Diary Guru

Paduan Wadud dan Qowam

“nikahilah wanita yang al-wadud dan al-walud” Jangan ge-er gedhe rasa akan dibahas terkait pernikahan, persiapan dan detik-detik akadnya, deg-deg-an degup jantung, hingga malam pertama. Ketahuan kalau anda jomblo akut, istri melow, atau suami baper. Namun ijinkan sedikit kita membahas tentang parenting, konsep pendidikan anak, yang berarti selangkah lebih jauh daripada urusan pernikahan. Mari melangkah …   Konsep Islamic-Parenting sesungguhnya bermuara pada konsep Nabi/Rasul shallaLlahu ‘alaihi wasallam di dalam mendidik umatnya. Tarbiyah nabawiyah bersumber dari wahyu Ilahiyah akan pasti sukses diterapkan dalam lingkup keluarga kecil kita. Anda percaya? Bisa iya, bisa tidak.   Sejarah individu, masyarakat kecil, hingga peradaban besar pendahulu kita yang shalih telah membuktikannya. “Ketidakpercayaan” kita dengan segala tingkatnya atas konsep wahyu dan nubuwah itu tidak akan merubah tinta emas sejarah, bahwa telah lahir, terdidik dan mewujud generasi kuat nan shalih mengatur urusan bumi ini dengan keadilan dan kemakmuran. Jangan jadi generasi kuper, kurang perhatian atas sejarah besar pendahulunya….

Diary Guru

Firasat Pendidik

“Sungguh, aku melihat Allah telah menghidupkan cahaya di hatimu. Maka janganlah engkau memadamkannya dengan gelapnya maksiat”. Itu kalimat yang terlontar dari seorang pendidik kepada calon didikannya. Iya.. masih calon. Karena keduanya baru saja bertemu jasad. Meski baru saja bersua, sekilas sahaja, namun firasat indah sang pendidik menghenyak dengan keluarnya kalimat menyejarah itu. Sang calon murid barusaja duduk bersimpuh mengeluarkan hafalannya dihadapan sang guru. Lalu guru itupun “melihat cahaya” pada muridnya. Merekalah Imam Malik dan Imam Syafi’i rahimahullah sedang mempertontonkan adegan yang menyejarah indah. Pada lompatan kapasitas jauh tak sepadan. Antara mereka para imam dan kita ma’mum lagi awam hari ini, ditambah kemalasan dan kadang terselip kepongahan dari kita, khususnya saya. Maka hendaklah seorang pendidik bisa melihat cahaya pada peserta didiknya. Cahaya berkilau yang dibawa para didikan itu. Usaha carilah kilauan indah itu disebalik buramnya kepekaan hati kita, keruhnya jiwa kita. Bukankah setiap anak adalah bintang? Pernahkah kita menghardik ganas bak…

Diary Guru

Siapa Yang Belajar, Siapa Pula Yang Diajar

ustadz doaka(n) saya jadi hafizh Quran Makjleb. Seakan tertampar diri ini atas kiriman foto tersebut. Mukmin 1 adalah istilah yang digunakan untuk menyebut Kelas 1 di jenjang Madrasah Ibtidaiyah (sekolah dasar) di tempat kami. Jadi usia anak itu sekitar 7 tahun. Dengan gurat tulisan polosnya, ia mengungkapkan isi hatinya. Memang tahfizhul-qur’an menjadi salah satu elemen pokok kami didalam membersamai mendidik generasi. Dan tidak ada istilah “terlalu dini” untuk urusan Qur’an. Jika di ilmu lain boleh jadi ada pertimbangan umur dan psikologis, misal kapan berhitung diajarkan, kapan membaca, perkalian atau fisika. Namun untuk tahfizhul-qur’an, tidak ada istilah terlalu dini bagi kami. Bahkan sejak dalam kandungan pun, qur’an seharusnya sudah mulai diperkenalkan, bahkan mungkin sejak jauuh sebelum itu. Tinggal teknis masalah “caranya” saja yang perlu dipertimbangkan. Kembali ke foto tadi. Sungguh itu adalah buku kontrol tahfizh quran apa adanya. Tampak kumal, tapi justru itu penanda ia sering dipegang dan dipakai. Apakah Al-Qur’an…

Diary Guru

Darimu, Aku Belajar Mengagungkan Allah

Termasuk sebuah karunia indah manakala ketika kita memiliki ilmu, kita mampu mengamalkan. Dan sebaliknya termasuk musibah bilamana kita sulit mengamalkan ilmu yang kita miliki, wal iyyadzu billah. Dan terkadang kemudahan mengamalkan itu, tentunya setelah taufik dari Allah, terkadang cara dan sarananya beragam. Bisa jadi karena buku bacaan yang kita baca, baik ketika awal kali membacanya maupun yang kesekian kalinya baca baru termotivasi untuk mengamalkan. Adapula melalui peristiwa yang kita alami maupun yang kita saksikan baru menggugah kita untuk beramal. Hal terakhir inilah yang terjadi pada diriku saat itu. Kejadian menurut orang umum biasa, tapi tidak bagi saya. Lantunan sayup-sayup suara dari anak-anak Taman Tahfidz Anak saat bermain di waktu Istirahat tersebut, terdengar indah menenangkan di telingaku, merasuk dalam ke relung hatiku. Kalimat thayyibah tersebut, tidak asing bagi saya, begitu pula tidak asing bagi manusia dewasa. Bahkan dari sisi kefasihan melafalkan dan pengetahuan keutamaannya pun, kita lebih baik dari mereka in…

Diary Guru

MANASIK

Siapa yg belum mampu berdiam-wukuf di Arafah suci, hendaklah ia berhenti pada batas hukum Allah yg telah ia mengerti. Dan siapa yg belum mampu bermalam-mabit di Muzdalifah, bermalamlah dengan ketaatan kepada Allah, agar akrab padaNya, dan dekat bermesra. Siapa yg belum kuasa menyembelih hewan Hadyu-nya di Mina, hendaklah ia sembelih hawa nafsunya agar dengannya sampainpada cita-cita. Dan siapa yg belum mampu sampai ke Baitullah bersebab jauhnya, hendaklah ia tuju Rabb-nya Ka’bah yg lebih dekat dari urat lehernya. (Lathaiful Ma’arif, dikutib dari Salim A Fillah) ♡ ambillah dariku, manasik-manasik kalian ♡ Bocah-bocah kecil itu antusias nan ceria. Mereka sedang melakukan simulasi manasik haji. Mereka adalah bocah murid sekolah wahdah, dari taman tahfizh-nya hingga madrasah ibtidaiyah. Dibersamai oleh almadinahtour dot com, dan didampingi ustadz ustadzah yang (mungkin) juga belum pernah ke tanah suci, Haramain Syarifain. Maka dari foto bocah murid itulah ada pesan yang mengayun melambai. Dari aktifitas penuh ceria kadang teriring…