Dunia Anak

Tasbih Menguntai

Setiap muslim tak asing dengan yang namanya tasbih. Pastinya setiap hari dirinya senantiasa melafalkan kalimat agung dan mulia ini. Minimal kala ia berdiri menghadap Rabb nya, menjalankan kewajiban dari rukun Islam yaitu salat. Saat rukuk ia  melafalkan dengan penuh penghormatan yang tulus dan saat sujud menghinakan diri sekaligus meninggikan dalam mensucikannya, subhaana Rabbiyal Adziim (Maha Suci Allah Rab yang Maha Agung), Subhaana Rabbiyal A’laa (Maha Suci Allah Rabb yang Maha Tinggi)

Namun terkadang dalam mentasbih Allah, dalam mensucikan Allah di luar salat, kita tertatih-tatih dalam menjaga nya. Selalu ada alasan untuk membenarkan ketidak berdayaan kita dalam kesungguhan memujinya, ada seribu alasan yang kita miliki guna menutup rapat kelemahan dalam memuji-Nya, Astaghfirullah.

Namun bila kita sungguh-sungguh berkeingginan untuk itu. Pasti akan banyak cara dan banyak sarana dalam mentasbih diluar shalat, Sesibuk apapun kita. Karena ketika itu menjadi skala prioritas, maka akan melahirkan kesungguhan dalam mewujudkannya.

Namun bagaimana kalau kita lagi kondisi sibuk, amanah pekerjaan menumpuk atau bahkan belum bisa membiasakan rutin untuk melafal tasbih? Maka jawabannya, bila upaya mengondisikan diri untuk melazimi tasbih masih dalam proses, maka ada cara lain walaupun kita sedang tidak bertasbih, maka akan terhitung mendapat pahala bertasbih. Apa itu? Salah satunya adalah menjadi perantara makhluk Allah yang ada bertasbih, menanam tumbuhan, bunga dan lainnya. Kok bisa? Ia bisa, bukankah Allah Ta’ala berfirman:

(تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا)

Artinya :

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.”

[Q.Surat Al-Isra’ : 44]

Berkata syeikh Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya :

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ } من حيوان ناطق وغير ناطق ومن أشجار ونبات وجامد وحي وميت { إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ } بلسان الحال ولسان المقال. { وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ } أي: تسبيح باقي المخلوقات التي على غير لغتكم بل يحيط بها علام الغيوب.

Semua bertasbih yang ada di langit dan di bumi dan apa yang ada di dalamnya apapun itu, baik dari manusia, hewan, pepohonan, tetumbuhan dan benda-benda baik yang hidup dan mati semua bertasbih dengan tasbih sesuai kondisi dan keadaan mereka, dengan bahasa dan cara tasbih yang berbeda dengan tasbih manusia, yang tasbih mereka hanya Allah yang mengetahuinya.

Jika demikian maka yakinlah tumbuhan, dan bungga yang kita tanam, kita rawat dan kita jaga itu sama halnya turut menjadi bagian dalam mentasbih Azza wajalla, bayangkan bila pohon yang kita semai, bunga yang kita tanam semua itu bertasbih, maka ia akan menjadi tasbih yang menguntai. Wallahu A’lam. (KI)

Tinggalkan Balasan