugas menghafal ayat (yang sebenarnya sudah 2 minggu yang lalu menjadi tugas mereka) usai pulang sekolah nanti.

Waktu berlalu, tak terasa kegiatan pembelajaran sekolah sudah di ujung kegiatan. Saatnya waktu pulang telah tiba. Awalnya saya agak ragu, apakah ketiga anak tadi mau menepati tanggungjawabnya, karena sudah berselang waktu, mereka tak kunjung datang, malah terdengar mereka berhitung main petak umpet bersama teman-temannya menunggu jemputan datang. “Yah, memang mendidik butuh kesabaran” gumamku dalam hati. Dan hal tersebut biasa dijumpai bagi seorang pendidik, ketika berinteraksi dengan siswanya. Tatkala guru memberikan penugasan dan waktu pengumpulan tugas sudah habis, ada saja siswa yang belum kumpul tugas juga. Ketika ditanya, kenapa tidak kumpul tugas, jawab anak sederhana, “lupa ustadz”. he…he… memang “si lupa” adalah biang keladinya.

Subhanalah, ketika saya sudah tidak berharap lagi mereka datang dengan berhusnudzon mungkin mereka lupa, terdengarlah suara memanggilku dari belakang, “ustadz mau setor!” ucap Akmal sambil berjalan menghampiriku. “Alhamdulillah, bagus Akmal, silahkan” jawabku mempersilahkan. Begitu pula dengan 2 teman lainnya, Amrin dan Defan. Ketiganya menghadapku dan menyetorkan tugas hafalannya.

Memang hafalan mereka tidak sebagaimana teman-teman yang lainnya, setoran hafalannya masih perlu dibantu awalannya apa, akhirannya apa. Tapi ada yang membuat saya salut pada kegiatan setoran tersebut, yaitu kemauan untuk memenuhi tanggungjawabnya itu. “Nak, boleh jadi hafalanmu tak sebaik teman-temanmu, tapi kedatanganmu untuk menyetor itu sudah ada penilaian tersendiri buatku!” kataku dalam hati. “Bagus, terimakasih sudah mau menyetor hafalan!” kataku pada mereka sebagai apresiasi atas apa yang mereka lakukan sembari mempersilahkan mereka melanjutkan bermainnya.

Mungkin hal ini terlihat sebagai sesuatu yang biasa dan tidak ada yang menarik, tapi bagi saya menarik, ini sesuatu yang sangat baik dan penting. Bagi pendidik Sekolah Al Wahdah, baik TTA dan MI Al Wahdah, proses kegiatan pembelajaran akademik itu penting, tapi kami menganggap bahwa pengawalan terhadap pendidikan karakter, sikap atau adab jauh lebih penting dan kami kawal dalam pendidikan sekolah Al Wahdah. Saking pentingnya anggapan kami, penilaian sikap dan adab kami masukan dalam penilaian akhir tahun atau raport.

Dari peristiwa itu, saya katakan : “nak benih-benih tangungjawab ada pada dirimu!”, rawatlah selalu, biarkan ia tumbuh dan bersemai dalam dirimu. Kami sebagai gurumu siap mengantarmu menjadi pribadi-pribadi yang bertanggungjawab in sya Allah!. Mudah-mudahkan kelak, benih-benih tersebut bisa  mengakar kuat dalam dirimu, sehingga bunga dan buahnya nanti dapat dipetik dan dirasakan oleh masyarakat dan bangsa ini! … aamiin ya Rabbal ‘Aalamin.

Jum’at, 19 Rabiul Akhir 1437 H bertepatan 29 Januari 2016 M

(IAH)

.

One comment

  1. dadabanjar

    Aamiin.. aamiin.. yaa Rabbal’Aalaamiin…

Tinggalkan Balasan