Serial Prophetic Parenting #1
@agung_bramantya

Familylovers.., mewujudkan generasi shalih dan shalihah itu dimulai jauh sebelum bakal janin itu terwujud. Ada doa yang menembus batas generasi melintasi ruang dan waktu. Ada konsep cinta dan tauhidi yang terteladani. Saat dakwah tertolak, saat raga tersakiti, sementara kuasa membalas diujung lisan tinggal perintah.

Melalui penuturan ulang ibunda Aisyah RA, fragmen sempurna itu tertuliskan apik dalam shahih Bukhari dan Muslim. “Apakah pernah datang kepadamu suatu hari yang lebih berat dibandingkan dengan saat perang Uhud?”.

Beliau menjawab : “Aku telah mengalami penderitaan dari kaummu. Penderitaan paling berat yang aku rasakan, yaitu saat ‘Aqabah, saat aku menawarkan diri kepada Ibnu ‘Abdi Yalîl bin Abdi Kulal, tetapi ia tidak memenuhi permintaanku. Aku pun pergi dengan wajah bersedih. Aku tidak menyadari diri kecuali ketika di Qarnust-Tsa’âlib, lalu aku angkat kepalaku. Tiba-tiba aku berada di bawah awan yang sedang menaungiku. Aku perhatikan awan itu, ternyata ada Malaikat Jibril, lalu ia memanggilku dan berseru: ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah Azza wa Jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka’. Malaikat (penjaga) gunung memanggilku, mengucapkan salam lalu berkata: ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain’.”.

Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua”.

Sahabat,
Jauh sebelum idealisme menghadirkan generasi shalih mewujud, jauh sebelum kerja-kerja keras mendidik. Maka disana ada doa yang harus senantiasa kita rapal, jauuh… sebelum janin dan bahkan generasi itu ada.

Awas, jangan meremehkan urusan doa ini. “ah, itukan hanya doa di lisan saja”. Eitss… jangan salah, akibatnya bisa panjang. Harapan yang menembus batas.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *