Dunia Orang Tua

Medrese, Mekteb, Tekke

Dalam tulisannya, Badiuzzaman Said Nursi meminta kepada Sultan agar memperhatikan pendidikan kawasan Anantolia bagian Timur. Said Nursi juga menyampaikan gagasan reformasi pendidikan. Inti dari reformasi pendidikan yang disampaikan oleh Said Nursi ada pada penyatuan tiga pilar pendidikan yang cocok bagi warga Turki Ustmani, yaitu MEDRESE sebagai pilar pendidikan agama, MEKTEB sebagai pilar pendidikan umum, dan TEKKE sebagai lembaga sufi (tazkiyatun nufus -red) yang menjadi pilar penyucian ruhani

Itulah sepenggal ide besar seorang Badiuzzaman Said Nursi, dalam koran Sark ve Kurdistan Gazetesi atau Surat Kabar Kurdistan dan Timur, setelah upaya sebelumnya menemui jalan buntu (menulis surat langsung, menghubungi orang-orang terdekat Sultan, hingga berdialog dengan Menteri Pendidikan saat itu). Demikianlah yang dikutip dalam Buku Api Tauhid.

 

Ide Besar yang sederhana, namun memerlukan energi besar dan jalan panjang berliku penuh tantangan untuk mewujudkannya. Menyatukan, atau istilah lain “men-sinergi-kan” tiga elemen penting manusia dalam institusi pendidikan yang mencakup fungsi: medrese, mekteb, dan tekke. Sejalan dengan konsep Islamisasi Ilmu dan Pengetahuan dengan memberikan perhatian khusus pada tazkiyatun nufus, yang akan mampu menyingkap potensi paling tinggi dari seorang manusia atas izin dan kehendak Rabb-nya.

 

Khasanah Islam tidaklah susah mencari sosok riil yang menghimpun ketiga elemen tersebut pada satu pribadi: shalih, cerdas/pintar, berhati bersih. Iya satu pribadi, dan itu menjelma pada setiap generasi Islam yang tertata syariat. Coba tengok generasi sahabat (yang menyertai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam), engkau akan menjumpai jumlah yang sangat banyak. Beralih ke tabi’in (muridnya sahabat), kemudian tabi’ut tabi’in (muridnya tabi’in), terus ke abad kedua hijriyah, ketiga, keempat, … , kesepuluh, bahkan abad ketiga belas menjelang empatbelas hijriyah selalu tampil sosok yang shalih, cerdas, nan bersih hati (ini bukan klaim sepihak, namun kenyataan yang tersemat dari masyarakat untuk pribadi-pribadi tersebut). Badiuzzaman Said Nursi salah satunya, setelah berderet panjang nama-nama indah para pendahulunya yang shalih, yang tak mampu tersebutkan di tulisan pendek ini, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Abbas, hingga Syafi’i, Al-Bukhariy. Lalu bandingkan sosoknya dengan Barat, adakah yang mampu menghimpun ketiganya? Kebanyakan hanya cerdas dan jenius saja, namun tak sedikit yang bermoral buruk, anti-sosial, tak terhitung yang nyeleneh, mabuk dan zina hal yang biasa bagi ilmuwannya, beberapanya psikopat, serta kehidupan pribadi yang ganjil lainnya. Silakan membaca sejarah dan biografinya. Bahkan saking bingungnya lalu dimunculkan tokoh fiksi semisal Superman, Superwoman dan Superhero lainnya untuk menggambarkan ilusi manusia sempurna versi mereka. Bandingkan dengan sosok Islam.

Maka konsep medrese, mekteb, tekke, kok serasa cocok juga untuk masyarakat saya, yang kini (meski sudah lama) mulai muncul tren yang serupa. Semoga ada usaha-usaha riil dan serius ke arah sana. Kami pun terus mengusahakan, walau setipis kulit ari. Mari bersama… (MAB)

Tinggalkan Balasan