Diary Guru

Pria Berhati Lembut

Pria Berhati Lembut

Ustadzah udah nyampe belum?

Begitulah sebuah pesan singkat yang mampir di hape kami semalam. Pesan itu dikirim oleh salah satu wali santri kami. Jujur kami sedikit terkejut pun merasa terharu atas perhatian yang diberikan.

Sudah Bu. Sudah dari tadi. Tadi ketemu Akmal pas di jalan.”

Dugaan kami, sang anaklah yang memberitahukan sang ibu bahwa ia bertemu kami ketika di jalan akan pulang. Sehingga sang ibu berinisiatif menanyakan keadaan kami.

Tidak lama berselang sebuah pesan masuk kembali.

’Afwan ustadzah yang tadi bertanya itu Mas Akmal. Dari tadi dia terus bertanya apakah ustadzah sudah sampai rumah atau belum. Ya sudah, saya suruh dia tanya langsung saja biar nggak penasaran.”

Oh, Masyaa Allah. Iya nggak apa-apa Bu. Salam buat Mas Akmal.”

Mengetahui kenyataan ini, kami pun semakin merasa senang dan bangga. Bagaimana tidak, jika kami tahu bahwa santri kami yang masih duduk di kelas 2 SD adalah santri yang di dalam dirinya telah tumbuh rasa perhatian yang besar, telah tumbuh rasa kepedulian yang tinggi. Sebuah akhlak yang tidak semua muslim memilikinya.

Akmal, begitulah kami menyapanya. Ia memang tidak terlalu andal dari sisi akademik, tapi dia salah satu santri yang andal dalam sisi emosional dan spiritual. Dan sisi inilah yang paling penting yang harusnya ada pada diri seseorang. Seseorang yang cerdas, yang kaya, yang punya jabatan tidak akan mulia di sisi Allah jika kecerdasan, kekayaan, dan jabatannya tidak ia gunakan dalam kebaikan.

Kembali ke Akmal. Dia adalah seorang kakak yang sangat perhatian kepada adiknya. Jika ia bertemu dengan sang adik di luar kelas ia akan mengajaknya mengobrol, lalu merangkulnya, membelai lembut kepalanya, memperhatikannya, menanyakan kebutuhannya, dan berjalan beriringan, membagi snacknya, dan menyuruh adiknya untuk membaginya kepada teman-teman sang adik. Masyaa Allah, dia juga begitu perhatian pada orang lain.

Suatu ketika, ia pernah jatuh dan menangis. Lalu kami mencoba menenangkannya. Saat berdua saja, kami coba bertanya dan mencari tahu sebab kecelakaan kecil itu. Dari pengakuannya kami tahu bahwa ia jatuh karena sedang bermain tendang-tendangan dengan teman sekelasnya. Ketika akan menendang, teman mainnya menangkap kakinya sehingga berdirinya tidak seimbang dan akhirnya terjatuh.

Sungguh ketika pertama kali jatuh dan menangis, ia tak sekalipun menyebut nama teman yang menangkap kakinya. Ia tidak mencoba membela diri dan menyalahkan teman yang menangkap kakinya yang menjadi sebab ia terjatuh. Ia menyayangi temannya sampai-sampai ia tidak tega untuk menyalahkannya. Lalu kami bertanya; Apakah Mas Akmal memaafkan si fulan? Lalu ia pun menjawab dengan mantap; Ya, saya sudah memaafkannya ustadzah.

Sikap Akmal yang begitu perhatian mengingatkan kami dengan firman Allah dalam sebuah ayat,

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Qs. At Taubah)

Dan mengingatkan pula pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Mudahkanlah dan jangan mempersulit, sampaikan kabar gembira dan jangan menakut-nakuti.” (HR. Bukhari & Muslim)

Masyaa Allah, sungguh Mas Akmal memiliki akhlak yang (semoga bisa) serupa dengan akhlak Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia memiliki hati yang lembut, yang peka, yang iba, yang cemas, yang perhatian, yang penuh kasih sayang kepada siapapun yang berada di sekitarnya. Yang tidak suka menyalahkan, tidak menyerang kekurangan, tidak bangga atas kelebihan. Ia selalu ingat akan kebaikan orang lain terhadap dirinya sehingga ia tidak rela jika ia menggibahnya ^^

Masyaa Allah. Sungguh akhlak yang terpuji. Semoga kita yang membaca tulisan ini kembali menengok diri; Sudahkah kita memilikinya di dalam hati?

_Ustadzah HD_ (Jogja, 02/02/2016. Ditemani rinai hujan)

—————————

Teruntuk Mas Akmal, teruslah menjadi pria yang berhati lembut ^^

.

Tinggalkan Balasan