Diary Guru

Jangan Lupakan Allah, Nak!

Walk to Allah

Jumat tanggal 28 Agustus menjadi hari terakhir Musa dan Harun melakukan aktifitas di sekolah. Ayahnya atau akrab mereka panggil dengan sebutan Abi, telah menyelesaikan kuliah dan harus kembali ke kampung halamannya di Pare, Kediri.

Sejak pagi anak-anak MI Al-Wahdah kelas 1 dan 2 sibuk menyiapkan kado perpisahan untuk keduanya. Mereka sudah tidak sabar untuk menyerahkan kado-kado itu kepada teman mereka yang akan pergi. Berharap dengan pemberian mereka, Musa dan Harun tetap mengingat mereka meski nanti telah jauh dan tidak bersama.

Hadiah mereka bermacam-macam. Dan karena mereka masih anak-anak, mereka sibuk membandingkan hadiah yang mereka berikan. Ada yang memberikan jaket, buku, wadah makan, tempat pensil, dan lain sebagainya. Tapi dibandingkan semuanya, ada satu hadiah yang menurut kami paling berharga dan menyentuh hati, yakni surat yang dituliskan sendiri oleh masing-masing santri untuk Musa dan Harun.

Isi surat mereka tidak panjang. Rata-rata surat mereka hanya terdiri satu kalimat. Tapi, satu kalimat itu adalah kalimat yang menyentuh ketika orang lain membacanya. Di antara isi surat mereka adalah…

Musa, kalau kamu rindu aku, sms ya. Lalu diakhir surat ia sertakan sebuah nomor telepon orang tuanya.

Harun, jangan lupa shalat ya.

Harun, aku menyayangimu dan mencintaimu.

Dan masih banyak lagi surat yang lainnya. Tak lupa suratnya diberi gambar dan berbagai warna yang menandakan mereka masih anak-anak.

Mungkin Harun yang masih duduk di kelas 1 SD belum bisa benar-benar memahami arti kebersamaan mereka yang terjalin selama kurang lebih satu bulan lamanya. Berbeda dengan Musa yang duduk di bangku kelas 2, paling tidak ia lebih bisa memahami arti kebersamaan, pertemanan, persahabatan yang telah mereka jalin selama satu tahun lebih. Kami memang tidak mendapati raut sedih di wajah Musa, tapi hatinya tentu akan merasa ada yang hilang di dalam sana.

Sebagai ustadz dan ustadzah, tidak ada hal berharga yang bisa kami berikan kepada Musa dan Harun kecuali sedikit ilmu yang pernah kami ajarkan. Berharap yang sedikit tersebut bisa bermanfaat untuk keduanya dan orang lain. Berharap segala kebaikan yang telah diajarkan di sekolah MI Al-Wahdah terus melekat pada keduanya. Berharap apa yang buruk tetap tertinggal di sekolah dan menjadi evaluasi bagi kami pribadi agar lebih baik di hari-hari berikutnya.

Musa dan Harun, dua kakak beradik yang shalih in syaa Allah. Nama keduanya diambli dari dua nabi Allah yang mulia. Harapan orang tua dan ustadz/ah adalah keduanya bisa seperti Nabi Musa dan Harun a.s. di masa lalu. Saling tolong-menolong, bahu-membahu, topang-menopang dalam menyebarkan agama Allah. Tidak takut kepada apapun dan siapapun kecuali kepada Allah Ta’ala. Tegar dalam menghapi ujian hingga titik keringat dan darah penghabisan.

Musa dan Harun, selamat jalan. Semoga kalian mendapatkan banyak kebaikan di tempat yang baru. Teruslah menjadi anak yang shalih, berbakti pada Umi dan Abi. Harapan kami tentu tak ingin dilupakan. Namun jika itu terjadi di suatu hari nanti, tidak mengapa asalkan satu hal, jangan pernah lupakan Allah, Nak!

Musa dan Harun, ketika kalian pergi bukan berarti kita semua tak bertemu lagi. Di dalam hati kami memanjatkan doa hanya kepada Allah agar kelak Allah mempertemukan kita kembali. Dan sebaik-baik serta seindah-indah pertemuan adalah pertemuan di jannah-Nya kelak. Aamiin ya Rabbal ‘Aalamiin.

.

Tinggalkan Balasan