Diary Guru

Hafalan lisanmu, prestasi buat orang tua.

tilawah

Al Qur’an merupakan kitab suci umat Islam. Iman kepadanya adalah bagian mendasar keimanan seorang muslim. Menjadi Ahli Qur’an adalah impian pribadi muslim. Tak ayal, mempelajarinya merupakan kewajiban yang harus direalisasikan dalam diri orang beriman. Ia tak sekedar peta penuntun hidup tapi juga cahaya penerang kehidupan, menjadi sumber solusi dikala berjalan dalam gelapnya kehidupan. Terlebih menapaki kehidupan di zaman modern ini, era internet yang cenderung berdampak terhadap moral yang buruk, Media yang menyajikan acara yang jauh dari tuntunan, jauh dari nilai-nilai ketimuran bangsa dan Islam, seolah mengharuskan seorang muslim kembali dengan Al Qur’an.

Menyekolahkan anak di lembaga pendidikan yang fokus membangun nilai-nilai Islam adalah bagian dari solusi. Berharap memiliki generasi yang shaleh, cinta dengan nilai-nilai Islam serta berakhlak mulia terdidik sejak dini, ternanam jauh-jauh hari. Adalah harapan dan cita-cita para orang tua.

Mudah-mudahkan cerita yang saya tulis ini, cerita anak-anak disekolah Al Wahdah bisa sedikit memenuhi harapan para walisiswa, yang telah percaya terhadap lembaga ini.

Berawal dari melihat hal yang menarik di sekolah, kemudian karena anjuran menyatakan suatu “nikmat” pada orang lain, sebagaimana firman Allah “ Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan(dengan bersyukur)” Q.S. Ad Duha ayat 11, adalah satu alasan mengapa saya menulis ini.

Sebenarnya tak sengaja melihatnya, sepulang dari shalat dhuhur di masjid yang agak jauh dari sekolah, saat memasuki sekolah, seperti biasanya terlihat anak-anak bermain dihalaman sekolah. Yah karena saat itu adalah waktunya Istirahat ke 2. Anak-anak nampak begitu senang dan menikmati permainan. Tanpa memperdulikan cuaca panas, mereka terlihat asyik bermain bersama.

Bagi saya pribadi, awalnya tidak ada yang menarik dari permainan mereka. Mereka berkumpul main sana sini yang tidak jelas temanya. Tetapi terjadi kegiatan menarik, yang tertangkap dan terekam saat itu, yang akhirnya memancing penasaran mengenal anak ini. Yah melantunkan ayat suci Al Qur’an saat bermain, menikmati lantunan surah Al Kautsar sambil bermain. inilah yang membuat saya penasaran sekaligus peristiwa yang menakjubkan bagi saya!.

Membaca Al Qur’an saat pelajaran mengaji itu bagus, tapi saya katakan itu wajar karena sudah dijadwalkan. Menghafal saat pelajaran tahfidz itu baik, tapi saya nilai itu lumrah karena sudah dikondisikan. Muraja’ah atau mengulang-ulang hafalan saat mau ujian itu sikap terpuji, tapi tetap saya katakan itu biasa karena tahu akan dinilai.

Nah, membaca Al Qur’an atau muraja’ah dikala main inilah yang membuat saya kagum dan sebuah prestasi. Kenapa demikian?? Karena untuk bisa berada dalam kondisi itu tidak gampang, bahkan cenderung susah untuk mewujudkannya. Betapa tidak, bagi para orang tua yang pernah atau ingin mengajarkan hafalan atau para pendidik pasti sudah pernah mengalami, betapa butuh perjuangannya dalam mengkondisikan anak untuk dekat dengan Al Qur’an. Pekan kemarin diajarkan satu surah, pekan ini lupa surah yang sudah diajarkan. Pekan ini jadwalnya nambah hafalan, eh anak-anaknya sibuk mainan. Jika kita pernah mengalami hal seperti ini, pasti setuju bahwa hal ini menarik.

Belum lagi kalau kita berbicara lingkungan, dikala televisi senantiasi menemani, di saat prilaku teman bergaul di sekitar rumah yang non Islami, disaat lagu dan musik menjejali, susah terasa mengatakan kondisi itu sebagai sebuah hal yang biasa.

Maka dari itu, tertarik hati ini untuk mengenalnya. Dia adalah Muhammad Abdul Fattah Alawi, putra dari bapak Dedi. Anak yang mempunyai nama panggilan Fattah ini, ternyata baru duduk di kelas besar Taman Tahfidz Al Qur’an (TTA) Al Wahdah. Data informasi ini saya dapat dari ustadzah TTA, sekaligus saya minta nomor hand phone orangtuanya, sekedar ingin menyampaikan kejadian ini dan sekaligus menanyakan bagaimana pola asuhnya, siapa tau membuat mereka senang, siapa tau juga mereka menganggap ini adalah prestasi buat anaknya.

Subhanallah, semoga kami dijauhkan dari penyakit-penyakit hati. Biasanya kami muroja’ah apa yang diajarkan ustadzah di TTA baik di rumah maupun pas dalam perjalanan antar jemput sekolah, terkadang kami selingi dengan memperdengarkan murottal anak” Demikian balas pak Dedi ketika saya sampaikan kejadian ini. Beliau di akhir kalimatnya mendoakan “semoga ini menjadi amal jariyah para ustadz&ustadzah TTA” .

Terimakasih pak Dedi atas tipsnya, terimakasih atas peran aktifnya, semoga anak-anak semakin dekat dengan Al Qur’an. Aamiin!!

IAH

—–

(Sleman, 13 Dzul Qo’dah 1436 H, bertepatan 28 Agustus 2015 M)

 

 

 

 

 

 

 

.

Tinggalkan Balasan