Dunia Anak

Demam Saat UAN

uan

UAN. Pagi-pagi ada yang bertanya untuk sebuah wawancara radio tentang berbagai peristiwa memilukan seusai UAN. Tetapi apakah jika sebuah peristiwa terjadi sesudahnya kita dapat mengatakan itu sebagai akibat dari peristiwa sebelumnya? Sama ketika ada seseorang yang meninggal dunia, dan beberapa saat kemudian hujan turun, dapatkah kita mengatakan hujan itu karena kematian seseorang? Serupa dengan terjadinya gerhana yang beriringan peristiwanya dengan kematian seseorang beberapa saat sebelumnya, kita tidak dapat mengatakan gerhana itu karena matinya seseorang.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bershadaqahlah.” (H.R. Bukhari)

Menganggap dua peristiwa yang berdekatan kejadiannya, apalagi sama pelakunya, serta merta memiliki hubungan sebab akibat rentan menjatuhkan kita pada kesalahan berpikir yang sangat serius. Dua hal yang tidak memiliki hubungan sebab akibat, tetapi kita menganggap peristiwa yang berikutnya disebabkan oleh peristiwa sebelumnya. Inilah yang dalam peristilahan sekarang disebut sebagai kesalahan berpikir post hoc ergo propter hoc (sesudah itu, maka karena itu). Memang peristiwa itu terjadi pada saat UAN, tetapi kita tidak dapat menyimpulkan secara gegabah bahwa berbagai kejadian memilukan itu disebabkan oleh UAN.

Ada tiga kemungkinan yang perlu diperhatikan secara mendalam berkait UAN dan peristiwa memilukan yang terjadi sesudahnya. Pertama; apakah peristiwa itu merupakan akibat dari UAN? Artinya, jika tidak ada UAN, maka tidak akan terjadi peristiwa memilukan sama sekali. Ini mengharuskan adanya keadaan bahwa sebelum pelaksanaan UAN mereka benar-benar sangat baik; santun, berbudi pekerti luhur, gigih belajar, jauh dari maksiat, dan berbagai hal lain. Itu pun masih perlu ditelusuri, apakah itu benar-benar merupakan akibat langsung dari UAN? Jika ya, bagaimana bisa demikian? Jika itu bersebab ketakutannya menghadapi ujian, apakah selama ini mereka tidak pernah mengikuti ujian? Apakah yang selama ini dilakukan oleh sekolah sehingga hanya untuk menghadapi ujian saja mereka begitu takutnya? Apakah yang selama ini dididikkan oleh sekolah sehingga menghadapi sedikit kesulitan saja mental mereka sudah hancur?

Teringat ketika suatu hari ditipu oleh beberapa penjual durian di Batang. Mereka sudah tua, lebih tua daripada saya. Tentulah mereka dulu tak sempat menikmati Ebtanas, nama lain UAN yang mulai berlaku semenjak dua angkatan sebelum saya Ebtanas di SD. Perihal tipu-tipu dalam berjualan berbagai produk, bukan hal baru terjadi di negeri ini. Rasanya banyak terjadi di berbagai tempat. Maka ketika suatu hari bertemu pedagang durian di Wonogiri yang begitu jujurnya, terharulah saya. Pertanyaannya, jika UAN menyebabkan ketidakjujuran, maka seharusnya mereka yang tidak ikut UAN akan sangat jujur.

Saya justru khawatir, jangan-jangan kerusakan mental dan kehancuran karakter anak didik itu merupakan produk nyata dari pendidikan yang ada di sekolah. Berapa banyak sekolah yang memperagakan aksi tipu-tipu ketika ada akreditasi? Saat asesor datang, tiba-tiba sekolah menjelma menjadi “surga kecil”. Kotoran segera dibersihkan, pintu kamar mandi yang tak terurus segera diperbaiki, tembok dicat sana-sini. Tidak ketinggalan dipasang berbagai ornamen, termasuk visi misi sekolah yang kepala sekolah pun banyak yang tidak mengingat isinya karena baru dipasang menjelang asesor datang. Ini semua merupakan aksi tipu-tipu, bahasa kerennya kamuflase, yang anak menyaksikannya. Anak belajar dari sini.

Kedua, ataukah UAN sebenarnya sekedar pemicu saja? Ini berarti, bibit-bibit kerusakan sudah ada sejak bertahun-tahun sebelumnya, tetapi tidak muncul karena belum ada pemicunya. Barulah setelah ada UAN, peristiwa tersebut muncul. Ini pun masih ada sejumlah musykilah yang sulit dihubung-hubungkan dengan UAN. Apa korelasi antara UAN dan pesta seks? Tidak akan terjadi pesta seks kalau kemaksiatan yang lebih kecil belum akrab dengan mereka.

Ketiga, ataukah UAN dan peristiwa sesudahnya sekedar sebagian etalase dari berbagai etalase kebobrokan? Alangklah banyak yang mengatakan kenakalan anak sama sekali tidak ada, banyak pula yang mengatakan itu hanya soal persepsi saja sehingga saat terjadi kenakalan tidak segera diatasi. Tetapi ketika peristiwanya sudah meningkat menjadi kriminalitas -dan kejadian di Indonesia cukup memprihatikan- barulah kita terhenyak, tetapi sesudah itu reda lagi.

Di luar itu, sebenarnya jika sekolah benar-benar mendidik siswanya dengan baik semenjak awal masuk sekolah, membenahi ketika timbul GEJALA masalah dan tidak menunggunya hingga parah, maka seharusnya siswa tidak perlu gemetar menghadapi ujian. Jika anak-anak ditumbuhkan budaya belajarnya dan guru pun tak berhenti belajar, maka anak justru menanti-nantikan datangnya ujian akhir nasional karena inilah saatnya mereka akan menentukan langkah berikutnya. Seorang pendaki justru akan sangat bahagia apabila memperoleh kesempatan menaklukkan medan yang sulit dan gunung yang tinggi.

Ataukah jangan-jangan anak hanya digelontor informasi bernama pengetahuan? Bukan minatnya kepada ilmu. Bukan kesungguhan untuk berpikir mendalam dan mengkaji dengan tekun. Itu pun ketika ada kesulitan, guru pun lari kepada Google dan anak-anak juga diminta untuk bertanya kepada Google.

Jika mereka benar-benar dididik untuk memiliki budaya belajar, ditempa jiwanya digembleng mentalnya, mengapa hanya untuk menghadapi UAN saja mereka harus terkapar gemetar?

_Ust. Mohammad Fauzil Adhim_

.

Tinggalkan Balasan