Dunia Anak

MENGIKAT HATI ANAK, SEBELUM MENUNDUKKAN PIKIRANNYA

serial parenting

 

Penulis : Agung_Bramantya

 

at-ta’lif qobla ta’rif, at-ta’rif qobla taklif

“Wahai anakku.. ya.. bunayya..”, demikianlah Kekasih Allah itu membuka percakapan pada ananda terkasihnya, kemudian beliau melanjutkan: “Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu”. Jleb, sampai disini perasaan saya tercekat, saya sekarang juga terkaruniai anak lelaki, angan saya sebagai seorang ayah membuncah.. ahh.. Gambaran dialog ayah dan anak itu menghiasi pelupuk mata yang mulai berkaca-kaca. Akhirnya beliau menutup kalimat mulianya dengan: “Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!”

Belum habis ketakjuban tadabbur hati ini, jawaban sang-anak pun juga lebih dasyat, petjah banget luapan keimanannya: “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” Tess…tess… ibarat kisah di negeri dongeng tentang ketaatan hamba kepada Tuhannya, berbalut kebaktian sang-anak kepada sang-ayah. Namun itu bukan fiksi, bukan pula fatamorgana, tapi nyata termaktub dalam kitab suci dan lembaran sejarah fakta, terabadi di dalam Al-Qur’an Surat As-Saaffat, Ayat 102.

 

Maka hari ini, menjelang Idul Adha, ritual pengorbanan ayah dan anak itu menyejarah abadi. Namun yang menjadi mutiara hikmah yang berkilau adalah: bagaimana sang-ayah berhasil mendidik sang-anak menjadi pribadi shalih menawan sedemikian taatnya? Sementara kita hari ini belepotan tertatih-tatih mendidik anak kita untuk taat kepada kita ortunya. Sekedar menyuruh mengembalikan mainan ke tempatnya saja.. kita sudah heboh luar biasa. Belum lagi menyuruh taat untuk disembelih, gak kebayang dah.

 

Maka hari ini kita sadar, betapa butuhnya kita mengetahui dan mempraktikkan “parenting nabawiyah”. Tak hanya para Nabi sebagai sosok qudwah teladan dalam beragama dan menyebarkan risalah mulia, namun juga dalam mendidik keluarga dan generasi penerusnya, baik yang tersambung secara nasab, maupun karena ikatan keimanan dan kemanusiaan.

 

Ketika ketaatan anak melampaui akal dan logikanya, maka ketahuilah bahwa bahasa hati dan iman itulah yang menggerakkannya. Hati yang sudah tunduk terikat, ibarat Panglima dimana organ tubuh yang lain adalah pasukannya. Perhatikan kelakuan para fans berat yang sudah terikat tunduk hatinya pada sang idola, maka apapun ia rela korbankan untuk idola tersebut. Taatnya melampaui logikanya.

 

Maka bagaimanakah mengikat hati anak, sebelum menundukkan pikirannya menjadi kunci. Setelah kunci sebelumnya adalah ketulusan, keikhlasan, dan rintihan doa paling syahdu. Demikianlah tergambar dua ayat sebelumnya, yaitu di ayat 100: “Ya Rabbi, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang shalih.”

 

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

 

Panggilan sayang tanpa syarat tergambar dari panggilan: Ya..Bunayya.. Panggilan itulah yang juga terucap dari lisan Nuh ‘Alaihissalam pada anaknya yang tak mau ikut perahu kenabian “Ya..Bunayya.. mari naik ke perahu bersama kami (bersama ayah)”. Bahkan kita memanggil sayangpun kadang pilih kasih, saat anak taat panggil sayang, saat anak berontak panggil kasar apalagi penuh umpatan. Kalah kita sama Sales yang selalu bermuka cerah dan memanggil hormat, bahkan kepada yang tidak membeli sekalipun, hehehe. Sosok ayah yang tulus menjalankan peran keayahannya. Sosok ibu yang tulus menjalankan peran keibuannya akan menjadi resep tangguh mengikat hati anak. Dan berbagai tips tips lain dari pendahulu yang shalih.

 

Maka benarlah kaidah bijak

at-ta’lif qobla ta’rif, at-ta’rif qobla taklif mengikat hati sebelum menjelaskan ilmu, menjelaskan ilmu sebelum memberikan beban (perintah atau larangan)

 

Bersambung, insyaAllah

Tinggalkan Balasan