Sebutir pasir mungkin keberadaannya dihiraukan. Bahkan cenderung dihindari atau bahkan sengaja disingkirkan. Apalagi kalau mengenai bola mata kita. Kita ingin ia enyah secepatnya dari hadapan kita. Eh pergi mengotori dan mengganggu pandangan kita.

Tapi berbeda kondisinya bilamana butir-butir pasir tersebut berkumpul, bersatu sampai membentuk gundukan pasir 1 truk misalnya. Keberadaannya akan membawa banyak manfaat, kehadirannya sangat dinanti. Kadang ia sebagai bukti realisasi dari suatu kegiatan mulia dan istimewa. Seperti untuk membangun gedung madarasah. Tempat menempa, mengasah calon generasi negeri, tempat nasib bangsa masa depan negeri disiapkan.

Hari ini, alhamdulillah butiran-butiran pasir itu kembali menyapa kita di Madarasah Al wahdah. Hadir perdana tidak sendirian, tapi bersama dengan sekumpulan teman-temannya sebanyak 2(dua) truk. Mereka sepertinya menyatakan siap berkontribusi membuat perubahan dengan syarat adanya kolaborasi pihak-pihak terkait dan kompeten dibidang pembangunan. Seperti semen, besi, batu bata atau semarga dengannya yang belum nampak terlihat kedatangannya.

Nampaknya ia pun berpesan, sebelum pengorbanan jiwa raganya, walaupun pengorbanannya nantinya tak terlihat, tapi ia yakin perannya akan dikenang dan diingat. Mereka seolah bertutur : “jika kontribusi kebaikan keberadaan gedung MIA mengharuskan kami berkorban, kami akan lakukan. Dan jikalau masih perlu menghadirkan masyarakat dan keturunan kami yang lain pun, kami in sya ALlah siap lakukan. Kami dicipta untuk mengabdi. Kami cinta bila pengabdian kami untuk investasi kebaikan aherat yang mengalir tanpa henti seperti ini. Salam kami dari masyarakat pasir”. (KI)

 

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *