Dunia Orang Tua

Karena Hikmah yang dimiliki, Derajat kedudukannya hampir menyamai Nabi

Serial Tadabur (4)

lukman hakim

Adalah lukmanul Hakim, suatu nama yang tidak asing bagi seorang muslim. Namanya diabadikan menjadi salah satu nama dari nama surah Al Qur’an. Sebagai bentuk apresiasi prestasi yang beliau torehkan dan sekaligus teladan bagi orang-orang beriman.

Namanya menjadi buah bibir perbincangan, prilakunya menjadi bahan diskusi dan kajian, tutur katanya didokumentasikan oleh Ar Rahman, dibaca dan dihafal oleh orang beriman, hampir di setiap generasi dan periode zaman adalah bentuk prestasi beliau yang membanggakan.

Dari hamba biasa, termasuk kaum papa

Terlebih beliau bukan seorang nabi utusan, seorang hamba biasa, yang secara fisik banyak memiliki kekurangan dan secara strata sosial, ia termasuk bawahan atau orang pinggiran.

Lukmanul Hakim adalah seorang budak dari habasyah(etiopia) dari seorang tukang kayu” Ujar Sufyan atsauri menuturkan dari Ikrimah dari ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu.

Mujahid- rahimahullah , salah satu ahli tafsir kalangan tabi’in, menjelaskan siapa Lukmana Hakim, beliau berkata: “Lukmanul Hakim seorang budak dari habasyah, berbibir tebal, berkaki merenggang, seorang qodhi dari bani Israil”

secara fisik orangnya pendek, berkulit hitam, rambut keriting, hidung pesek. Tidak membanggakan dari fisiknya tapi membanggakan dari sisi amalnya” komentar Ibnu katsir dalam tafsir monumentalnya.

Perkataannya tertutur penuh Hikmah

Hikmah adalah fahmu fiddin, sidqul kalam, paham terhadap ajaran Allah, jujur dalam setiap perkataannya.

Ada kisah menarik yang disandarkan pada beliau, terlepas perbincangan rawi (silsilah penutur sejarahnya), kisah bagaimana sikap bijak dan pilih tutur katanya yang hikmah. Ketika berkata kepadanya tuannya,” tolong sembelih domba ini, ambil dua bagian darinya yang paling bagus!”, maka Lukmanul Hakim memberikan kepada tuannya lidah dan hatinya. “Ambillah dua bagian darinya yang paling buruk!”, beliau menyuguhkan hal yang serupa yaitu lisan dan hati, seraya berkata : “Tidak ada bagian dari tubuh seseorang lebih bagus jika kedua bagian ini bagus, dan tidaklah ada bagian dari tubuh seseorang lebih buruk darinya jika kedua bagian ini buruk”

Kemuliaan seseorang itu bukan dari fisiknya, tapi kadar ilmu yang dimiliki

Dari Ibnu jarir, dia adalah paling berilmu sebelum Nabi Dawud , ketika Nabi Dawud diutus, Lukmanul Hakim belajar Nabi Dawud ‘alaihis salam.

Sebuah riwayat menyebutkan;

“Bukankah engkau budaknya fulan yang menggembalakan kambing? Bagaimana mungkin kamu memiliki kedudukan seperti sekarang?”, seseorang bertanya kepadanya dengan penuh kekaguman. “ Iya, itu taqdir Allah, saya selalu menunaikan amanah, jujur dalam ucapan, meninggalkan sesuatu yang kurang bermanfaat bagiku”, Jawabnya.

Derajat kedudukannya

Qotadah –rahimahullahu ta’ala, pakar tafsir dari kalangan tabi’in menjelaskan hikmah dan kedudukan beliu, “Hikmah adalah fiqhul fil islam walam yakun nabiyan walam yuuhaa ilaihi”, Hikmah adalah paham terhadap Islam, dia belum menjadi nabi dan tidak dikaruniai wahyu(derajatnya seperti nabi tapi bukan seorang nabi karena tidak diberi wahyu, pent).

Pelajarannya jika seseorang amanah, jujur dan meninggalkan kurang bermanfaat, Allah akan angkat derajatnya. Semoga kita bisa meneladaninya, bijak dalam bersikap, hikmah dan bertutur kata … Aamiin!!!

IAH

—–

(Sleman, 14 Dzul Hijjah 1436 H, bertepatan 28 September 2015 M)

.

Tinggalkan Balasan