Intip Cerita

Belajar Dari Anak-Anak – Sang Ketua (Hibban)

ketua-kelas-min

Pertama kali kami mengajar di kelas 1 MI Al-Wahdah, kami sudah terpukau dengan dia, sang ketua kelas. Awalnya kami bertanya-tanya, mengapa dia yang terpilih menjadi ketua kelas? Mengapa bukan santri yang lain yang tubuhnya jauh lebih besar dari dirinya?

Seiring berjalannya waktu, kami pun menemukan jawabannya. Hibban Setyawan, itulah namanya. Dia anak kecil yang memiliki sikap bijaksana yang hampir menyamai orang dewasa. Dia selalu berhasil membuat kami merasa takjub atas setiap kata-kata bahkan keputusan yang ia ambil.

Simak saja, ketika salah satu teman kelasnya yang pemalu bernama Akmal akhirnya mau menjadi imam untuk pertama kalinya, Hibban lalu berkata dengan sangat bijak: Jangankan hari ini ustadzah, besok kalau ada yang nggak mau jadi imam, Akmal mau menggantikan. Ia kan Akmal?

Masyaa Allah, bukankah kata-kata itu adalah kata-kata yang harusnya kita dengarkan dari orang dewasa? Kata-kata penyemangat dan motivasi yang kuat untuk orang lain. Kata-kata itu berhasil membangun kepercayaan diri Akmal menjadi berkali-kali lipat. Sejak saat itu Akmal tidak pernah lagi malu menjadi imam.

Atau simaklah kisah yang satu ini, kala itu kami memberikan tugas diskusi di kelas. Hibban memimpin salah satu kelompok diskusi. Ketika salah satu anggota kelompoknya memberikan masukan dan jawaban, tiba-tiba Hibban berkata dengan lantang sembari menepuk pundak temannya itu; Wah saya tidak menyesal memilihmu menjadi teman kelompok. Jawabanmu pas di saya!

Atau simak pula kisah yang satu ini, ketika itu kami mendapat kunjungan dari YPWI pusat. Mereka memasuki kelas untuk keperluan dokumetasi. Kala itu anak-anak gaduh karena penasaran dengan rombongan yang datang padahal pada waktu yang sama perwakilan YPWI pusat akan mengambil beberapa foto mereka. Dengan sigap dan tanpa komando dari kami, Hibban berteriak lantang sembari berkata; Anak Islam! Dan anak-anak yang lain otomatis menjawab dan duduk rapi, melipat tangan mereka di atas meja; Siap! Pada saat itu yang mengambil foto berhasil mengambil foto anak-anak yang duduk rapi.

Masyaa Allah, perhatikanlah sikap Hibban, anak kelas 1 SD. Diusinya yang masih sangat kecil ia mampu bersikap bijaksana. Bahkan sebagian dari kita masih kalah dari Hibban. Ia mampu memposisikan dirinya sebagai ketua. Dia bisa menjadi penyemangat teman-temannya, bisa menjadi contoh, menjadi penghibur, dan menjadi sosok yang tegas sekaligus disegani.

Mungkin kita bertanya-tanya, dari mana Hibban belajar sikap seperti itu? Jawabannya bisa jadi dari orang tuanya, bisa juga dari faktor lingkungan, yakni sekolah dan teman-temannya. Maka sebagai orang tua, sudah selayaknya kita senantiasa mendidik anak kita sejak dini menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah serta menyekolahkannya di sekolah yang mampu membantu kita mewujudkan cita-cita tersebut.

Dan tentu saja setelah berusaha mendidik mereka, kita tak lupa menyertakan doa kepada Allah Ta’ala agar apa yang kita usahakan berbuah keberhasilan. Karena sungguh, tak ada daya dan upaya kecuali dari Allah Subhanawata’ala.

.

Tinggalkan Balasan