Diary Guru

Karakter Anak Shalih – Jangan Korupsi!

Karakter anak shalih adalah sebuah karakter yang diinginkan oleh semua orang tua muslim untuk putra putrinya di mana pun berada. Karena itu, tidak sedikit orang tua di zaman ini berlomba-lomba memasukan anak mereka ke sekolah Islam agar impian mereka memiliki anak yang shalih bisa terwujud.

Karakter Anak Shalih - Jangan Korupsi

Bicara tentang karakter anak shalih, maka itu pula yang tengah kami usung di Sekolah Al-Wahdah Yogyakarta. Kami berupaya untuk menanamkan karakter anak shalih sejak usia dini agar ketika mereka dewasa mereka mampu menjadi orang-orang yang jujur, bermartabat, dan bermanfaat bagi orang banyak.

Berkenaan dengan hal tersebut, kami memiliki sebuah kisah yang semoga dapat kita ambil ibrahnya bersama-sama.

Siang itu jam makan siang, seperti biasa setiap santri MI Al-Wahdah mengantri untuk mengambil jatah makan siang mereka di dapur sekolah. Setelah beberapa saat, terdengar kegaduhan di luar dapur. Salah seorang santri tak sengaja menumpahkan semua makan siang yang sudah dibagikan untuknya. Teman-teman yang lain menyuruhnya untuk kembali ke dapur dan meminta ganti makan siang. Tapi sang anak tersebut menolak.

Kami pun menghampirinya.

“Makanannya tumpah ya?”

“Iya ustadzah.”

“Ayo, ikut ustadzah. Kita ambil makan siang yang baru.”

“Nggak usah ustadzah.”

“Loh kenapa? Nanti lapar loh nggak makan siang.”

“Em,,, memangnya boleh dapat ganti ya ustadzah? Nggak harus bayar lagi kan?”

Lalu kami terdiam sejenak. Masyaa Allah. Coba pikirkan pesan dibalik kalimat terakhir anak itu. Dia, santri kelas 2 MI (SD), telah memiliki karakter shalih di usianya yang masih sangat muda.

Dia bukan tidak lapar sehingga menolak untuk meminta ganti jatah makan siang. Dia hanya takut, makanan pengganti itu tidak berhak ia makan, karena yang ia tahu, orang tuanya hanya membayar jatah makan siang sekali dalam sehari. Ia takut, makanan itu menjadi haram jika ia tidak membayarnya. Dan karena haram, ia takut masuk ke dalam Neraka.

Rasululah Sahallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Siapa yang dagingnya tumbuh dari pekerjaan yang tidak halal, maka neraka pantas untuknya.” (HR. Ibnu Hibban 11: 315, Al Hakim dalam mustadroknya 4: 141. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 4519)

Masyaa Allah. Dia seorang anak yang masih sangat muda namun karakter shalih sudah tertanam dalam dirinya. Dia bahkan mengalahkan orang dewasa yang belakangan ini sangat marak melakukan korupsi, memakan dan memakai sesuatu yang tidak menjadi hak mereka.

Duhai saudaraku, lihatlah karakter anak ini. Jika sejak kecil ia telah paham tentang hak dan kejujuran, maka tunggulah ketika ia dewasa, ia akan menjadi pemuda yang disegani, bijaksana, dan memiliki kehormatan di mata orang lain. Jika untuk hal kecil saja ia takut korupsi apalagi untuk hal yang besar.

Kami pun melebarkan senyum. “In syaa Allah boleh. Nggak harus bayar lagi. Kan ustadzah yang ngajakin, berarti udah ustadzah ijinin. Ayo!”

Rasulullah bersabda:

Tidak halal mengambil harta seorang muslim kecuali dengan kerelaan dirinya,” (HR. Abu Dawud dan Daruquthni, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 7662).

Dia pun tersenyum dan melangkah cepat mengikuti kami ke dapur.

Wallahu’alam.

_Ustdzah HD_

.

Tinggalkan Balasan