Diary Guru

Belajar Dari Malu

Belajar Dari Malu

Pagi itu di sekolah seperti biasa, kami melakukan program tahfidz pada dua jam pelajaran pertama setiap harinya. Kami selalu mengawali dengan menghafal Al Qur’an sebelum masuk pada pelajaran lainnya. Sedikit berbeda, yang biasanya di dalam kelas, hari itu anak-anak tahfidz bersama ustadz lesehan di halaman sekolah.

Tiba-tiba saat kami di kantor, ustadzah yang lain memberikan kabar, “Ustadzah, itu Akmal di depan gerbang, nggak mau masuk sekolah.” Kami yang mendengar laporan tersebut mengerti maksudnya, artinya diminta untuk ikut membujuk siapa tau nanti mau masuk. Kami menghampiri anak yang dimaksud dan melewati anak-anak yang sudah memulai tahfidz. Anak itu masih lengket duduk di jok motor sementara ibunya di sampingnya masih berusaha membujuk.

“Akmal ayo masuk, bersegera. Tidak apa-apa, itu teman-teman belum lama kok mulai tahfidznya,” kami pun berusaha membujuk dan membesarkan hatinya.

Akmal hanya geleng-geleng dan merengek “Bu, ayo bali (pulang).”

Masih tak bergeming dan malah minta pulang, sang ibu pun masih berusaha.

“Itu lho kata ustadzah nggak apa-apa, masih boleh masuk”, sang ibu masih membujuk.

“Dia malu ustadzah, terlambat. Lha tadi bangunnya kesiangan.” sang ibu menjelaskan ke saya.

Sang anak makin lengket di motor dan tetap meminta pulang. Sampai akhirnya diputuskan sang ibu dan anak pulang lagi ke rumah.

Esok harinya Alhamdulillah Akmal sudah masuk sekolah dan kali ini tidak terlambat lagi.

Lalu, apa yang dapat kita pelajari dari malu?

Pertama, malu adalah akhlak terpuji. Sesuai hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam: “Jika kamu tidak punya rasa malu, maka berbuatlah sesukamu” (HR. Al Bukhari 6120). Itulah hadits yang kami sampaikan kepada teman-teman Akmal saat di dalam kelas mereka bertanya “Kenapa Akmal ngga masuk sekolah ustadzah?”.

Kami mencoba menjelaskan, “Akmal malu karena terlambat sekolah. Dan malu yang seperti itu dibenarkan ya Nak. Kalau kita malu karena melanggar aturan maka itu diperbolehkan, kalau kalian tidak malu maka ya seperti hadits tadi, berbuat sesuka hati. Terlambat santai saja, mencontek santai saja. Tidak malu kepada Allah subhanahu wata’ala dan orang-orang di sekitarmu. Tapi jika kalian malu karena melakukan kebaikan, seperti malu pakai jilbab, malu saat tampil hafalan Al-Qur’an, maka itu tidak diperbolehkan.” Begitulah kurang lebih yang kami jelaskan kepada anak-anak waktu itu.

Meski sebenarnya Akmal tidak perlu pulang. Tetap masuk sekolah bukan berarti tidak malu atas keterlambatannya. Malu yang diiringi penyesalan telah cukup untuk bisa dimengerti. Jangan sampai malah jatuh pada malu yang salah, malu yang kedua, yakni malu mengerjakan satu kebaikan (tetap masuk sekolah untuk menuntut ilmu).

Kedua, mengambil pelajaran dari masa lalu. Itulah poin yang juga kami ajarkan kepada Akmal saat esoknya kami tanyakan alasan kenapa kemarin terlambat masuk sekolah. Akmal mengatakan dia terlambat karena bangun kesiangan.

“Kenapa kok bangun kesiangan Akmal? Tidurnya malam sekali ya?”

“Iya, soalnya main sampai malam.” jawab Akmal sambil sedikit meringis.

“Akmal kemarin malu kan kalau terlambat masuk sekolah, yang rugi juga Akmal sendiri kalau tidak masuk sekolah. Masih ingat pelajaran kita di kelas? Pengalaman masa lalu dijadikan pe-……” sengaja menggiring Akmal untuk melanjutkan. (hehe.. bagi guru kelas 2 SD pasti tau ini salah satu materi pelajaran IPS)

“Pelajaran.” jawab Akmal mantap.

“Berarti besok lagi Akmal tidak boleh main sampai larut malam ya, biar tidak malu karena terlambat sekolah.”

Belajar adalah sebuah proses. Tak ayal setiap diri kita butuh proses untuk berubah menjadi lebih baik. Semoga para orang tua dan pendidik di seluruh dunia selalu diberi kekuatan dan kesabaran dalam mendidik anak-anak untuk menjadi manusia yang lebih baik, manusia mulia di mata Allah.

_Ustadzah 2ty_ (Jogja, 28/01/2016)

Tinggalkan Balasan