Dunia Pengajar

Guru Adalah Profesi Terbaik, Benarkah?

 

guru

Sebagian besar anak kecil atau bahkan saat kita masih kecil atau anak-anak kecil sekarang ini ketika ditanya tentang cita-cita, sebagian besar menyebutkan cita-cita yang hampir sama, menjadi dokter, pilot, presiden, arsitek, tentara dll. Dan sangat jarang mencita-citakan menjadi seorang guru. Bukan berarti dan jangan dipahami bahwa cita-cita tersebut tidak baik, bukan! Cita-cita tadi baik dan sangat dibutuhkan masyarakat dan umat. Tapi karena yang saya bahas adalah sesuatu yang terbaik, maka saya katakan cita-cita tersebut masih ada yang lebih baik, yaitu cita-cita menjadi guru.
Yach, Guru adalah profesi yang terbaik bahkan mulia. Kenapa? Dikatakan terbaik karena semua cita-cita yang baik tadi, tidaklah tercapai atau terealisasi kecuali dari jasa seorang guru. Tidaklah dokter dapat menggapai gelarnya kecuali atas bimbingan guru. Tidaklah pilot dapat menerbangkan pesawat kecuali atas didikan guru. Bukankah arsitek, tentara dan profesi lainnya pun terwujud juga karena jasa dari guru???

Kemuliaan guru terletak pada apa yang disampaikan, apa yang diajarkan, bukan siapa yang menyampaikan. Ketika yang disampaikan adalah sesuatu yang baik dan membawa kebaikan maka baik pula orang yang menyampaikan atau guru tersebut. Sebaliknya jika apa yang disampaikan adalah sesuatu yang tidak baik atau keburukan maka “penyampai atau penyeru” tersebut tidak dikatakan baik atau mulia. Malah bisa jadi orang yang memiliki kebiasaan buruk pun, ketika ia pernah menyampaikan sesuatu yang sesuai kebenaran maka kita katakan ia telah melakukan kebaikan. Memfokuskan terhadap apa yang disampaikan adalah nasehat dari sang imam. Tepatnya imam syafi’i –rahimahullah-, salah satu ulama madzhab Ahlussunnah ini memberikan wejangan cara menuai kebaikan, beliau bertutur :

أُنْظُرْ مَاذَا قَالَ وَلاَ تَنْظُرْ مَنْ قَالَ

“Lihatlah apa yang dikatakan dan janganlah melihat siapa yang menyampaikan”

Bahkan dalam kitab shahih bukhori –rahimahullah-, tepatnya bab wakalah menyebutkan kisah Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu dengan setan. Kisah bagaimana Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- mendapat pelajaran saat menangkap setan yang menyamar menjadi manusia, telah mencuri harta zakat untuk ketiga kalinya , ketika hendak dilaporkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, setan itu membujuk beliau agar melepaskannya dengan imbalan akan mengajarkan kebaikan yaitu membaca ayat kursi ketika hendak tidur agar tidak diganggu setan sampai pagi. Ketika ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang ini, beliau bersabda: “Wahai Abu Hurairah, pencuri itu telah berkata benar, sekalipun sebenarnya ia tetap pendusta. Tahukah engkau siapa sebenarnya pencuri itu? Ia adalah setan yang menjelma menjadi seorang pencuri”. Jadi siapapun bisa menjadi guru, guru yang baik.

Beruntunglah orang yang menjadi guru atau orang yang mengambil peran fungsi guru. Karena guru adalah penyampai kebaikan dan setiap penyampai kebaikan akan mendapatkan keutamaan yaitu sebaik-baik pekerjaan. Hal ini disebutkan Allah dalam firmanNya :

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Dan siapakah orang yang paling baik perkataannya dari orang yang mengajak ke jalan Allah dan beramal shaleh dan berkata sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri” (Q.S. Fusilat: 33)

Yah memang ayat di atas adalah ayat tentang keutamaan berdakwah, keutamaan menyeru ke jalan Allah. Apakah guru mendapat keutamaan tersebut??? Saya katakan in sya Allah termasuk, karena guru seluruh aktifitasnya bertujuan menanamkan nilai-nilai kebaikan. Mengajak dakwah kepada Allah, Semoga … aamiin!!!

Ihsan Abu Hisyam (IAH)

.

Tinggalkan Balasan