Dunia Orang Tua

Bukan Sekadar Memanah

Memanah bukan sekadar melesatkan anak panah dari busurnya. Ada nilai pelajaran mahal dari kegiatan yang dalam bahasa arab disebut  rimayah ini. Salah satunya yaitu sebagai sarana ta’dib atau penanaman nilai adab kepada para peserta. Ustadz Adi Bayu Nugroho selaku pelatih ekstra unggulan sekolah yang juga merupakan atlit nasional memanah berkuda ini menyampaikan bahwa siswa perlu mengetahui adab-adab memanah terlebih dahulu. Baik materi adab pemanah muslim secara umum, maupun adab terhadap para guru, para ahli, para senior dan rekan-rekannya sesama pemanah.

Berikut terkait materi adab-adab sebelum memanah hasil  rangkuman dari berbagai kitab panahan peradaban Islam yang beliau bagian kepada pemerhati pendidikan di sekolah Al Wahdah.

Adab dan Akhlak terhadap Guru, Ahli, Senior:

1. Rendah hati dan hormat dalam bersikap kepada guru, ahli, dan senior.

2. Sopan dan ramah dalam berbicara kepada guru, ahli, dan senior.

3. Memahami kebiasaan, adat istiadat, tata krama, perilaku keseharian maupun tata cara pelatihan

guru, ahli, dan senior, serta berusaha menyesuaikan diri terhadap hal-hal tersebut.

4. Selama proses pelatihan, seorang pelajar harus menemui dan meminta nasihat pada para guru, ahli,

dan senior.

5. Secara teratur, ia harus menyaksikan bagaimana para pemanah kelas atas memanah tanpa turut

memanah juga dan berusaha keras untuk menyerap hal-hal baik dari apa yang ia lihat maupun dari

pembicaraan-pembicaraan mereka.

6. Seorang pelajar baru boleh bergabung dan memanah bersama dengan para ahli dan senior apabila

telah dianggap layak oleh mereka, setelah mereka melihat dan menilai tingkat kemahiran yang

ditunjukkannya.

Adab dan Akhlak terhadap Rekan sesama pemanah

1. Pada saat melakukan kegiatan memanah bersama-sama, pemanah tidak boleh terlalu sering melihat

pada rekannya.

2. Pada saat melakukan kegiatan memanah bersama-sama, pemanah tidak boleh mengganggu

rekannya.

3. Pada saat melakukan kegiatan memanah bersama-sama, pemanah tidak boleh mengalihkan perhatian

rekannya dengan cara apapun seperti mengajak berbicara atau semisalnya.

4. Tidak boleh mencela kesalahan-kesalahan rekannya atau menertawakannya, karena jika seseorang

melecehkan saudara sesama Muslim karena suatu kemalangan, maka hal yang sama akan berbalik

pada dirinya. Rasulullah   bersabda, “Janganlah kalian menyakiti kaum Muslimin dan janganlah

melecehkan mereka dan janganlah mencari-cari kesalahan-kesalahan mereka (HR At Tirmidzi).”

5. Pemanah, dan tentunya setiap Muslim dan Mukmin, harus lebih memperhatikan kesalahan dirinya

sendiri dibanding mencari-cari kesalahan-kesalahan orang lain.

6. Banyak memuji Allah serta tidak boleh dengki dan iri hati terhadap keberhasilan rekan sesama

pemanah.

7. Tidak boleh meremehkan keberhasilan pemanah lain dengan mengatakan, “Lumayan juga untuk

seorang yang bukan pemanah sejati!” atau, “Itu suatu kebetulan!” Perilaku seperti ini adalah perilaku

orang rendahan dan jahil yang tidak paham tentang kehidupan dan tidak mempunyai pengalaman

nyata dalam menangani sesama manusia maupun berbagai urusan lainnya.

 

Bahkan beliau meyakinkan bahwa kegiatan memanah sebagai salah satu sarana menegakkan adab dan akhlak yang mulai terkikis di zaman sekarang ini.

 

“Bahwa seni memanah, salah satu instrumen menegakkan adab dan akhlak di tengah peradaban zaman yg makin rapuh” tulisnya usai menginfokan turnamen The World Traditional Archery Festival, di Yecheon, Korea 13-16 Oktober 2017 tersebut. (KI)

 

 

Tinggalkan Balasan