Dunia Orang Tua

Cara Bijak Menasehati Seorang Anak

father-and-child-together

Ketika seorang anak kecil melakukan kesalahan, sebagian orangtua dilema dalam mengambil keputusan apakah ingin menegur atau membiarkan kesalahan sang anak dengan alasan sang anak memang masih anak-anak yang notabenenya selalu melakukan kesalahan karena belum memahami banyak hal.

Lalu bagaimana Islam memandang perkara ini? Kita ketahui bersama bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna. Dikatakan sempurna karena Islam mengatur segala urusan manusia, mulai dari perkara yang besar sampai perkara kecil sekalipun. Salah satu bentuk kesempurnaan agama Islam yakni diutusnya Rasulullah Sallallahu’alaihi wa sallam sebagai tauladan untuk seluruh umat manusia. Dari diri beliaulah, Allah memerintahkan kita belajar dan mengambil panutan sebagaimana dalam firman-Nya…

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu.” (Q.s. Al-Ahzab [33]: 21)

Menyikapi kesalahan yang dilakukan oleh seorang anak yang masih kecil, Rasulullah Sallallahu’alaihi wa sallam telah memberikan contoh terbaik yang termaktub dalam sebuah kisah mulia. Kisah ini diceritakan oleh seorang sahabat kecil yakni Umar bin Abi Salamah.

Kala itu, Umar bin Abi Salamah sedang makan bersama Rasulullah Sallallahu’alaihi wa sallam. Karena masih kecil, ia begitu bersemangat untuk memakan semua makanan yang terhidang dan mengambil makanan yang bukan miliknya. Melihat hal tersebut, Rasulullah Sallallahu’alaihi wa sallam pun bersabda,

Ya gulam. Sammillaha, wa kul biyaminika, wa kul mimmaayalika. Ya anakku. Bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang terdekat denganmu.

Dari hadits pendek tersebut terkandung pelajaran yang sangat berharga, di antaranya:

– Kesalahan harus diluruskan walaupun yang melakukan seorang anak kecil.

Dari kisah tersebut, kita mengetahui bahwa Rasulullah Sallallahu’alaihi wa sallam tidaklah membiarkan atau mendiamkan sebuah kesalahan. Ketika kesalahan itu beliau saksikan maka beliau langsung menegurnya.

Berbeda dengan sebagian orang tua atau guru yang seringkali membiarkan kesalahan seorang anak dengan alasan atau anggapan bahwa mereka masih anak-anak sehingga tidak mengapa dan dibiarkan begitu saja.

Padahal kita telah mengetahui bahwa usia anak-anak adalah usia optimal menyerap pelajaran dan meniru segala apa yang mereka dengar dan lihat. Apa yang mereka cerna dan terima sejak kecil akan terus terbawa hingga dewasa. Oleh sebab itu, tidak heran jika hari ini kita masih mendapati orang-orang tua kita makan dengan tangan kiri, makan sambil berdiri, mengobrol di dalam kamar mandi, dan lain sebagainya. Bisa jadi, salah satu faktor adalah mereka tidak mendapat teguran dan hanya dibiarkan oleh orang tua dan guru mereka tatkala masih anak-anak.

– Menegur dengan cara yang baik dan lemah lembut.

Perhatikanlah sabda Nabi Sallallahu’alaihi wa sallam di atas. Beliau menegur Umar kecil dengan kalimat; Ya Gulam yang berarti Ya Anakku. Beliau menegur dengan mengucapkan kata-kata yang baik dan lemah lembut. Beliau tidak menggunakan kalimat yang buruk meski Umar sudah melakukan sebuah kekeliruan.

Hal ini sangat jauh berbeda dengan sebagian kebiasaan orang tua dan guru kita saat ini. Ketika melihat kesalahan seorang anak, banyak dari kita langsung membentak dan mengucapkan perkataan yang buruk. Mereka kebanyakan menggunakan panggilan yang tidak patut kepada anak-anak mereka seperti; Hai Pemalas, Hai Si Hitam, dan lain sebagainya.

Tentunya panggilan buruk akan berdampak buruk pula bagi anak-anak kita terutama bagi psikologis mereka. Lebih dari itu, panggilan tersebut merupakan bagian dari doa-doa kita kepada mereka. Akibatnya banyak anak yang ditegur bersikap acuh tak acuh, masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Terkadang teguran itu tidak diterima bukan karena muatannya yang salah tapi cara menegurnya yang kurang tepat.

– Mempersiapkan kondisi psikologis orang yang akan dinasehati.

Jika kita perhatikan sekali lagi kisah sahabat Umar bin Abi Salamah, maka kita akan mendapatkan satu metode Rasulullah Sallallahu’alaihi wa sallam saat menasehati orang lain.

Metode tersebut adalah mempersiapkan perasaan orang yang akan ditegur dengan tidak menegur langsung kepada kesalahan orang tersebut. Seperti yang terkandung dalam hadits singkat di atas, kesalahan Umar yang sesungguhnya adalah mengambil semua makanan yang ia inginkan bahkan sampai makanan yang menjadi milik orang lain, namun Rasulullah Sallallahu’alaihi wa sallam dalam menasehati tidak langsung menyalakan dan menegur sikap tersebut. Beliau mendahulukan nasehat yang lain yakni membaca basmalah, makan dengan tangan kanan, dan selanjutnya barulah nasehat sesungguhnya; makan yang terdekat denganmu, dalam hal ini bermakna larangan untuk mengambil makanan apa saja, apalagi makanan milik orang lain dan perintah untuk memakan apa yang ada di dekatnnya dan yang menjadi haknya.

Masyaa Allah, dari hadits yang singkat tersebut kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga, bahwa ketika melihat seorang anak melakukan sebuah kesalahan, kita harus menegur dengan cara yag baik dan memperhatikan perasaannya. Sebuah pelajaran untuk sebuah perkara yang sebagian dari kita (orang tua dan guru) salah dalam menyikapinya.

Demikian pula bukti sempurnanya agama Islam. Segala perkara telah Allah siapkan solusinya dalam setiap dalil-dalil dan kisah-kisah yang shahih. Karenanya sudah selayaknya kita kembali merujuk pada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Semoga Allah senatiasa memberikan kita taufiq dan kebijaksanaan dalam menghadapi setiap masalah.

Refrensi:
Rekaman Ceramah Cara Nabi Memberi Nasehat, Abdullah Zaen.

.

Tinggalkan Balasan