Diary Guru

Tabungan

Adalah tabiat seorang anak, bila melihat hal baru yang mereka anggap menarik, mereka pun penasaran untuk mengetahuinya. Hal itulah yang terjadi pagi itu. Mereka satu per satu datang menghampiriku sembari bertanya pertanyaan yang hampir seragam,  “apa itu?”, “Untuk apa?”

Bagi seorang pendidik, menguasai bahan ajar adalah sesuatu yang penting. Bahkan hal tersebut sebagai sebuah kewajiban. Akan tetapi ada hal yang juga merupakan sesuatu yang sama pentingnya dari menguasai materi bahan ajar yaitu menguasai cara menyampaikan materi ajar. Yah, bagaimana cara bisa menyampaikan materi ajar dengan efektif dan tepat. Agar anak mampu memahami materi baru tersebut dengan baik.

Tapi bukan pekerjaan yang mudah bagi pendidik mempraktikkan ilmu yang satu ini. Lebih-lebih bila peserta didik tersebut beragam dan masa kanak-kanak yang masih dalam proses tumbuh kembang. Alat indera mereka semuanya masih berproses tumbuh dan berkembang. Lidah misalnya, bagian organ mulut yang membantu memperjelas artikulasi pengucapan yang mereka miliki, belum terbentuk secara maksimal. Sehingga kita manusia dewasa mengetahui, ada huruf-huruf tertentu mereka kurang fasih melafalkannya. Contohnya huruf “r”, bagi anak-anak usia 1-2 tahun mengucapkannya bukan perkara yang mudah. Butuh usaha berlebih untuk bisa mengucapkannya, bahkan ada pula yang belum bisa mengucapkan dengan baik, karena memang organ yang mereka miliki sekali lagi masih proses tumbuh kembang. Al hasil, pengetahuan kita terhadap hal ini, tentunya menambah tingkat kesulitan berkomunikasi kita terhadap mereka pada materi ajar yang memuat materi seperti itu.

Pagi itu, sebenarnya penulis lagi beraktifitas untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di lingkungan sekolah. Terjadinya genangan air di area main sekolah merupakan sebab perlunya dibuatkan irigasi yang baik. Nah, bermula dari situlah ide membuat resapan air dengan cara membuat biopori pun ditempuh. Bahan berupa pipa peralon, dan membuat lubangan-lubangan pun dikerjakan. Saat mengerjakan itu semualah, pertanyaan-pertanyaan di atas muncul dan terucap dari mulut mungil dari anak-anak PAUD Al Wahdah yang beragam umurnya, ada yang baru berumur 5 atau 6 tahun, ada pula yang masih berumur 2-3 tahun. Tak ayal, ketika ditanya “apa itu?”, maka agak kesulitan saya menjelaskannya. Kadang saya memilih menjawab dengan istilah tabungan air dari pada menjawab dengan membuat biopori yang sepertinya beberapa ada sulit untuk melafalkannya. (ada yang mencoba melafalkannya dengan “bioqori”. He..he… teman yang lain menimpali dengan diakhiri nada tawa “Abqory” (Abqory adalah salah satu nama teman mereka di PAUD J ). Kadang saya juga jawab dengan istilah tersebut yaitu biopori, bermaksud mengenalkan kosakata baru bagi mereka.

Berbeda jika yang menanya tersebut adalah siswa siswa dari Madarasah Al Wahdah. Saya lebih mudah menjelaskan istilah biopori, cara membuatnya dan mengajak mereka langsung terlibat membuatnya. Berharap ada pengalaman berkesan mereka dapatkan atau pelajaran nilai yang bisa mereka raup.

Ada hal menarik yang terjadi saat proses dialog dengan murid MI Al Wahdah tersebut. Ketika mereka bertanya sedang membuat apa, untuk apa dan saya pun menjelaskan setiap apa yang mereka tanya. Bahwa kita sedang membuat biopori sebagai sarana resapan air. Agar air tidak menggenang di area main sekolah kita. Agar tanah memiliki tabungan air dan kita perlukan saat kemarau tiba. Terlihat mereka mulai mencerna penjelasan-penjelasan yang saya sampaikan. Saya pun balik bertanya, mencoba hendak menanamkan nilai kehidupan dengan bertanya : “Apa tabungan yang bisa kita buat saat di aherat nanti”?

Mereka pun terdiam, hening beberapa saat. Seperti tidak mengira akan mendapat pertanyaan seperti itu. Tapi luar biasa yang saya rasa saat itu, ketika salah satu dari mereka menjawabnya dengan baik hingga diri penulis ikut merasa bangga mendengarnya. “dengan sholat, baca al quran, dengan sedekah” jawab Ahnaf, siswa kelas 3 MI Al Wahdah ini.

(KI)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan