Dunia Anak

Bagaimana menjadi Ayah yang sukses?

Ayah yang sukses

Kesuksesan merupakan dambaan setiap orang. Mewujudkan kesuksekan adalah impian setiap insan. Hal ini pun terjadi bagi seorang bapak. Sebagai pemimpin keluarga dituntut untuk sukses dalam peran-perannya. Sukses sebagai seorang suami dan sukses sebagai seorang ayah.

Namun faktanya sangat jauh dari harapan. Dalam hal pendidikan, sebagian besar para ayah menyerahkan tugas mendidik ini sepenuhnya kepada istrinya, dengan asumsi bahwa ibu adalah “madarasatul ula” atau sekolah yang pertama bagi anak-anaknya. Padahal kita tahu bersama bahwa setiap madarasah ada kepala sekolahnya, jadi jika ibu adalah sekolah yang pertama bagi anak-anaknya maka seorang bapak adalah pemimpin atau kepala sekolah bagi madarasah tersebut, penentu sukses tidaknya jalannya sekolah.

Bagaimana menjadi bapak yang sukses? itulah pertanyaan yang muncul dari seorang bapak yang ingin mewujudkan harapan mulia tersebut, termasuk pertanyaan dan harapan penulis sendiri. Untuk bisa menjawab pertanyaan di atas, kami sarikan kiat-kiatnya bersumber dari artikel berbahasa arab yang berjudul “kaifa tushbihu aban najihan” oleh Khalid Rusyha.

Beliau menyajikan point penting yang perlu diperhatikan bagi seorang bapak, yaitu sebagai berikut;

Pertama : Memberikan keteladanan

Pentingnya unsur figuritas dalam kehidupan manusia dan butuhnya tabiat manusia akan keteladanan yang dapat memberikan contoh langsung, terlihat nyata didepannya. Sehingga bagi anak dapat tergambar sebuah figur nyata, akhlak yang jelas, prilaku yang beradab, maka berawal dari itu, seorang anak dapat menyaksikan, dapat mencontoh, dapat meneladaninya dalam kehidupannya.

Allah ‘Azza wajalla’ sendiri mengutus para rasul dan kemudian memerintahkan kita untuk meneladani mereka dengan firmanNya;

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah” Q.S. Al Ahzab : 21

Sesungguhnya prilaku akan lebih mengena daripada perkataan, dan perbuatan seseorang kepada seribu orang lebih baik dari perkataan seribu orang kepada satu orang.

Dalam buku Manhaj Tarbiyah Islamiyah menyebutkan “Contoh yang baik adalah hal terpenting dalam pembentukan kebiasaan yang baik“. Dan mungkin merupakan rahasia hikmah dari sabda nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar shalat nafilah ditunaikan dirumah, sebagaimana diriwayatkan Imam Abu Dawud bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ;

خَيْرُ صَلاَةِ الرَّجُلِ فِيْ بَيْتِهِ إِلاَّ الصَّلاَةَ الْمَكْتُوْبَةِ

Sebaik-baik shalatnya seorang laki-laki adalah di rumahnya kecuali shalat wajib

 

Kedua : Kasih sayang terhadap anak

Kasih sayang bapak akan memunculkan ketenangan jiwa pada anak. Bapak yang sukses adalah bapak yang penyayang terhadap anak-anak dan keluarganya, memberi rasa cinta dan sayang, mereka merasa terjaga, terayomi dengan yang baik, merasakan kebahagiaan bersama ayah dan rasa aman.

Dan adalah nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sebaik Qudwah dalam hal kasih sayang, kelembutan terhadap anak kecil, bermain bersama mereka, cinta terhadap mereka, pertengahan bersikap dan tanpa memperlihatkan bermuka masam di wajah mereka. Diriwayatkan dari muslim bin abdillah bin Ja’far ” Adalah rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam membopong salah satu dari kamidan yang lain dibelakangnya sampai kami masuk kota madinah”

رُوِيَ الْبُخَارِيُّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَبَّلَ الْحَسَنَ وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسِ، فَقَالَ الْأَقْرَعُ : ” إِنَّ عِنْدِيْ عَشْرَة مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا، فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : ” مَنْ لاَ يَرْحَمْ لاَ يُرْحَمْ ”

Diriwayatkan Imam bukhori bahwasanya rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencium hasan dan disamping beliau Aqra’ bin Habis, maka berkata aqra’ ” Sungguh saya memiliki sepuluh anak, tapi saya tidak pernah mencium mereka satu pun, maka bersabda nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: barangsiapa tidak menyayangi maka tidak disayangi”

“فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ”

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu” Q.S. Ali Imran : 159

 

Ketiga : Hikmah dalam mendidik

Telah diriwayatkan Imam Muslim dari rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ” Sesungguhnya Allah menyukai kelembutan dan memberi sesuatu pada kelembutan yang tidak diberi pada kekasaran dan tidak memberi pada yang selainnya”.

