Dunia Orang Tua

MUASAL HIJRIYAH

Langit Mekkah sudah mulai kelam. Denyut peradaban seputar Ka’bah memelan. Namun sesosok pria limapuluh satu tahunan masih sigap keluar masuk ke tenda-tenda kemah bersama dua sahabat setianya. Menawarkan satu kalimat: laa ilaaha illaLLaah

Seruan itu tertanggapi beragam, namun masih senyap, seiring semilir angin malam gurun pasir yang menusuk tulang. Namun sesosok pria bersama dua sahabatnya itu tak ambil peduli terus mendakwahkan. Hingga tertangkap sayup cakap sekumpulan pemuda dari tanah yang kelak dijanjikan. Jumlahnya enam, merekalah enam pemuda dari daerah Yatsrib. Maka malam itu menjadi saksi, halaqah sesosok pria bersama dua sahabatnya, bersama enam pemuda, menguraikan risalah langit, syariat Rabbul ‘alamin, agama sempurna. Itulah halaqah yang menyejarah.

 

Iman mulai tertanam pada enam pemuda. Lalu mereka menyebarkan seruan iman itu kepada masyarakatnya. Maka tepat setahun kemudian jadilah dari enam itu tigabelas (satu orang ijin tidak hadir) bertemu kembali dengan sesosok pria limapuluh dua tahunan di sekitar Ka’bah pada musim haji, itulah baiat aqabah pertama. Prosentase keberhasilan dakwah lebih dari 100%. Itulah halaqah pertemuan yang menyejarah.

 

Setahun berikutnya dari tigabelas menjadi tujuhpuluh lima atau sembilan, termasuk wanitanya. Bertemu kembali dengan sesosok pria yang sama, tempat yang sama, musim yang sama. Prosentase lebih dari 500%. Itulah baiat aqabah kedua. Itulah halaqah gabungan yang menyejarah.

 

Maka bulatlah tekad sesosok pria yang kini berusia limapuluh tiga tahunan untuk hijrah berpindah. Seiring dengan izin Rabb-nya tekad nan bulat itu benar-benar menjadi amal nyata, hijrah berpindah dari kampung halaman menuju tempat yang dijanjikan, Yatsrib, atau kini dikenal Madinah Al-Munawwarah.

 

Episode hijrah itu sangat menyejarah, sangat berkesan, sangat dalam tertulis tinta emas jauh dilubuk hati umat beriman. Maka atas hikmah dan makna yang dalam itulah. Ia dijadikan patokan dalam penanggalan kalender umat yang akan terus dipakai hingga akhir zaman. Itulah TAHUN HIJRIYAH.

 

Enam pemuda Yatsrib itu adalah:

  1. As’ad bin Zurarah dari Bani Najjar.
  2. Auf bin al-Harits bin Rifa’ah, Ibnu ‘Afra dari Bani Najjar.
  3. Rafi’ bin Malik bin ‘Ajlan dari Zuraiq.
  4. Quthbah bin Amir bin Hadidah dari Bani Salamah.
  5. Uqbah bin Amir bin Nabi dari Bani Haram bin Ka’ab.
  6. Jabir bin ‘Abdullah bin Ri’ab.

 

Sesosok pria limapuluh satu tahunan itu adalah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bersama dua sahabatnya dari dua generasi: Abu Bakar dan Ali, radhiyallahu ‘anhum.

 

Tinta sejarah, pemaknaan, perenungan, penggalian hikmah atas peristiwa hijrah dan serangkaian fragmen-fragmen sebelum, saat, dan setelahnya tiada pernah habis.

 

Duhai kiranya, apakah lagi yang bisa kita reguk bersama di momen hijrah, penanda tahun hijriyah, tersepakati 1 Muharram?

 

Selamat merenung hikmah.. berbuah amal jariyah.. semoga bertemu di Jannah.

 

Note: peristiwa hijrah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dari Mekkah ke Madinah terjadi pada bulan rabi’ul awwal, tepatnya beliau memasuki kota Madinah pada hari Jumat, 12 rabi’ul awwal (ar-Rahiq al-Makhtum, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri). Namun tahun saat terjadi hijrah tsb dijadikan patokan mulai sebagai tahun 1 Hijriyah. Dan kini kita telah memasuki tahun 1439 Hijriyah.

 

-bramantya-

Tinggalkan Balasan