Dunia Orang Tua

10(SEPULUH) CARA ALLAH DALAM MENDIDIK ADAM (part 1)

kisah-nabi-adam

Setiap muslim pasti tahu tentang kisah Nabi Adam dan Hawa dalam Al Qur’an. Kisah manusia pertama ini memiliki banyak ‘Ibrah atau pelajaran. Dari sepenggal kisah hidup yang diabadikan dalam Al Qur’an, bertabur banyak informasi dan pelajaran bagi seorang muslim, termasuk di dalamnya pelajaran bagaimana cara mendidik yang baik dan sukses.

Lihat saja kisah bapaknya para manusia, Nabiullah Adam ‘alaihissalam dan Istrinya Hawa. Kisah pertama kali dalam al Qur’an ini mengandung pembelajaran nilai-nilai tarbawiyah yang agung. Dr Jazem dalam artikel “man ya’rifu qonuuna syajarati li tarbiyatil abna” menyebutkan 10 pelajaran dari kisah tersebut, yaitu ;

1. Kejelasan perintah dan arahan

Sungguh perintah Allah kepada Nabi Adam ‘alaihissalam adalah sangatlah jelas, melarang dari 1 pohon dan membolehkan dari pohon-pohon selainnya.

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ

“Dan kami berfirman, “wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surge, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini” (Q.S. Al Baqarah : 35)

Maka perlunya kita buat kesepakatan dan aturan yang jelas terlebih dulu agar siapapun yang hendak kita didik tau betul gambaran dari kesepakatan dan aturan yang telah dibuat.

2. Menyediakan alternatif pengganti ketika melarang

وَكُلا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا

“dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu” 

(Q.S. Al Baqarah : 35)

Allah Subhaana wa ta’ala telah memberikan alternatif terlebih dulu sebelum melarang. Allah memerintahkan Adam ‘alaihis salam untuk menikmati kenikmatan apa saja  selain dari 1(satu) pohon itu. Alternatif pengganti yang berjumlah banyak berbanding dengan larangan yang hanya berjumlah 1(satu) macam saja.

3. Berkomunikasi yang baik terhadap orang yang melakukan kesalahan

وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَن تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Tuhan menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu dan telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Q.S. Al A’raf : 22)

 Komunikasi yang baik, yang tenang, tidak dengan marah maupun dengan kekerasan.

4. Berilah orang yang bersalah kesempatan untuk mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

قَالَا رَبّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِر لَنَا وَتَرْحَمنَا لَنَكُونَنَّ مِنْ الْخَاسِرِينَ

“Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan member rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang yang rugi” (Q.S. Al A’raf : 23)

 Allah memberi kesempatan orang yang bersalah untuk mengakui kesalahan atau meminta maaf.

 5. Mendengarkan dengan baik alasan atau permohonan maafnya dan menerima udzur nya.

 فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kemudian Adam ‘Alaihissalam menerima beberapa kalimat, dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima taubatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang” (Q.S. Al Baqarah : 37)

Allah tidak membiarkan Adam bergelimpang dalam kesalahannya, tidak mencelanya, bahkan mengajari bagaimana cara bertaubah dan menerima taubat nya.

Bersambung … In sya Allah.

One comment

  1. dadabanjar

    Bissmillahirrahmaanirrahiim..
    ^_^

Tinggalkan Balasan