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “sesungguhnya Allah apabilah hendak menyukai sebuah keluarga maka akan diberikan kelembutan pada mereka” Shahih Jami’

Akan tetapi makna kelembutan, cinta dan kasih sayang bukan berarti seorang bapak bermudah-mudahan dalam mendidik anaknya. Sikap lembut tidak harus menghilangkan sikap tegas dan kesungguhan. Ketika melihat anak perlu diluruskan, maka seorang bapak harus meluruskan dan tidak menunda-nundanya, adapun pendekatannya seorang bapak menggunakan sikap selembut mungkin sesuai kebutuhan anak. Nah inilah yang dinamakan sikap hikmah.

Sikap hikmah adalah melakukan sesuatu yang seharusnya dan pada waktu dan tempat yang seharusnya. Dan tidaklah mungkin seorang bapak ketika melihat anaknya melakukan keburukan atau pelanggaran, seorang bapak dengan asumsi hikmah, kasihsayang dan kelembutan, membiarkan anak melakukan keburukan dan pelanggaran atau membenarkannya. Sikap hikmah yang seharusnya dimiliki para bapak adalah membersamai anaknya dengan kesungguhan, serius dengan meletakkan batasan-batasan atau aturan dan menjelaskan baginya aturan-aturan yang seharusnya , jangan sampai mereka melanggar batasan tadi dan jangan sampai para orang tua lupa terhadap komitmen bersama anaknya. Serta ketika anak melakukan pelanggaran, maka seorang ayah jangan bosan-bosannya meluruskannya dengan cara yang hikmah. Sehingga pendekatan seperti ini, akan membuat penanaman aturan atau sikap tertanam kuat di otak anak, bahwasannya mereka mendapat contoh yang baik dari bapaknya, sehingga bertambahlah kuat dan menjadi akhlak yang kokoh.

Selain kiat-kiat di atas, seorang ayah harus memahami hal-hal berikut ini;

1. Selayaknya seorang bapak memahami bahwa posisinya di rumah adalah pemimpin, ia harus memiliki cara dan sarana dalam mendidik, dan sepatutnya memiliki metodologi yang sesuai dengan sunah nabawiyah. Dan tidak boleh kaku dalam mengaplikasikannya.

2. Wajib bagi bapak memperkaya diri dalam hal seni-seni mendidik dan metodologinya, seringnya bekonsultasi dengan para pendidik para tokoh dan pakar pendidikan , sebagaimana dianjurkan mengikuti perkembangan terbaru selama tidak bertentangan dengan syariat.

3. Bersabar terhadap anak merupakan ketrampilan penting bagi bapak. Sungguh para pendidik memperingatkan bahaya marah dalam interaksi dengan anak. terlebih bagi bapak yang memiliki tabiat cepat marah. Memperingatkan para ayah dari pemukulan anak mereka saat marah karena yang demikian merupakan kesalahan yang bahaya atau fatal yang tidak mengantarkan kepada pendidikan dan taujih, akan tetapi hanya pelampiasan nafsu sesaat.

4. Perlu diketahui para bapak bahwa anak-anak butuh belajar dengan cinta sebelum belajar dengan perintah atau keseriusan. maka biasakan wahai para bapak untuk memunculkan kecintaan antaramu dan anakmu.

5. Setiap bapak butuh waktu khusus untuk membangun kedekatan bersama dengan anak setiap saat, sekedar bercanda, berkomunikasi, bertanya, membangun kedekatan, bertanya dari hal yang membuatnya sedih, menanyakan cita-citanya, mimpi-mimpinya. Pertemuan pertemuan seperti ini modal penting membangun kedekatan anak. Dan hal ini yang dikeluhkan oleh sebagian para bapak, mengeluhkan ketidakmampuan mereka membangun kedekatan dengan anaknya. Akibat mereka tidak punya waktu untuk pertemuan-pertemuan diwaktu kecil ini sehingga sulit pula dimasa mereka besar, terbangun tembok yang menghalangi kedekatan mereka dengan anaknya!!

6. Disana ada korelasi atau hubungan kuat sekali antara terwujudnya bapak yang sukses dengan keberadaan suami yang sukses, maka suami yang sukses adalah yang bisa mengkondisikan lingkungan keluarga, anaknya jauh dari permasalahan dan pengaruh negatif dan dia senantiasa menolong istrinya, membantunya dalam penyempurnaan amal tarbiyah dengan sukses.

IAH

—–

(Sleman, 20 Dzul Qo’dah 1436 H, bertepatan 4 September 2015 M)

.

Tinggalkan Balasan