Dunia Pengajar

Jujur

papantulis

Jujur adalah kunci keselamatan seorang hamba di dunia dan akhirat. Allah telah memuji orang-orang yang jujur dan memotivasi orang-orang Mukmin agar termasuk di antara mereka dengan Firman-Nya,

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (Q.s. At-Taubah [9]: 119)

Sifat jujur adalah mahkota di atas kepala seorang guru. Kejujuran seorang guru akan menanamkan rasa percaya anak didik kepadanya dan kepada perkataannya serta menghormatinya. Kejujuran seorang guru akan terlihat pada konsekuensi-konsekuensi tanggungjawab yang dipikul di atas pundaknya, yang mana di antaranya adalah mentransfer pengetahuan lengkap beserta hakikat dan pengetahuan-pengetahuan yang dikandungnya kepada para generasi penerus.

Berikut sebuah contoh yang memperlihatkan dampak negatif dari sifat dusta terhadap anak didik. Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu bertutur, “Pernah ada salah seorang siswa bertanya kepada gurunya dalam rangka megingkari perbuatan merokok salah seorang guru lain. Guru tadi memberikan jawaban untuk membela rekannya, bahwa penyebab dia merokok adalah saran dokter kepadanya. Ketika keluar kelas, siswa tersebut berkata, ‘Guru itu telah mendustai kita.’

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu memberikan tanggapan, andai saja guru tersebut bersikap jujur dalam jawabannya dan menjelaskan kesalahan rekannya bahwa merokok hukumnya haram karena dapat membahayakan fisik, menyakiti orang lain, dan menyia-nyiakan harta, tentunya dia akan memperoleh kepercayaan siswa dan kecintaan mereka. Dan bisa saja guru ini mengatakan kepada para siswanya, ‘Guru itu hanyalah satu (jenis) manusia, dia bisa benar dan bisa salah…’

Demikianlah ketika seorang guru tidak bersikap jujur kepada anak didiknya. Dia akan kehilangan kepercayaan anak didiknya akan ilmu dan pengetahuan-pengetahuan yang disampaikannya kepada mereka, karena anak didik pada umumnya akan menerima setiap yang dikatakan gurunya. Maka jika para anak didik menemukan kedustaan gurunya di sebagian perkara, hal itu secara otomatis menjadikannya jatuh di mata para anak didiknya.

Atau bisa juga, jika anak didik terbiasa menerima sikap tidak baik ini dari sang guru, barangkali ia akan menganggap bagus perbuatan ini sehingga menjadi orang yang melazimi dan melakoninya. Ini adalah perkara yang berbahaya bagi masyarakat. Dan kita berdoa semoga Allah menjauhi kita dari sikap yang demikian. Aamiin…

Wallahu’alam.

-Dikutip dari buku Begini Seharusnya Menjadi Guru oleh Fu’ad bin Abdul Aziz asy-Syalhub.

.

Tinggalkan Balasan