Diary Guru

Pentingnya Tarbiyah Sejak Dini

Pentingnya Tarbiyah Sejak Dini

Yang membedakan tarbiyah dengan metode dakwah lainnya adalah adanya pengontrolan terhadap mad’u (orang yang kita dakwahi). Dan hal ini pula (pengontrolan) yang membuat tarbiyah lebih mampu membentuk seseorang menjadi mukmin sejati dan berkarakter.

Karena tarbiyah itu penting, maka salah satu kebiasaan kami setiap pagi di sekolah MI Al-Wahdah adalah mengontrol amalan-amalan atau aktivitas harian para santri. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Kala itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya pada para sahabatnya beberapa pertanyaan. Di antara pertanyaan tersebut adalah; Siapa yang pagi ini sudah bersedekah? Siapa yang pagi ini sudah menjenguk orang sakit? Siapa yang pagi ini sudah mengantarkan jenazah?

Meneladani akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami pun melakukan hal yang sama. Tujuannya tentu sama pula yakni melihat sejauh mana pengamalan ilmu dari ilmu yang telah diperoleh oleh para santri. Karena sesungguhnya, bukan memiliki banyak ilmu yang terpenting, tapi yang terpenting adalah sebanyak apa pengamalan kita terhadap ilmu tersebut. Mengutip beberapa perkataan para ulama bahwa; Tidak dikatakan seseorang itu penuntut ilmu, sebelum ia mengamalkan ilmunya. Dan ilmu itu adalah apa yang kita amalkan bukan apa yang kita ketahui.

Nah, di antara pertanyaan kami setiap pagi adalah siapa yang pagi ini sudah shalat subuh? Siapa yang sudah shalat dhuha? Siapa yang sudah muraja’ah hafalan? Siapa yang sudah berdzikir? Siapa yang sudah belajar? Siapa yang sudah salim umi dan abi? Siapa yang sudah sarapan?

Tentu jawaban yang disampaikan oleh para santri berbeda-beda bahkan tak jarang menghadirkan tawa di pagi hari. Seperti jawaban dari pertanyaan; siapa yang sudah shalat subuh? Maka anak-anak akan berlomba mengangkat tangan dan menyebutkan di mana mereka melaksanakan shalat. Ada yang di masjid, di rumah, dan di sekolah (karena mereka baru ingat belum shalat subuh setelah tiba di sekolah :D). Dan ada juga anak yang langganan tidak mengangkat tangan dan selalu menjawab; Lupa…, lupa…, dengan nada riang penuh kebanggaan seolah jawaban ‘Lupa’ adalah salah satu jawaban yang kami harapkan ^^

Selain pertanyaan rutin di atas, sesekali kami juga akan menanyakan yang sifatnya insidental. Seperti beberapa hari yang lalu, berawal dari keresahan tayangan televisi zaman ini yang lebih banyak mengandung dan mengundang dosa ketimbang manfaat, maka kami melemparkan pertanyaan satu ini; Siapa yang punya televisi? Siapa yang masih suka nonton? Nontonnya acara apa?

Dari 7 orang santri di dalam kelas, 1 anak tidak memiliki tivi di rumah, 2 orang tidak lagi suka menonton tivi, 4 orang masih suka menonton. Setelah ditanya lebih dalam, ternyata 2 orang suka nonton film india anak-anak dan 2 suka menonton sinetron yang sedang digandrungi di negeri ini. Subhanallah.

Maka di sinilah pentingnya mengontrol aktivitas sehari-hari santri kita. Kita akan tahu kebiasaan yang harus mereka pertahankan dan kebiasaan yang harus mereka ganti dengan aktifitas yang lebih bermanfaat. Dan inilah bagian dari tugas seorang pendidik, bukan hanya sekedar memberikan ilmu tapi sampai memikirkan bagaimana agar muridnya mengamalkan ilmu yang telah diberikan.

Sesungguhnya seorang Abu Bakar, Umar bin Khattab, ‘Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan seluruh sahabat tidak lain adalah hasil dari tarbiyah-tarbiyah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, ketika kita ingin anak-anak kita menjadi sosok yang tangguh setangguh para Sahabat, maka tarbiyahlah mereka sejak dini ^^

Wallahua’lam.

_Ustadzah HD_ (Jogja, 18/03/2016. Di antara sepinya malam)

Tinggalkan Balasan