Dunia Orang Tua

10(SEPULUH) CARA ALLAH DALAM MENDIDIK ADAM (part 2)

Artikel berikut adalah sambungan dari artikel sebelumnya yang berjudul 10(SEPULUH) CARA ALLAH DALAM MENDIDIK ADAM (part 1).

Dalam artikel tersebut telah dibahas tentang 5(lima) cara Allah dalam mendidik Adam ‘Alaihissalam, berikut selengkapnya akan kami paparkan bagaimana cara Allah dalam mendidik Adam ‘alaihissalam.

adam-hawa-2

6. Mengetahui sebab terjadinya kesalahan

Seorang pendidik harus mengetahui penyebab terjadinya kesalahan. Lebih dari itu seorang pendidik harus mengetahui penyebab dasar atau utama dari peserta didik melakukan kesalahan. Hal ini sebagaimana Allah ajarkan kepada Hamba-Nya yang telah di abadikan dalam firman-Nya berikut;

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَىٰ

 “Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (Q.S. Thaha : 120)

Dalam ayat di atas Allah Maha Tau penyebab utama kesalahan Nabi Adam ‘alaihissalam adalah Setan yang menggoda Adam ‘alaihissalam untuk melanggar larangan Allah.

Hal ini penting bagi seorang pendidik agar tidak salah dalam menyikapi kesalahan anak didiknya. Bisa jadi anak didik yang melakukan kesalahan karena tidak tahu atau bahkan menjadi “korban” tanpa ia sadari. Artinya jangan sampai ketidakmaksimalan pendidik mengetahui penyebab utama anak didik melakukan kesalahan berujung pada ketidakadilan anak didik dalam menerima konsekuensi pelanggaran atau menerima hukuman yang tidak sesuai dengan kadar kesalahan yang anak lakukan.

Sebagaimana ayat di atas, Nabi Adam ‘alaihissalam lupa terhadap larangan Allah tersebab rayuan serta godaan setan. Dan pelajaran lain dari ayat di atas adalah tidaklah manusia melakukan kesalahan itu umumnya karena tidak tahu dan mengikuti hawa nafsu.

7. Melakukan Ta’dib

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا

Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama” (Q.S. Thaha : 123)

Setelah mengetahui kesalahan anak didik sesuai tingkat kadar kesalahannya kemudian menerima alasan yang diutarakan maka selanjutnya adalah proses melakukan ta’dib.

Proses melakukan ta’dib itu beragam, salah satunya memberikan hukuman. Hukuman bukan semata untuk menyakiti tapi hukuman yang mendidik. Salah satunya selain agar anak didik jera dan tidak mengulangi kesalahan yang sama, juga berharap melalui hukuman tersebut anak didik mampu memetik segudang pelajaran hidup lainnya.

8. Menceritakan tantangan masa depan dan memberikan bekal kepada anak didik.

بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

Allah berfirman: ” sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka” (Q.S. Thaha : 123)

Pendidik setelah memproses kesalahan anak didik, tidak boleh membiarkan anak didiknya berlarut-larut dan tenggelam dalam kesalahan. Tapi harus diarahkan agar bangkit dan berproses untuk menjadi lebih baik. Salah satunya adalah menceritakan tantangan masa depan. Hal ini perlu agar anak didik tahu gambaran masa depannya, sehingga tahu apa yang harus dilakukannya.

Pendidik juga sebaiknya selain menceritakan tantangan masa depan, juga dapat memberikan bekal kepada anak didik bagaimana menghadapi tantangan masa depannya. Mana yang harus dihindari dan mana yang diikuti agar potensi untuk sukses menghadapi tantangan masa depan bisa terwujud dengan maksimal.

9. Menjadikan peserta didik belajar skil berinteraksi

فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ ۚ وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ

Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia” (Q.S.Thaha:121)

Dari setiap kejadian pasti ada hikmah dan pelajarannya. Ungkapan tersebut ada benarnya. Adam ‘Alaihissalam dan Hawa setelah memakan pohon larangan tersebut dan terjadi apa yang terjadi, mereka tahu bahwa apa yang diikuti dari setan adalah salah adanya. Dari situ mereka tahu bagaimana harus bersikap ketika berinteraksi dengan setan. Ini adalah pengalaman penting dari sebuah interaksi sosial, yang kedepan sebagai bekal dalam proses interaksi selanjutnya.

10. Mengajarkan hakekat hidup

فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَٰذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَىٰ

Allah Ta’ala berfirman : “Maka Kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka”. (Q.S.Thaha : 117)

فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَٰذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَىٰ

Allah Subhaana wa ta’ala berfirman : “Maka Kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka”. (Q.S. Al A’raf : 21)

Dari 2(dua) ayat di atas sangatlah jelas bagaimana pentingnya pendidik mengajarkan kepada peserta didik tentang hakekat hidup, siapa yang menjadi musuh yang harus selalu diwaspadai dan dihindari agar tidak menyebabkan hidup menjadi susah atau celaka. Sebaliknya anak didik harus tahu pentingnya mentaati perintah Allah agar bisa hidup sukses dan bahagia. Wallahu a’lam.

IAH.

Tinggalkan Balasan