Diary Guru

Belajar Bijaksana

tersenyum

Suatu hari ketika akan berwudhu, seorang santri yang cantik menitipkan mainannya yang tebuat dari kertas kepada kami. Kami pun langsung memasukkan mainan kertas tersebut ke dalam saku dan terus berada di sana sampai beberapa hari lamanya.

Tanpa sadar pakaian yang kami kenakan waktu itu telah berada di dalam rendaman yang siap dicuci. Ketika mulai mengucek, barulah kami sadari mainan tersebut telah hancur dengan sukses karena basah.

Waktu pun berlalu. Karena kesibukan, kami lupa mengatakan kepada santri cantik itu tentang nasib mainan yang ia titipkan kepada kami. Sampai pada suatu siang, ketika santri cantik itu akan pulang, ia menemui kami dan bertanya;

“Ustadzah, mainan yang dulu aku titipin ke ustadzah sekarang di mana?”

Seketika itu pula barulah kami mengingat kembali. “Afwan ya sayang, mainannya nggak sengaja kerendam dan basah. Mainannya udah hancur dan nggak bisa dipakai lagi. In syaa Allah besok ustadzah cariin gantinya ya.”

Dengan senyum merekah, santri cantik itu menjawab “Oh. Nggak apa-apa ustadzah. Nggak usah diganti. Nanti beli lagi. Banyak kok yang kayak gitu. Nggak mahal.” Lalu santri kecil itu berlalu pergi dengan masih tersenyum lebar tanpa rasa sedih sedikitpun.

Kami pun ikut tersenyum. Senyum penuh kebanggaan. Di saat anak-anak menangis ketika mainannya harus rusak, ia memilih berhati besar dengan merelakan mainannya. Masyaa Allah. Sebuah sikap yang mulai jarang dimiliki oleh seseorang, bahkan oleh orang dewasa sekalipun.

Kebanyakan, ketika harapan kita sudah tak sejalan lagi dengan kenyataan, dengan takdir yang Allah tetapkan, kita akan memilih marah dan menyalahkan Allah, kita berkeluh kesah bahkan sampai sumpah serapah, atau bahkan menangis, berurai air mata.

Kita tidak tahu dan kebanyakan tidak mau tahu bahwa takdir yang ditetapkan oleh Allah pastilah selalu baik untuk diri kita. Kita memilih bersikap acuh dan menjauh dari Allah. Astaghfirullah…

Tengoklah kembali, santri cantik yang usianya masih sangat muda, ia mampu bersikap dewasa dan bijaksana mengalahkan kita. Mungkin ia belum tahu kebaikan apa yang akan ia dapatkan dengan sikapnya yang bijaksana, tapi satu hal, ia telah belajar bahwa marah ataupun mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah, tidak akan mengembalikan mainannya seperti semula. Karena marah dan mengeluh bukanlah sikap seorang anak yang shalihah, yang selalu diajarkan kepadanya di sekolah dan di rumah.

Jadi, ketika santri kecil saja bisa bersikap bijaksana, mengapa kita yang telah dewasa masih saja suka mengeluh?

Tidak malukah?

Wallahua’lam.

_Ustadzah HD_ (Terimakasih santri kecil kami yang cantik, yang telah memberikan pelajaran berharga, Afrina ^^)

.

Tinggalkan Balasan