Diary Guru

Firasat Pendidik

“Sungguh, aku melihat Allah telah menghidupkan cahaya di hatimu. Maka janganlah engkau memadamkannya dengan gelapnya maksiat”.

Itu kalimat yang terlontar dari seorang pendidik kepada calon didikannya. Iya.. masih calon. Karena keduanya baru saja bertemu jasad. Meski baru saja bersua, sekilas sahaja, namun firasat indah sang pendidik menghenyak dengan keluarnya kalimat menyejarah itu.

Sang calon murid barusaja duduk bersimpuh mengeluarkan hafalannya dihadapan sang guru. Lalu guru itupun “melihat cahaya” pada muridnya. Merekalah Imam Malik dan Imam Syafi’i rahimahullah sedang mempertontonkan adegan yang menyejarah indah.

Pada lompatan kapasitas jauh tak sepadan. Antara mereka para imam dan kita ma’mum lagi awam hari ini, ditambah kemalasan dan kadang terselip kepongahan dari kita, khususnya saya. Maka hendaklah seorang pendidik bisa melihat cahaya pada peserta didiknya. Cahaya berkilau yang dibawa para didikan itu. Usaha carilah kilauan indah itu disebalik buramnya kepekaan hati kita, keruhnya jiwa kita. Bukankah setiap anak adalah bintang?

Pernahkah kita menghardik ganas bak harimau terluka pada anak kita, pada didikan kita, hanya gegara ia memecahkan gelas yg mungkin tak sengaja, padahal hati jiwanya yang pecah akibat bentakan kita. Atau merusak mainannya yang muahal hasil jerih payah banting tulang kita, padahal ia sedang memuaskan hasrat ingin taunya, kemampuan explore, sementara jiwa hatinya terlanjur layu akibat hardikan kita. Atau fragmen-fragmen kecil lainnya saat didik-mendidik, insiden-insiden kecil lainnya saat ajar-mengajar. Kita reaksikan dengan murka, bengis, amarah “keguruan” padahal berasal dari kebodohan kita. Menciutlah mereka, mengkerdillah mereka.

Terkadang bintang masa depan itu meredup padam atas kenegatifan sikap dari pendidiknya. Ketidakikhlasan pendidik, kedengkian, keegoisan, berbungkus rasa superior senioritas, neo-feodal, jumawa gaya baru yang terselip pilu dari pendidik atas peserta didiknya. Atau mungkin juga ketidaktahuan, ketidakmampuan alami dari pendidik karena abai upgrade diri, lena tuk terus berbekal menjadi pendidik yang lebih baik. Lupa menjernihkan hati kita. Merekapun layu sebelum berkembang, meredup padam sebelum bersinar.

Ah.. itulah yang terisaukan. Redupnya firasat pendidik. Tertutup kabut model pendidikan transaksional, kelamnya tuntutan sistem hedonis pengajaran, buramnya materialistis-centris dunia ajar.

Ah.. itu hanyalah kerisauan lebay dari seorang yang terdelay penerbangannya pagi ini, yang mencoba memfirasati keterdudukannya di bangku tunggu. Semoga masa depan pendidikan anak-anak kita, generasi penerus kita, pendidik dan didikan, tidaklah sehoror tiga paragraf sebelumnya. Sepenuh harap. Sepenuh ikhtiyar.

Narasi ini ditulis dari sudut pandang sang pendidik. Disana ada firasat dari peserta didik yang tak kalah indahnya. Pelajaran mulia. Saat firasat pendidik memadu dengan didikannya, berpilin naik meninggi, mengetuk pintu-pintu langit, menghiba buka keberkahan dari Rabb-nya. Murabbi bersama mutarabbi. Berfirasat bercahaya.

○ ○ ○

Imam Malik rahimahullah berkata: “Sungguh, aku melihat Allah telah menghidupkan cahaya di hatimu. Maka janganlah engkau memadamkannya dengan gelapnya maksiat.” [ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, Ibnul Qayyim ]

muhammad agung

 

Tinggalkan Balasan