Diary Guru

Gebyuran

“Ada tiga unsur yang menyebabkan terjadinya kebakaran, yakni material, udara, dan sumber api…” Kalimat di atas adalah cuplikan penjelasan dari UPT Pemadam Kebakaran Kabupaten Sleman ketika Taman Tahfidz Anak (TTA) Al Wahdah Yogyakarta berkunjung kesana. Materi tidak hanya disampaikan secara monoton, namun dengan sajian yang asyik dan menyenangkan. Acara yang diadakan pada Hari Kamis, 2 November 2017 ini diikuti oleh para santri dengan sangat antusias. Mereka tampil dengan percaya diri menjadi petugas pemadam kebakaran, memakai seragam dan segala perlengkapan yang disediakan. Agenda kunjungan ini semakin terasa menarik ketika beberapa ustadzah dan santri melakukan simulasi sederhana memadamkan api dengan karung goni basah. Namun, nampaknya para santri paling tertarik dengan acara simulasi pemadaman api besar atau “gebyuran” sebagai penutup kunjungan ini. Beginilah kami belajar, melalui kegiatan bermain yang menyenangkan. (Intan Kumalasari)

Diary Guru

Siapa Yang Belajar, Siapa Pula Yang Diajar

ustadz doaka(n) saya jadi hafizh Quran Makjleb. Seakan tertampar diri ini atas kiriman foto tersebut. Mukmin 1 adalah istilah yang digunakan untuk menyebut Kelas 1 di jenjang Madrasah Ibtidaiyah (sekolah dasar) di tempat kami. Jadi usia anak itu sekitar 7 tahun. Dengan gurat tulisan polosnya, ia mengungkapkan isi hatinya. Memang tahfizhul-qur’an menjadi salah satu elemen pokok kami didalam membersamai mendidik generasi. Dan tidak ada istilah “terlalu dini” untuk urusan Qur’an. Jika di ilmu lain boleh jadi ada pertimbangan umur dan psikologis, misal kapan berhitung diajarkan, kapan membaca, perkalian atau fisika. Namun untuk tahfizhul-qur’an, tidak ada istilah terlalu dini bagi kami. Bahkan sejak dalam kandungan pun, qur’an seharusnya sudah mulai diperkenalkan, bahkan mungkin sejak jauuh sebelum itu. Tinggal teknis masalah “caranya” saja yang perlu dipertimbangkan. Kembali ke foto tadi. Sungguh itu adalah buku kontrol tahfizh quran apa adanya. Tampak kumal, tapi justru itu penanda ia sering dipegang dan dipakai. Apakah Al-Qur’an…

Diary Guru

MANASIK

Siapa yg belum mampu berdiam-wukuf di Arafah suci, hendaklah ia berhenti pada batas hukum Allah yg telah ia mengerti. Dan siapa yg belum mampu bermalam-mabit di Muzdalifah, bermalamlah dengan ketaatan kepada Allah, agar akrab padaNya, dan dekat bermesra. Siapa yg belum kuasa menyembelih hewan Hadyu-nya di Mina, hendaklah ia sembelih hawa nafsunya agar dengannya sampainpada cita-cita. Dan siapa yg belum mampu sampai ke Baitullah bersebab jauhnya, hendaklah ia tuju Rabb-nya Ka’bah yg lebih dekat dari urat lehernya. (Lathaiful Ma’arif, dikutib dari Salim A Fillah) ♡ ambillah dariku, manasik-manasik kalian ♡ Bocah-bocah kecil itu antusias nan ceria. Mereka sedang melakukan simulasi manasik haji. Mereka adalah bocah murid sekolah wahdah, dari taman tahfizh-nya hingga madrasah ibtidaiyah. Dibersamai oleh almadinahtour dot com, dan didampingi ustadz ustadzah yang (mungkin) juga belum pernah ke tanah suci, Haramain Syarifain. Maka dari foto bocah murid itulah ada pesan yang mengayun melambai. Dari aktifitas penuh ceria kadang teriring…

Diary Guru

Kau Buka Pintu dengan Hati Empati

Sebenarnya kejadian ini tidak sekali dua kali terjadi. Hampir sebagian besar murid pernah melakukan hal ini. Dan hampir setiap guru pula bisa saya pastikan pernah merasakan hal serupa. Apa sih? Memang hal besar dan istimewa? Hal besar sih bukan, ia adalah sesuatu yang sederhana. Tapi kalau ditanya apakah hal itu istimewa? Bagi saya, akan saya katakan iya, sangat istimewa. Istimewa bukan karena ada manfaat yang saya rasakan saja, lebih dari itu. Perbuatannya itu sepertinya muncul dari hati, muncul karena empati. Sehingga penulis bisa rasakan hal itu sampai dihati, berbekas indah dihati. Coba bayangkan, masa anak-anak adalah masa bermain. Kalau lagi asyik bermain, biasanya lupa segalanya, lupa makan, lupa waktu, bahkan tak hiraukan lingkungan dan keadaan disekelilingnya. Nah, mulai terasa kan bagaimana kondisinya, bila mereka masih sempat melakukan hal ini, disaat mereka sedang asyik bermain, mereka sempat membantu membuka pintu gerbang sekolah, disaat guru datang, Ma sya Allah … Makasih ya…

Diary Guru

GERABAH MEMBAWA BERKAH

Kebon Ndeso, Ahad, 23 April 2017 Brosur lomba mewarnai gerabah sudah dibagikan kepada para santri TTA-MIA sejak beberapa pekan sebelum hari pelaksanaan, namun sampai mendekati hari H tidak terlihat minat yang antusias. Hanya Aisyah Siraj (TK A) yang terlihat antusias mendaftar. Dan pada akhirnya dari pihak sekolah baik TTA-MIA memutuskan memilih beberapa santri lagi untuk ikut serta meramaikan yaitu Luqman Hidayat (TK A, Muhammad, Nanda, dan Tsaqif dari MI kelas 1. Tiba harinya untuk lomba. Pukul 07.30 WIB,  para santri dengan didampingi orangtua beserta ustadzah Lukluk dan ustadz Amin berkumpul di sekolah. Kemudian  kami berangkat beriringan menuju arena outbond Kebon Ndeso jl Palagan km 9.   Sesampainya disana, kami mulai  mempersiapkan anak-anak dan memberi motivasi.   Jadwal perlombaan yang seharusnya dimulai pukul 08.00 ternyata baru dimulai pukul 09.00. Tiba waktunya lomba dimulai dan anak-anak mulai mewarnai dengan didampingi ustadz dan ustadzah. Anak-anak terlihat senang sekali mencampur aduk warna dengan kuasnya kemudian …