Dunia Anak

Tasbih Menguntai

Setiap muslim tak asing dengan yang namanya tasbih. Pastinya setiap hari dirinya senantiasa melafalkan kalimat agung dan mulia ini. Minimal kala ia berdiri menghadap Rabb nya, menjalankan kewajiban dari rukun Islam yaitu salat. Saat rukuk ia  melafalkan dengan penuh penghormatan yang tulus dan saat sujud menghinakan diri sekaligus meninggikan dalam mensucikannya, subhaana Rabbiyal Adziim (Maha Suci Allah Rab yang Maha Agung), Subhaana Rabbiyal A’laa (Maha Suci Allah Rabb yang Maha Tinggi) Namun terkadang dalam mentasbih Allah, dalam mensucikan Allah di luar salat, kita tertatih-tatih dalam menjaga nya. Selalu ada alasan untuk membenarkan ketidak berdayaan kita dalam kesungguhan memujinya, ada seribu alasan yang kita miliki guna menutup rapat kelemahan dalam memuji-Nya, Astaghfirullah. Namun bila kita sungguh-sungguh berkeingginan untuk itu. Pasti akan banyak cara dan banyak sarana dalam mentasbih diluar shalat, Sesibuk apapun kita. Karena ketika itu menjadi skala prioritas, maka akan melahirkan kesungguhan dalam mewujudkannya. Namun bagaimana kalau kita lagi kondisi…

Diary Guru

Jembatan Kemudahan

Termasuk rutinitas di Madarasah Ibtidaiyah Al Wahdah adalah melaksanakan shalat 5(lima) waktu. Bagi siswa laki-laki menunaikannya secara berjama’ah di masjid. Berhubung fasilitas masjid di madarasah belum ada, maka seluruh ustadz dan siswa mulai kelas 4 (empat) mengerjakannya di masjid yang ada di perkampungan warga sekitar sekolah. Secara jarak, antara madarasah dengan masjid warga memang tidaklah jauh, cukup bisa ditempuh dengan jalan kaki beberapa menit saja. Bahkan jika kita ingin lebih cepat sampai masjid, kita bisa mengakses jalan pintasnya, melalui jalan yang sebagiannya sempit dan melalui titian jembatan, itulah rutinitas warga sekolah dalam menunaikan kewajiban shalat dhuhur. Berjalannya waktu, akses jalan pintas tersebut, khususnya titian jembatan lambat laun mulai rapuh, bahkan sebagian bambunya rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Dari sinilah kisah menakjubkan penulis bermula. Kenapa? Karena ternyata yang memperbaiki jembatan itu adalah siswa-siswa MI Al Wahdah. Dengan arahan walikelas 5(lima) ustadz Rohmadi, M.Pd., jembatan tersebut kini berubah menjadi baru dan…

Dunia Anak

Mukhoyyam Perdana

Siswa kelas 4 MI Al Wahdah melakukan Mukhoyyam. Kegiatan yang umumnya lebih dikenal dengan nama kemah ini, di adakan selama 2 hari. Bertempat di sekolah Al Wahdah, kegiatan mulai dari sabtu, 12 Mei 2018 siang hari sampai Ahad, 13 Mei 2018 sore hari, jam 16.00 WIB. Selaku peserta kegiatan mukhoyyam adalah siswa kelas 4 MI dan siswa yang mengikuti ekstra pramuka sekolah. Seluruh siswa kelas 4 MI Al Wahdah yang berjumlah 10 siswa menjadi peserta utama ditambah 1 siswa kelas 3 MI Al Wahdah yaitu Ananda Luqman, sebagai perwakilan dari kelas 3 yang mengikuti kegiatan ektra pramuka. Total peserta berjumlah 11 anak. Adapun acara selama kegiatan mukhoyyam beragam, baik yang dilakukan di area sekolah maupun di luar area sekolah. Baik yang sifatnya masing-masing pribadi maupun yang sifatnya dilakukan secara tim atau berkelompok. Itu terlihat dari susunan acara kegiatan mukhoyyam tersebut. Ada kegiatan pendirian tenda, kegiatan pribadi persiapan sholat, tangkap ikan,…

Diary Guru

Siapa bilang anak PAUD itu hanya menyanyi dan tepuk-tepuk?

Di TTA Al Wahdah, selain menghafal juz amma, hadist, dan ayat tematik; kami diajari untuk mencintai lingkungan sejak dini, membuang sampah pada tempatnya, menolong diri sendiri dan orang lain yang tentunya selalu didampingi oleh para ustadzah yang senantiasa memberikan senyuman terbaik untuk kami. 🌻 Tidak akan kami biarkan satupun sampah berceceran. Kami anak yang beriman, dan bukankah menyingkirkan duri dari jalan merupakan salah satu cabang keimanan? Allah telah hamparkan bumi ini sebagai tempat bagi manusia untuk beribadah kepada-Nya, termasuk pula menjaga bumi-Nya. Teramat sedih melihat berbagai bencana yang melanda. Bisa jadi itu karena lalainya manusia yang menganggap remeh soalan membuang sampah. Bayangkan saja jika semua orang di muka bumi ini memiliki pemikiran yang sama. Satu orang membuang satu bungkus plastik di jalan setiap harinya, dikali seluruh jumlah manusia. Ah, kami tak bisa membayangkan seberapa besar tumpukan sampah yang dibuatnya; yang lantas menyumbat jalan-jalan air hingga meluaplah ia. Apa masih pantas…

Diary Guru

Sejuta tanyamu Anugerah Bagiku

“Ustadzah, aku mewarnai gambar ustadzah” “Ustadzah, aku suka bilang asssalamualaikum kalau ketemu Ustadzah” “Ustadzah, bunganya harum ciptaan Allah?” “Ustadzah, bunga putri malunya nggak ada ibunya” Sedikit dari sekian banyak celoteh para calon hafidz dan hafidzah ketika kami melaksanakan kegiatan di luar sekolah hari ini, Rabu, 10 Januari 2018. Beragam pertanyaan dan pernyataan yang dilontarkan terkadang membuat ustadzah harus “berpikir keras”, tapi tidak mengapa. Adalah kebahagiaan bagi kami. Semoga Allah berkahi aktivitas kalian dan menjadi tabungan amal kedua orang tua kalian ya calon penolong agama Allah (ustadzah Intan Kumalasari S.Hut)