Diary Guru

Mendidik Sejatinya Memudahkan

Manusia, siapapun ia, tidak bisa lepas dari sosok sang pendidik. Tengoklah bayi merah yang baru lahir, bisa apa ia? Lalu tengoklah kita masing-masing hari ini, bisa apa kita? Suatu fakta tak terpungkiri bedanya kita saat lahir dan kita hari ini. Pertanyaannya adalah: apakah semua itu kita tempuh secara otodidak?

Sungguh naif jika kita berkembang hingga hari ini tanpa sosok pengajar. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, GURU sebagai kata benda merupakan orang yang pekerjaannya (mata pencaharian, profesinya) mengajar. Jadi mereka, lebih dari satu orang pastinya, yang mengajarkan kepada kita segala hal adalah guru-guru kita. Tidak sedikit guru utama dan pertamanya adalah orang-tuanya sendiri.

Mengajar, mendidik sejatinya mempermudah segala hal. Bagi seorang tak berilmu, tak terdidik, susahlah segala sesuatunya, rumit, njlimet, pokoknya pelik. Saya tidak tau gimana ceritanya ketukan saya pada layar hp ini lalu berubah jadi teks.. lalu bisa dikirim ke media online seperti WA dan lainnya, setau saya pokoknya rumit, bahkan ajaib, serupa magic. Beda dengan yang mengetahui ilmunya.

Maka berilmu itu sejatinya memudahkan. Memudahkan bahkan hingga pernak pernik kecil dalam kehidupan pribadi kita. Tak terbayang apa jadinya kita tanpa guru, tanpa pendidik, tanpa pengajar.

Lebih tak terbayangkan lagi jika guru tak bisa digugu (dipercaya) dan tak bisa ditiru, pendidik tak bisa mendidik, pengajar tak bisa mengajar, mempersusah bukan mempermudah.

Maka mendidik sejatinya memudahkan. Ajaibnya pendidik dalam bahasa arab mu’alliman, sedang memudahkan adalah muyassiran. Mu’alliman Muyassiran termaktub dalam sabda mulia shalallahu ‘alaihi wa sallam:

Allah tidak mengutusku sebagai orang yang kaku dan keras akan tetapi mengutusku sebagai seorang pendidik dan mempermudah (HR. Muslim)

Ah.. saya jadi teringat para guru, murabbi saya. Wajah dan sosok beliau-beliau berkelebat menari-nari dalam benak memori. Bagaimana keadaan beliau kini?Didikan mereka sambung menyambung sejak awal saya masuk alam pendidikan. Pengajaran mereka untai menguntai sejak awal saya masuk alam pengajaran. Susun menyusun menjadi bangunan saya hari ini. Tak lupa Ayah dan Ibu. Tanpamu, apalah jadinya aku, seba’da taufik dari Allah Ta’ala.

Agung Bramantya, pembelajar abadi

Tinggalkan Balasan