Dunia Orang Tua

TITIPAN dan PINTU SURGA

Semoga Allah akan memberkahi hubunganmu berdua dengan istrimu

katanya anak titipan Allah, kalau dititipin lagi, memangnya Allah salah titip?

Imam Muslim meriwayatkan perihal ummu Sulaim, wanita hebat yang dari rahimnya lahir manusia-manusia hebat, semisal Anas bin Malik (anak dari suami sebelumnya bernama Malik) dan Abdullah bin Abi Thalhah yang memiliki sembilan anak, semua hafizh quran. Tatkala dengan tegarnya mengatakan kepada suaminya (abu-Tholhah):
“Suamiku, apa kiranya pendapatmu tatkala sebuah keluarga mendapatkan suatu titipan, lalu si pemilik titipan hendak mengambil kembali barang titipannya?”.. lalu ibu perkasa ini melanjutkan pertunjukan ketabahan hati yang luar biasa dengan ucapannya:
“Maka bersabarlah dan berusaha raih pahala karena kematian puteramu.”

Padahal fragmen-fragmen kehidupannya sesaat sebelum itu juga tak kalah memukaunya. Mendapati putranya wafat, jiwa dan fisiknya masih tegar, meski engkau tau bagaimana perasaan ibu yang ditinggal wafat anaknya. Ia ingin memberitahu suaminya atas kematian anaknya itu dalam keadaan terbaik. Tatkala suami pulang kerumah dan bertanya: “apa yang sedang dilakukan oleh puteraku?” Dijawab dengan lembut: “Puteramu dalam keadaan tenang”. Sungguh susah terbayangkan bagaimana campur-aduk-nya perasaan ummu Sulaim saat mengucapkan kalimat tersebut. Namun dalam balutan ekspresi tenang dan intonasi kalimat yang meyakinkah. ah… seandainya itu terjadi padaku.

Belum cukup dengan hal tersebut, ummu Sulaim pun memberikan pelayanan terbaik kepada abu Tholhah suaminya. Mulai dari dandanan, sambutan, makanan, jamuan, hingga urusan ranjang.

Setelah suami terpuaskan lahir batinnya, dan dalam keadaan tenang, barulah ummu Sulaim menyampaikan kabar kematian puteranya, putera mereka berdua. Singkat riwayat, Abu Thalhah pun menceritakan (mengadukan) kejadian seperti itu kepada Rasulullah, sehingga keluarlah doa dari manusia paling mulia itu, yang syafaatnya didamba setiap insan atas izin Allah Ta’ala:

Semoga Allah akan memberkahi hubunganmu berdua dengan istrimu

Maka BERKAH dalam setiap hubungan, terutama dalam rumah tangga adalah kunci utama. Sementara doa dari Rasulullah adalah jaminannya. Ah.. ummu Sulaim mengajarkan hikmah yang luar biasa.

O

Hari ini, sungguh luar biasa. Di berbagai daerah, tempat penitipan anak semakin marak. Bahkan yang berlabel “islami” mendapat branding tersendiri, bahkan pangsa pasarnya semakin tumbuh bertambah. Sehingga sebagiannya menjadi peluang bisnis yang menggiyurkan. Terjadilah “suasana” titip menitip layaknya transaksi materi semata tak lupa dengan pepatah jawa yang ngikut “ono rego ono rupo” fasilitas tergantung pada harga yang dibayar, dalam terjemahan bebas. Jadilah sekolah “islami” dan mahal, ada uang ada fasilitas.

Bahkan dalam kamuflase yang paling halus, SEKOLAH pun menjadi alasan wajar nan logis bagi ajang “penitipan anak”. Apalagi yang full-day, apalagi yang boarding-school. Hmm… benarkah demikian.

Dilema.

Sungguh dilema yang pelik pada sebagian masyarakat modern seperti kita saat ini. Saat sekolah diposisikan menjadi satu-satu-nya lembaga pendidikan yang wajib harus diikuti. Bahkan sekolah pun disempitkan lagi dengan sebuah bangunan berbatas tembok di keempat sisinya. Di sisi lain tuntutan ekonomi yang seolah mengharuskan suami dan juga istri untuk bekerja mencari nafkah, semuanya keluar rumah, hingga tak jarang yang tinggal adalah pembantu dan penjaga rumah.

Maka dalam dilema akut yang kita hadapi hari ini. Tetap posisikan anak sebagai titipan Allah kepada kita. Jadilah kita para orang tua yang se-amanah mungkin. Jadilah Ayah yang tetap berusaha sekuat tenaga menjadi ayah-amanah. Jadilah Ibu yang mengupayakan segenap perasaan, jiwa dan raga menjadi ibu-amanah. Disini tidak diurai detil teknisnya. Silakan para ayah dan para ibu mengupgrade pengetahuan dan dirinya melalui berbagai media dan cara lain. Sadarilah.. belajarlah.. dan lakukanlah..

Dimulai dari keyakinan bahwa ANAK ADALAH TITIPAN BAGI ORANGTUA.

Namun tidak cuma itu, disebalik amanah tersebut, ada hikmah yang luar biasa, yaitu SURGA. Yang Allah bukakan lewat pintu anak, bagi para orangtua amanah.

“(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya.” (QS. Ar-Ra‘du: 23)

Sesungguhnya seseorang akan diangkat derajatnya di surga, maka ia berkata,”Dari manakah balasan ini?” Dikatakan,” Dari sebab istighfar anakmu kepadamu”. [HR. Ibnu Majah]

Makanya sudah bukan jamannya lagi nembak lamaran pakai kalimat: “maukah kamu jadi kekasihku”, “maukah kamu menjadi belahan jiwaku, pendamping hidupku, duhai bidadariku”. Nembak jaman now adalah:

“maukah telapak kakimu menjadi pintu surga bagiku dan anak-anak kita kelak?” (MAB)

 

Tinggalkan Balasan