Diary Guru

Gebyuran

“Ada tiga unsur yang menyebabkan terjadinya kebakaran, yakni material, udara, dan sumber api…” Kalimat di atas adalah cuplikan penjelasan dari UPT Pemadam Kebakaran Kabupaten Sleman ketika Taman Tahfidz Anak (TTA) Al Wahdah Yogyakarta berkunjung kesana. Materi tidak hanya disampaikan secara monoton, namun dengan sajian yang asyik dan menyenangkan. Acara yang diadakan pada Hari Kamis, 2 November 2017 ini diikuti oleh para santri dengan sangat antusias. Mereka tampil dengan percaya diri menjadi petugas pemadam kebakaran, memakai seragam dan segala perlengkapan yang disediakan. Agenda kunjungan ini semakin terasa menarik ketika beberapa ustadzah dan santri melakukan simulasi sederhana memadamkan api dengan karung goni basah. Namun, nampaknya para santri paling tertarik dengan acara simulasi pemadaman api besar atau “gebyuran” sebagai penutup kunjungan ini. Beginilah kami belajar, melalui kegiatan bermain yang menyenangkan. (Intan Kumalasari)

Diary Guru

Tabungan

Adalah tabiat seorang anak, bila melihat hal baru yang mereka anggap menarik, mereka pun penasaran untuk mengetahuinya. Hal itulah yang terjadi pagi itu. Mereka satu per satu datang menghampiriku sembari bertanya pertanyaan yang hampir seragam,  “apa itu?”, “Untuk apa?” Bagi seorang pendidik, menguasai bahan ajar adalah sesuatu yang penting. Bahkan hal tersebut sebagai sebuah kewajiban. Akan tetapi ada hal yang juga merupakan sesuatu yang sama pentingnya dari menguasai materi bahan ajar yaitu menguasai cara menyampaikan materi ajar. Yah, bagaimana cara bisa menyampaikan materi ajar dengan efektif dan tepat. Agar anak mampu memahami materi baru tersebut dengan baik. Tapi bukan pekerjaan yang mudah bagi pendidik mempraktikkan ilmu yang satu ini. Lebih-lebih bila peserta didik tersebut beragam dan masa kanak-kanak yang masih dalam proses tumbuh kembang. Alat indera mereka semuanya masih berproses tumbuh dan berkembang. Lidah misalnya, bagian organ mulut yang membantu memperjelas artikulasi pengucapan yang mereka miliki, belum terbentuk secara maksimal….

Diary Guru

Paduan Wadud dan Qowam

“nikahilah wanita yang al-wadud dan al-walud” Jangan ge-er gedhe rasa akan dibahas terkait pernikahan, persiapan dan detik-detik akadnya, deg-deg-an degup jantung, hingga malam pertama. Ketahuan kalau anda jomblo akut, istri melow, atau suami baper. Namun ijinkan sedikit kita membahas tentang parenting, konsep pendidikan anak, yang berarti selangkah lebih jauh daripada urusan pernikahan. Mari melangkah …   Konsep Islamic-Parenting sesungguhnya bermuara pada konsep Nabi/Rasul shallaLlahu ‘alaihi wasallam di dalam mendidik umatnya. Tarbiyah nabawiyah bersumber dari wahyu Ilahiyah akan pasti sukses diterapkan dalam lingkup keluarga kecil kita. Anda percaya? Bisa iya, bisa tidak.   Sejarah individu, masyarakat kecil, hingga peradaban besar pendahulu kita yang shalih telah membuktikannya. “Ketidakpercayaan” kita dengan segala tingkatnya atas konsep wahyu dan nubuwah itu tidak akan merubah tinta emas sejarah, bahwa telah lahir, terdidik dan mewujud generasi kuat nan shalih mengatur urusan bumi ini dengan keadilan dan kemakmuran. Jangan jadi generasi kuper, kurang perhatian atas sejarah besar pendahulunya….

Diary Guru

Firasat Pendidik

“Sungguh, aku melihat Allah telah menghidupkan cahaya di hatimu. Maka janganlah engkau memadamkannya dengan gelapnya maksiat”. Itu kalimat yang terlontar dari seorang pendidik kepada calon didikannya. Iya.. masih calon. Karena keduanya baru saja bertemu jasad. Meski baru saja bersua, sekilas sahaja, namun firasat indah sang pendidik menghenyak dengan keluarnya kalimat menyejarah itu. Sang calon murid barusaja duduk bersimpuh mengeluarkan hafalannya dihadapan sang guru. Lalu guru itupun “melihat cahaya” pada muridnya. Merekalah Imam Malik dan Imam Syafi’i rahimahullah sedang mempertontonkan adegan yang menyejarah indah. Pada lompatan kapasitas jauh tak sepadan. Antara mereka para imam dan kita ma’mum lagi awam hari ini, ditambah kemalasan dan kadang terselip kepongahan dari kita, khususnya saya. Maka hendaklah seorang pendidik bisa melihat cahaya pada peserta didiknya. Cahaya berkilau yang dibawa para didikan itu. Usaha carilah kilauan indah itu disebalik buramnya kepekaan hati kita, keruhnya jiwa kita. Bukankah setiap anak adalah bintang? Pernahkah kita menghardik ganas bak…

Diary Guru

Siapa Yang Belajar, Siapa Pula Yang Diajar

ustadz doaka(n) saya jadi hafizh Quran Makjleb. Seakan tertampar diri ini atas kiriman foto tersebut. Mukmin 1 adalah istilah yang digunakan untuk menyebut Kelas 1 di jenjang Madrasah Ibtidaiyah (sekolah dasar) di tempat kami. Jadi usia anak itu sekitar 7 tahun. Dengan gurat tulisan polosnya, ia mengungkapkan isi hatinya. Memang tahfizhul-qur’an menjadi salah satu elemen pokok kami didalam membersamai mendidik generasi. Dan tidak ada istilah “terlalu dini” untuk urusan Qur’an. Jika di ilmu lain boleh jadi ada pertimbangan umur dan psikologis, misal kapan berhitung diajarkan, kapan membaca, perkalian atau fisika. Namun untuk tahfizhul-qur’an, tidak ada istilah terlalu dini bagi kami. Bahkan sejak dalam kandungan pun, qur’an seharusnya sudah mulai diperkenalkan, bahkan mungkin sejak jauuh sebelum itu. Tinggal teknis masalah “caranya” saja yang perlu dipertimbangkan. Kembali ke foto tadi. Sungguh itu adalah buku kontrol tahfizh quran apa adanya. Tampak kumal, tapi justru itu penanda ia sering dipegang dan dipakai. Apakah Al-Qur’an…