Diary Guru

Kilau Imanmu

Karakter setiap peserta didik beragam. Prilaku siswa satu dengan yang lainnya berbeda. Ada yang menonjol dikomunikasinya, ada yang berlebih aktifitas olah fisiknya. Itu adalah sesuatu yang lumrah dan wajar. Tugas guru bagaimana menumbuhkan atau merekayasa kurikulum guna melejitkan potensi baik setiap siswa. Terkadang upaya untuk itu membutuhkan kejelian memantau atau menggunakan media atau momentum yang tepat. Bahkan lingkungan sekolah dan segala kondisi yang ada bisa sebagai bahan pembelajaran yang apik, natural dan efektif mengesankan.

Begitulah apa yang terjadi di sekolah kami, madarasah Al Wahdah. Sosok ananda yang lebih sering terpantau diamnya dari komunikasinya, siang itu memukau kami. Kala kondisi sekolah yang lagi masa perbaikan halaman sekolah dengan proses pemasangan konblok, tentunya banyak hal yang terlihat belum nyaman. Pasir berserak ke semua penjuru arah, sesekali mengepulkan debu yang menggangu pemandangan dan udara. Begitu juga, tak sedikit bongkahan batu kecil yang tercecer dibeberapa titik area halaman sekolah, terkadang mengusik kaki yang menapakinya. Sesiapapun yang menyaksikan pasti sepakat kondisi madarasah kami saat ini belum nyaman untuk pembelajaran.

Yah, memang tidak salah dengan asumsi tersebut. Dengannya sekolah terus berikhtiyar dan berusaha untuk melakukan perbaikan-perbaikan guna menghadirkan sekolah yang nyaman dan mendukung pembelajaran.

Tapi siang itu, tepatnya sebakda pembelajaran sekolah, masa penantian penjemputan, siswa yang duduk di mukmin 2 itu memukau penulis dengan prilakunya. Dengan bermodal ember hitam, ia gunakan untuk mengangkut bongkahan-bongkahan batu kecil terserak di halaman itu. Ia kumpulkan, kemudian dengan langkah tertatih-tatih menahan beban, ananda menuju tempat pembuangan, yang mana lokasinya adalah sebagian ruang yang para guru tempati. Terpantau oleh penulis ananda melakukannya lebih dari 1(satu) kali. Saat mendapat sapa dan ucapan pujian, ananda pun tak merespon dengan sepatah kata, lebih memilih melanjutkan menuntaskan aktifitasnya yang mengilau tersebut.

Duh, begitu tersilau bahagia hati ini, seraya teringat sabda Agung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘laa ilaha illallah’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu merupakan bagian dari iman.” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35).

Semoga aktifitasmu tergerak berdasar iman, menyingkirkan bongkahan-bongkahan batu kecil di area halaman agar tidak menganggu pengguna halaman sekolah, Baarokallahu fiikum Ananda Imran. (KI)

 

Tinggalkan Balasan