Dunia Anak

Anak Kecil Rajin Shalat Tahajjud, Kamu?

Menulis buku harian adalah salah satu tugas yang diberikan kepada santri MI Al-Wahdah Yogyakarta. Tugas tersebut diberikan kepada seluruh jenjang kelas dengan tujuan melatih anak agar lancar menulis sekaligus mengasah keterampilan anak dalam menulis sebuah cerita sehingga guru dapat mengecek perkembangan menulis anak dari waktu ke waktu.

Tapi, selain tujuan di atas, ternyata tugas menulis buku harian juga sangat membantu guru menilai keseharian anak, apakah sudah sesuai dengan apa yang selama ini diajarkan dan dididik di sekolah atau masih ada hal yang harus diperbaiki seperti rutin tidaknya anak melaksanakan shalat 5 waktu, rajin tidaknya anak mengulang pelajaran di rumah, rajin membantu orang tua atau tidak, dan lain sebagainya.

Nah, dari semua keseharian santri yang telah dituliskan dalam buku harian, ada beberapa santri yang Masyaa Allah memiliki kebiasaan yang sangat jarang dimiliki oleh kebanyakan oleh anak kecil di luar sana, bahkan oleh orang dewasa sekalipun.

Salah satunya adalah Sulaiman. Santri yang tahun ajaran baru duduk di kelas 3 SD ini memiliki kebiasaan yang sangat luar biasa. Kebiasaaan tersebut tentu saja diketaui dari buku harian yang selama ini ia tulis dengan rapi. Dan kebiasaan tersebut adalah shalat tahajjud, Masyaa Allah.

Mari kita perjelas kembali, Sulaiman adalah santri kelas 3 SD, usianya antara 8-9 tahun. Pertanyaannya sekarang adalah berapa usia kita saat ini? Dan sudah berapa kali kita shalat tahajjud dalam minggu ini? Tentu pertanyaan ini ditujukan kepada penulis pertama kali sebagai bahan nasehat dan renungan. Betapa malunya kita yang telah dewasa, yang lebih dekat dengan kematian secara hitungan mate-matika tapi jangankan shalat tahajjud, shalat 5 waktu saja yang hukumnya wajib kita masih merasa malas-malasan, Subhanallah.

Sulaiman tentu bukan satu-satunya anak seusianya yang rajin shalat tahajjud. Ada begitu banyak anak-anak di luar sana yang memiliki kebiasaan serupa. Tapi poin pentingnya bukan untuk membandingkan mereka manakah yang terbaik, tapi membandingkan mereka yang masih kecil dengan kita yang telah dewasa. Apakah kita sama seperti mereka? Apakah kita lebih baik dari mereka? Apakah kita mau berubah? Apakah kita mengambil pelajaran? ^^

Wallahua’lam

NB: Untuk Sulaiman serta anak-anak shalih di luar sana, kami berdoa semoga ketakwaan itu terus melekat di dalam jiwa-jiwa hingga kalian dewasa dan seterusnya. Semoga Allah Ta’ala menancapkan keistiqamahan pada diri kalian hingga maut bertandang entah kapan.

Terakhir, semoga seluruh pembaca bisa mengambil ibrah dan hikmah dari setiap kisah yang kami tuliskan. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya dan mengumpulkan kita semua dalam Surga Firdaus-Nya.

Allahumma innii as-alukalhudaa, wa ttuqaa, wal ‘iffah, wal ghinaa; Ya Allah aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri (dari segala keburukan) dan kekayaan hati (selalu merasa cukup dengan pemberian-Mu).

_Ustadzah HD_ (Kamar tercinta, 18/07/2016. Hari pertama masuk sekolah dan saya di rumah ^^)

2 comments

  1. NUTA NOERHAYATI

    Sungguh luar biasa kamu nak…dirimu adalh ladang amal buat kedua orang tuamu klak..smoga ansku bisa sprti kamu…aminn

  2. Amin

    Allaahumma aamiin …
    Maa syaa Allaah wa tabaarakallaah …

Tinggalkan Balasan