Dunia Orang Tua

Bolehkah Memukul Anak?

memukul-anak

Pemberian pukulan dalam rangka menanamkan pendidikan kepada anak dibolehkan dalam Islam berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam,

Perintahkan anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika tidak melaksanakannya) saat berusia sepuluh tahun.” (H.R. Abu Daud)

Empat imam mahzab juga memperbolehkan diterapkannya pukulan dalam dunia pendidikan berdasarkan hadits di atas namun dengan syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi baik dari sisi akhlak, perilaku, maupun lingkungan sosial.

Ibnu Sina berkata, “Para pendidik anak hendaknya menjauhkan anak didiknya dari perilaku yang tidak baik dan kebiasaan-kebiasaan jelek dengan cara menakut-nakuti dan membujuk, santun dan keras, menolak dan menerima, sesekali memuji dan sesekali mengecam, itu semua sudah cukup. Jika dibutuhkan memukul, maka pukulan yang diberikan hendaknya ringan, tidak begitu menyakitkan.”

Adapaun Izzuddin bin Abdussalam berkata, “Di antara contoh tindakan yang mengandung kemaslahatan dan kerusakan, namun kemaslahatannya lebih besar daripada kerusakannya adalah memukul anak karena meninggalkan shalat, puasa, dan kebaikan-kebaikan yang lain.”

Namun bukan berarti setiap memberi hukuman kita akan memberi pukulan. Masih banyak model hukuman yang lebih baik dan lebih mendidik dari sebuah pukulan, dan pukulan adalah pilihan terakhir setelah kita melakukan segala cara.

Karenanya ada beberapa tokoh yang melarang memberikan hukuman berupa pukulan kepada anak, di antaranya:

  1. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam

Imam Ahmad meriwayatkan dari Aisyah r.a. dia berkata “Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sama sekali tidak pernah memukul pembatunya, tidak pernah pula memukul wanita, dan sesuatu yang lain dengan tangannya kecuali pada saat beliau berjihad di jalan Allah.”

  1. Imam Abu Hamid Al-Ghazali

“Hendaklah sebisa mungkin siswa dicegah dari perilaku tercela degan sindiran, bukan dengan terang-terangan, dan juga dengan cara kasih sayang, bukan dengan mencela. Karena, tindakan terang-terangan dapat merobek tabir kehormatan diri, dan menimbulkan keberanian untuk melawan dengan cara menyelisihi, serta menumbuhkan keinginan untuk melakukannya terus-menerus.

  1. Ali As’ad Wathafah

Ia menyimpulkan dari penelitiannya, bahwa pendidikan yang menggunakan kekerasan dangat berpengaruh pada tingkah laku anak, di antaranya: melahirkan perasaan benci dan marah, stagnasi dan tidak senang, kaku dan malu, cemas dan takut, merasa berdosa dan rendah, hilang percaya diri, serta merasa bersalah dan tidak diperhatikan.

  1. Muhammad Khalifah Barakat

“Hukuman fisik mengandung arti memperlakukan anak bagaikan binatang lemah. Oleh sebab itu, hendaklah hukman fisik dihindari meskipun benar, dan sebaiknya diganti dengan hukuman selain fisik.”

  1. Ustadz Mahmud Mahir Zaidan

“Sesungguhnya kondisi masyarakat serta zaman saat ini menuntut untuk menjauhkan hukuman fisik dari dunia pendidikan. Karena, salah dalam memberikan hukuman fisik dan psikis akan memberikan pengaruh yang sangat buruk terhadap kepribadian dan perilaku seseorang.”

Kesimpulannya, memberikan pukulan dalam rangka mendidik seorang anak dibolehkan dengan memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku dalam Islam, di antaranya pukulan tersebut tidak menyakitkan, ringan, dan lain sebagainya yang in syaa Allah akan kami bahas lebih detail dilain kesempatan.

Pemberian hukuman pukulan yang dibolehkan dalam Islam jangan kita samakan dengan pemberian pukulan yang selama ini kita dapati di masyarakat, yang kebanyakan mengakibatkan anak mengalami kesakitan bahkan sampai lebam dan berdarah. Tentu bukan pukulan semacam ini yang dimaksudkan.

Oleh karena itu sekali lagi, pemberian pukulan dalam rangka mendidik seorang anak memang dibolehkan tapi jadikanlah ia sebagai jalan terakhir dari segala cara yang kita tempuh.

Wallahu’alam.

Refrensi:
Sukses Mendidik Anak Tanpa Kekerasan, Muhammad Nabil Kazhim.

.

Tinggalkan Balasan