Bagi seorang muslim meyakini bahwa setelah kehidupan dunia, ada kehidupan ahirat. Dan kehidupan ahirat adalah kehidupan yang panjang dan kekal. Sehingga orientasi berfikir dan bersikap ideal harus mengakomodir kedua hal tersebut. Lalai bagi seorang muslim bukan semata yang bermalas-malasan dan menghamburkan waktu tanpa kegiatan. Namun lalai juga berlaku bagi manusia yang melakukan aktifitas dunia namun tanpa diniatkan untuk kepentingan ahirat, walaupun ia beraktifitas seharian penuh, tetap saja terkategori lalai. Apalagi kalau tidak didasari iman kepada Allah Subhaana wata’ala, lalai sekaligus merugi.

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ﴿٢﴾إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Artinya : “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (Q.S. Al ‘Ashr : 2-3)

Dua hal yang melalaikan

Sekali lagi, sesuatu dikatakan melalaikan manakala tidak diniatkan atau dibarengi dengan asas manfaat ahirat. Baik itu hal yang tidak disukai seperti sakit, lelah dan letih, bila tidak membantu mengingatkan kepada Allah maka termasuk merugi. Pun demikian dengan kenikmatan. Walaupun ia sesuatu yang menyenangkan, tetap saja jika tidak menambah mengingat Allah maka ia adalah melalaikan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Maka manfaatkan sebaik mungkin jika berada dalam kedua kondisi tersebut, agar kelak tidak menyesal yang tidak berkesudahan.  Memanfaatkan waktu tersebut bisa dengan melakukan amal-amal shalih yang diperintahkan Allah Ta’ala sehingga menambah perbendaraan harta maupun bisa dengan meninggalkan larangan-laranganNya.

قَدۡ خَسِرَ ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِلِقَاۤءِ ٱللَّهِۖ حَتَّىٰۤ إِذَا جَاۤءَتۡهُمُ ٱلسَّاعَةُ بَغۡتَة قَالُوا۟ یَـٰحَسۡرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطۡنَا فِیهَا وَهُمۡ یَحۡمِلُونَ أَوۡزَارَهُمۡ عَلَىٰ ظُهُورِهِمۡۚ أَلَا سَاۤءَ مَا یَزِرُونَ

Artinya : “Sungguh rugi orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah; sehingga apabila Kiamat datang kepada mereka secara tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang Kiamat itu,” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu.” (Q.S Al-An’am : 31)

Kelalaian muncul itu bukan berarti orang yang tidak paham terhadap sesuatu. Sejatinya ia tau, paham dan mengerti. Namun kurangnya perhatian dan keseriusanlah membuat ia menomorduakannya, sehingga lambat laun ia pun lupa dan lalai.

So, agar kita tidak lalai, langkah awal seriuslah terhadap sesuatu, prioritaskan ia. Dan sebaik-baik sesuatu yang pantas dijadikan prioritas adalah membaca dan menghafal al Quran, karena ia selalu menjadi huda (pembimbing) kita saat kita lupa dan lalai. Mari … buktikan!


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *