Diary Guru

Paduan Wadud dan Qowam

“nikahilah wanita yang al-wadud dan al-walud

Jangan ge-er gedhe rasa akan dibahas terkait pernikahan, persiapan dan detik-detik akadnya, deg-deg-an degup jantung, hingga malam pertama. Ketahuan kalau anda jomblo akut, istri melow, atau suami baper. Namun ijinkan sedikit kita membahas tentang parenting, konsep pendidikan anak, yang berarti selangkah lebih jauh daripada urusan pernikahan. Mari melangkah …

 

Konsep Islamic-Parenting sesungguhnya bermuara pada konsep Nabi/Rasul shallaLlahu ‘alaihi wasallam di dalam mendidik umatnya. Tarbiyah nabawiyah bersumber dari wahyu Ilahiyah akan pasti sukses diterapkan dalam lingkup keluarga kecil kita. Anda percaya? Bisa iya, bisa tidak.

 

Sejarah individu, masyarakat kecil, hingga peradaban besar pendahulu kita yang shalih telah membuktikannya. “Ketidakpercayaan” kita dengan segala tingkatnya atas konsep wahyu dan nubuwah itu tidak akan merubah tinta emas sejarah, bahwa telah lahir, terdidik dan mewujud generasi kuat nan shalih mengatur urusan bumi ini dengan keadilan dan kemakmuran. Jangan jadi generasi kuper, kurang perhatian atas sejarah besar pendahulunya.

 

Cara Nabi shallaLlahu ‘alaihi wasallam mendidik umatnya adalah dengan: BASYIIRAN dan NADHIIRAN, kabar gembira dan peringatan. Segala bentuk kemudahan, kelembutan, kenyamanan, kasih-sayang, kerahmatan, fleksibilitas, dipadu-padankan dengan pagar pembatas yang paten, hukuman bila terlanggar, peringatan tegas. Maka dalam tempo singkat, sekitar 23 tahun, berbondonglah ramai manusia mendekapnya. Enam atau tujuh lingkup negara hari ini, tuntas tunduk pada syariat Rabbul ‘alamin hari itu. Lalu dilanjutkan dengan para khalifah shahabatnya, hingga sepertiga bumi, merunduk padanya, dengan berita gembira dan peringatan.

 

“dan tidaklah kamu diutus melainkan untuk menyampaikan kabar gembira dan pemberi peringatan”

 

Maka keluarga kecil kita: ayah – ibu – anak seyogyanya mempraktikkan konsep itu. Peran utama BASYIIRAN, menyamankan, membuat selalu ingin dekat, menyenangkan, mengkasihi para anak didominankan oleh IBU. Peran utama NADHIIRAN, menegakkan aturan, mengokohkan pagar, menyajikan ketegasan, menunjukkan keberanian, dengan tetap mengikhlaskan niat, didominankan oleh AYAH. Bukan porsi yang saklek, namun jangan tertukar dominasinya.

 

Maka wadud berasal dari kata al-wudda yang kemudian bisa bertansformasi menjadi mawaddah dan wadud. Mawaddah mewujudkan kasih sayang yang membuat terus ingin mendekat, nempel. Istri sibuk di dapur, suami mendekat colek-colek. Suami baru sibuk bekerja di rumah, istri sentuh-sentuh sambil bersandar di bahunya walau hanya sekejap. Bergandeng tangan, dll. Wadud mewujud pada kasih sayang bagi anak. Anak akan merasa nyaman terkasihi, hingga ia ingin selalu nempel dengan ibunya. Ibu yang senantiasa dirindukan. Sejauh apapun anak pergi keluar, ada sosok ibu yang selalu dirindukan. Bahkan kerasnya dunia luar bagi sang anak, membuatnya ingin selalu kembali pulang. Kembali kepada dekapan ibu, kembali pada rasa wadudnya ibu.

 

Sementara NADHIIRAN dalam konteks kepengasuhan, ada penjelasan apiknya dalam firman ‘Azza wa Jalla:

 

ar-rijaalu qowwamuuna ‘alan-nisa

 

Keharusan lelaki punya sifat QOWWAM. Dalam konteks kepengasuhan, ayah harus bisa memimpin dan menegakkan aturan. Belajarlah untuk bisa “nak, jangan begini”, “nak, kamu harusnya begitu”. Penegakan aturan yang tegas dan konsisten, aturan kebaikan tentusaja, berdasar indahnya syariat Rabbul ‘alamin. Hingga membekas, terpatri kuat pada sang anak. Ketika ia terpapar godaan saat kritis misal:

 

“Yuk cobain ngerokok”. Enggak ah, kata ayah saya.. bla.. bla.. bla.

“Sekalii aja..”. Enggak ah, kata ayah saya.. bla.. bla.. bla.

“Kamu gak jantan..”. Enggak ah, kata ayah saya coba baca tulisan di bungkus rokok itu.

“Ah gak asik lu, ntar kayak bencong lho..”.

Enggak ah, kata ayah saya justru bencong itu yg ngerokok.. coba liat sana.

 

Ayah..ayah..ayah.. yang kan selalu teringang pada anak. Sebagaimana Yusuf ‘alaihis salam yg terselamatkan.. saat syahwat hendak memuncak “andai ia tidak melihat tanda (bukti) Tuhannya”, diantara tafsirnya melihat wajah ayahnya di dinding, dengan wajah marah, Ya’kub ‘alaihis salam yang sedang memunaikan nadhiiran. Maka kita para ayah banyak belajar dari mereka semua, jangan lupa belajar dari Lukman, duhai ananda, janganlah kau sekutukan Allah.

 

Itulah dua konsep uluran dan tarikan dari sosok ibu dan ayah kepada putra-putri terkasihnya. Basyiiran wa Nadhiiran, wadud dan qowwam. Kelembutan dan ketegasan. Semoga dapat menerbangkan anak-anak kita membumbung tinggi membersamai syariat Rabbul ‘alamin. Bagai layang-layang terulur dan tertarik, pada harmoni simphoni yang pas.

 

Hingga suatu saat kita kan meneteskan air mata, saat mendapati lisan murninya tulus berucap:

 

“ya Allah ampunilah aku dan kedua ibu-bapa ku, dan rahmatilah keduanya, sebagaimana keduanya mentarbiyah (mendidik-sayang) sewaktu aku kecil”

 

muhammad agung

Tinggalkan Balasan