Diary Guru

Jika Kamu Telah Dewasa

lumpuh

Tak pernah bosan kita panjatkan pujian hanya tertuju kepada Allah, Zat penguasa alam raya. Shalawat dan salam tercurah kepada kekasih Allah nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam, manusia yang paling baik akhlaknya dan paling tinggi keimanannya.

Nak, kali ini kami akan bercerita tentang sebuah pemandangan yang tersaji beberapa hari lalu. Waktu itu kami sedang duduk di antara barisan jama’ah yang akan melaksanakan shalat i’d. Yah, hari itu bertepatan dengan hari raya Idhul Adha. Tua-muda, manula-anak-anak datang berbondong-bondong dengan perasaan bahagia dan penuh kesyukuran, perasaan yang juga kami rasakan di dalam hati.

Dan, tahukah Nak, kesyukuran kami semakin bertambah manakala kami melihat seorang anak berbaju merah yang usianya masih sangat muda, kurang dari 2 tahun. Awalnya kami mengira dia seperti anak-anak yang lain, yang tumbuh sehat dan sempurna. Tapi kami keliru Nak, sepintas anak laki-laki itu memang terlihat sama, ia begitu lincah mengejar temannya dengan bertumpuh pada kedua lututnya. Kala itu hati kami berkata; ya mungkin anak kecil itu sedang malas berdiri untuk mengejar. Lama memperhatikan, barulah kami menyadari satu hal, anak kecil itu tak mampu berdiri meski punya dua kaki. Dua tapak kakinya nampak tidak sempurna, tidak seperti dua tapak kakimu yang bisa engkau pakai berjalan Nak.

Kami menatap wajah anak kecil itu, tak ada sedih tergambar di sana. Tidak pula ada malu karena fisiknya berbeda dari yang lain. Mungkin karena ia masih anak-anak sehingga ia belum mengerti tentang ketidaksempurnaan dirinya, atau bisa jadi ia sudah mengerti, hanya saja Allah menanamkan kesabaran serta keikhlasan pada hatinya yang bersih.

Sampai di sini, kami ingin bertanya; sudahkah kita bersyukur pada Allah atas kesempurnaan fisik yang diberikan kepada kita? Sudahkah kita bersyukur dengan dua kaki yang kita pakai berjalan dan berlari? Dan ini hanya kaki Nak, belum tangan, mata, telinga, hidung, jantung, hati, otak, pakaian, makanan, rumah, dan semua kenikmatan yang tentu saja tak mampu kami tulisakan satu-persatu. Sudahkah semua itu kita syukuri?

Dan cara terbaik bersyukur kepada Allah bukan hanya sekedar di lisan, tapi dengan beribadah dan tidak menyekutukan-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Mencintai Rasul-Nya dan mengikuti apa-apa yang dibawah olehnya (sunnah).

Nak, kami tahu kau belum memahami apa yang kami ceritakan saat ini karena kau pun masih sangat muda. Harapan kami, kelak jika engkau telah dewasa, engkau akan mengerti dan menjadi manusia yang paling banyak bersyukur kepada Allah. Harapan kami semoga orang dewasa di luar sana juga ikut membaca dan mengambil banyak ibrah dari cerita kami kali ini.

Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufiq dan hidayah-Nya serta meneguhkan kedua kaki kita di atas jalan agama-Nya yang lurus, Aamiin…

Wallahua’lam.

_Uastadzah HD_

.

Tinggalkan Balasan