Diary Guru

Ala Bisa Karena Biasa

semangat

Beberapa waktu lalu kami kedatangan murid baru di kelas 1 MI Al-Wahdah. Melihatnya sesaat saja, orang-orang akan mengerti bahwa anak laki-laki itu sedikit berbeda dibanding murid lainnya. Dari segi usia, anak laki-laki berkulit putih tersebut sudah pantas menjadi murid kelas 1, tapi perkembangan motorik dan verbalnya berkata berbeda.

Anak laki-laki itu berjalan seperti akan jatuh, cara ia berbicara seperti seorang anak kecil yang sedang belajar menyebutkan sesuatu. Ukuran kepalanya terlihat lebih besar dari ukuran normal anak-anak seusianya. Air mata dan air liurnya mudah keluar dan menetes.

Sejujurnya, setiap kali mengajar di depan kelas, ada perasaan pesimis. Bisakah ia bersaing dengan teman-temannya di kelas. Bisakah dia menyerap pelajaran seperti yang lainnya. Bisakah ia bertahan.

Meski demikian, meski ada rasa pesimis yang hadir di dalam hati, kami tetap membangun semangat untuk menyampaikan ilmu. Berharap si anak baru, bisa mengerti seperti yang lainnya.

Lalu tibalah hari ini. Hari Jumat, hari ujian hafalan untuk anak-anak MI Al-Wahdah. Kami mengecek hafalan surat yang menjadi hafalan mereka, mengecek hadits dan doa yang telah diajarkan selama beberapa hari sebelumnya. Seperti biasa kami mengecek dengan beberapa cara di antaranya mengecek langsung satu-persatu atau dengan cara sambung ayat.

Pagi ini, ketika kami sedang melakukan permainan sambung ayat, kami tidak pernah berharap lebih atas anak laki-laki itu. Dia bisa mengikuti, sudah sangat membahagiakan untuk kami. Tapi Allah berkehendak lain, ketika pada satu bagian, di saat anak-anak yang lain (yang lebih kami unggulkan) tidak bisa menyambung ayat yang kami bacakan, anak laki-laki itu mengangkat tangan dengan senyumnya yang khas, lalu beberapa detik kemudian ia membaca sebuah ayat, ayat yang benar meski dengan pengucapan yang belum sempurna. Masyaa Allah.

Mendengar dan melihat anak-anak laki-laki itu, kami merasa senang sekaligus semakin bersemangat dalam mengajar. Ternyata sesuatu yang kami anggap sulit bisa menjadi mudah jika Allah menginginkan hal tersebut.

Dari kejadian itu pula kami menyadari bahwa sesuatu yang sering berulang akan menjadi sebuah kebiasaan. Seperti anak laki-laki itu, mungkin pada awalnya menghafal ayat adalah sesuatu yang sulit baginya, tapi karena setiap hari kami terus mengulang-ulanginya dan ia pun terus mengikuti apa yang kami ucapkan, maka di satu titik, hal yang tadinya sulit, menjadi mudah baginya karena sudah terbiasa.

Karena itulah, ketika kita menginginkan anak-anak kita meenjadi shalih dan berakhlak mulia, cukup jadikan diri kita shalih dan miliki akhlak yang mulia pula. Jika setiap hari kita menampakkan, mengajarkan, menanamkan amalan shalih serta akhlak mulia kepada mereka, maka di satu hari nanti mereka akan menjadi seperti yang kita harapkan.

Dan sebagai nasehat penutup kami mengingatkan kembali, bahwa anak laki-laki yang kami ceritakan adalah anak laki-laki yang mengalami keterlambatan dalam beberapa hal (motorik dan verbal), maka ingatlah; Jika yang mengalami keterbatasan saja mampu kita arahkan, mampu kita bimbing, mampu menjadi lebih baik, maka anak-anak yang tidak memiliki kekurangan jauh lebih bisa lagi, sehingga seharusnya tidak ada lagi kata ‘putus asa’ dalam kamus seorang guru dan orang tua dalam mendidik seorang anak. Terus semangat dan jangan lupa, sertakan selalu doa kepada Allah sebagai teman dari usaha-usaha kita.

Wallahua’lam.

.

Tinggalkan Balasan