Diary Guru

Fazil, Si Strong Student

Setiap anak pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Pemahaman seperti ini wajib dimiliki seorang pendidik, baik sebagai seorang guru di sekolah maupun orangtua di rumah. Hal ini dibutuhkan sebagai modal menjaga optimisme seorang pendidik dikala mendapati anak didik yang tak kunjung menampakkan kelebihan dan sebagai sarana untuk mengasah kesabaran sembari tertantang mencari metode pembelajaran kreatif guna menemukan kelebihan peserta didik tentunya.

Selain itu gaya belajar masing-masing anak pun berbeda. Gaya belajar si “A” berbeda dengan gaya belajar si “B”, begitu pula dengan si “C” memiliki gaya belajar yang berbeda lagi, begitu seterusnya. Olehnya itu seorang pendidik perlu tahu bagaimana mengindentifikasi gaya belajar masing-masing peserta didiknya. Memiliki kemampuan ini sangat penting bagi pendidik untuk membantu menemukan metode apa yang tepat bagi peserta didiknya sekaligus memudahkan menemukan serta mengarahkan peserta didik menemukan kelebihan dan potensinya.

Adalah Fazil Jivala Pramudito, siswa TTA kelas Al Fiil ini contohnya, secara fisik putra bapak Dimaz Pramudito berbeda dengan anak-anak seusianya, memiliki perawakan tubuh yang tinggi besar, sehingga teman-temannya menjaga jarak dalam berinteraksi dengannya. Selain itu memiliki prilaku unik, yang tentu tidak dimiliki teman sebayanya. Yaitu cenderung tertarik dan senang dengan aktifitas belajar yang berkaitan dengan motorik kasar dan mengeluarkan energi yang besar. Terlihat sesekali ia keluar kelas di saat pembelajaran, berjalan kadang berlari menelusuri dan menjelajahi area sekolah. Tak jarang terekam mataku, ia mencoba mengangkat benda berat seperti kursi dan batu. Yah, kalau anda menyaksikan sendiri pasti sama penilaian anda dengan saya, bahwa ia adalah “the strong student” dalam sekolah TTA Al Wahdah.

Kala itu saya memiliki agenda yang berhubungan dengan motorik kasar yaitu memindahkan batako dan pasir dari halaman depan ke halaman belakang sekolah. Dengan menggunakan alat pengangkut yang kami sebut “angko”, kegiatan tersebut pun saya mulai. Ternyata benar Ananda Fazil pun tertarik terhadap apa yang aku lakukan. Dan tingkat ketertarikannya pun berbeda dengan teman sekelasnya. Di kala teman-temannya memanfaatkan waktu istirahat dengan duduk manis menyaksikan prosesi angkat batako tersebut, ia malah mendekat berupaya membantu mengangkatnya. “jangan mas Fazil, itu berat nak!” cegahku seraya hati ini terselip rasa kagum terhadapnya, kagum akan niatan membantu orang lain dalam meringankan bebannya. Tak berhenti disitu, disaat teman-temannya berebut hendak meminta izin kepadaku menaiki angko kosong yang saya dorong, ia tampak tidak tertarik layaknya teman-temannya, yang senang tak terkira ketika saya izinkan naik alat pengangkut pasir tersebut. Ia malah tertarik dengan apa yang saya lakukan yaitu mendorong angko tersebut.

Ketertarikannya terhadap aktifitasku, saya anggap sebagai momentum yang tepat sebagai materi pembelajaran baginya. Maka kuizinkan ia menggantikanku mendorong angko kosong tersebut menuju halaman depan sekolah, yang tentunya kegiatan tersebut ia lakukan dibawah pengawasanku. Ku ikuti dari belakang dengan sesekali mengarahkan, sembari memberikan apresiasi pujian baginya karena telah mampu mengemudikan angko tersebut. “Ma sya Allah mas Fazil ternyata hebat ya, kuat mendorong angko ini”!. Kulihat ia senang dengan itu dan tambah semangat untuk bisa mendorong alat tersebut sampai tujuan, subhanallah … !!!

Tapi di tengah perjalanan, ada peristiwa menarik dan sarat pembelajaran baginya. Yaitu ketika di perjalanan, ia mendapati medan tanjakan yang cukup menyulitkannya. Ia coba berkali-kali tapi tak kunjung mampu melewatinya. Saat itulah saya mendekat, saya ajarkan satu nilai hidup sebagai seorang muslim dikala menemui kesulitan dalam hidup. “Mas fazil terlihat kesulitan ya melewati ini?” tegurku kepadanya yang masih mencoba melewati tanjakan tersebut. “Mau Pak Ihsan kasih tahu agar mas Fazil mampu melewatinya?” lanjut ujarku padanya. Ternyata ia mendengarkanku, ia berhenti sejenak menunggu apa yang hendak ku katakan. “Begini mas, kalau kamu tidak kuat, baca bismillah dulu … baru dorong kuat-kuat, Allah pasti bantu kita!!!” terangku sambil mengambil alih angko mencontohkan sembari memeragakan bagaimana teknisnya. Subhaanallah … apa yang terjadi setelah itu??, tidaklah ia melewati medan tersebut dan merasa kesulitan tidak sanggup melewatinya kecuali ia menirukan apa yang saya ajarkan, berhenti sejenak berdoa sambil mengangkat tangan kemudian ia mendorongnya kuat-kuat dan akhirnya ia mampu melewati medan berat itu, subhanallah luar biasa senang hati ini melihatnya. Melihat kejadian itu, bagi seorang pendidik adalah kebahagiaan tiada tara. Keletihan saya dalam aktifitas kala itu, langsung mereda dan terobati, Alhamdulillah …!!!

Ternyata bukan saya saja yang senang melihatnya. Ihsan, salah satu murid kelas 2 MI Al Wahdah pun terkagum-kagum melihatnya. Melihat mas Fazil berhenti sejenak kemudian berdoa mengangkat tangan sebelum melewati tanjakan itu, membuatnya tersenyum kagum, kemudian ia ceritakan sama teman-temannya dan ustadzah TTA tentang kejadian tersebut. “Ustadzah, tadi Fazil waktu mau dorong angko, berdoa dulu lho!” lapornya kepada salah satu ustadzah TTA dengan antusias. Pastinya tambah satu lagi yang senang terhadap kamu mas fazi, yaitu gurumu…!!!

Ananda Fazil, semoga nilai itu tidak bersifat sementara pada dirimu saat aktifitas tersebut saja nak!. Semoga nilai pasrah dan tawakallmu kepada Allah juga ada dikala engkau menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Berharap kelak menjadi karakter yang tertanam kuat dalam dirimu. Engkau selalu gunakan saat ikhtiar dan usaha manusia sudah tak berdaya dalam menghadapi kesulitan yang menghimpit, mulai saat itu sampai akhir hayatmu … aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Sleman, 6 Rabi’ul Awwal 1437 H

——————————————

Bertepatan, 6 Januari 2016 M

IAH.

Tinggalkan Balasan