Diary Guru

Jabat Tangan dengan Lawan Jenis? – Kecil-Kecil Jadi Teladan

Jabat Tangan dengan Lawan Jenis? – Kecil-Kecil Jadi Teladan

Dia adalah anak yang sopan dan ramah kepada siapa saja termasuk kepada teman-temannya di kelas. Setiap hari, ketika memasuki kelas, dia selalu menyalami kami dan teman-temannya tanpa terkecuali. Dia menghampiri temannya yang duduk di bangku satu-persatu sembari mengulurkan tangan kanannya.

Tapi pagi ini ada yang terlihat berbeda dari santri yang duduk di bangku kelas satu itu. Seperti biasa ia memasuki kelas dengan mengucapkan salam. Lalu tanpa menanggalkan tas dari punggungnya, ia langsung menghampiri kami untuk salaman. Lalu ia pun berjalan mengelilingi kelas untuk menyalami temannya satu persatu. Dan di sinilah letak perbedaanya.

Jika biasanya ia menyalami semua teman kelasnya, hari ini ia hanya menyalami teman laki-laki sementara ketika dengan teman perempuan ia cukup mempertemukan kedua telapak tangannya lalu menempatkannya di depan dada layaknya ketika seeorang sedang sungkem. Ia tetap menyapa teman perempuannya tapi tidak lagi menyentuh tangan mereka sama sekali.

Melihat hal itu membuat kami bangga sekaligus senyum-senyum sendiri. Bangga karena ia mencoba untuk menegakkan satu syari’at Allah pada dirinya, yakni tidak menyentuh wanita yang bukan mahramnya. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

Andai kata kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ar-Ruyani dalam Musnad-nya no.1282, Ath-Thabrani 20/no. 486-487 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 4544 dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 226).

Lalu dalam hadits yang lain,

Sesungguhnya aku tidak pernah berjabat tangan dengan wanita.” (HR. Malik 1775, Ahmad 6/357, Ibnu Majah 2874, An-Nasa’i 7/149, dan lainnya).

Kemudian hal ini diperkuat lagi oleh Aisyah r.a.

Demi Allah tidak pernah sama sekali tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyentuh tangan wanita dalam berbai’at, beliau hanya membai’at mereka dengan ucapan“.

Masyaa Allah. Dia masih kecil tapi telah paham dan berusaha mengamalkan sunnah tersebut. Sebuah sunnah yang banyak dilalaikan oleh orang dewasa di luar sana, padahal merekalah yang paling berkewajiban melaksanakannya.

Nah, jika anak kecil saja berani dan tidak malu melaksanakan syari’at Allah Ta’ala, mengapa kita yang sudah dewasa, bahkan sudah paham ilmunya, tidak berani untuk mengamalkan syari’at-Nya?!

Dan untuk Amaly, santri kami yang pagi ini memberikan pelajaran berharga dan cerita penuh hikmah, teruslah menjadi anak yang sopan dan santun. Anak yang shalih dan taat kepada Umi dan Abi. Semoga ketika engkau telah dewasa, engkau tetap menjadi seorang muslim yang pemberani, berani mengamalkan syari’at Allah dan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga engkau tetap menjadi seorang muslim yang selalu memberikan teladan pada muslim yang lainnya.

_Ustadzah HD_ (Jogja, 25/01/2016)

.

Tinggalkan Balasan