Diary Guru

Kau Buka Pintu dengan Hati Empati

Sebenarnya kejadian ini tidak sekali dua kali terjadi. Hampir sebagian besar murid pernah melakukan hal ini. Dan hampir setiap guru pula bisa saya pastikan pernah merasakan hal serupa.

Apa sih? Memang hal besar dan istimewa? Hal besar sih bukan, ia adalah sesuatu yang sederhana. Tapi kalau ditanya apakah hal itu istimewa? Bagi saya, akan saya katakan iya, sangat istimewa. Istimewa bukan karena ada manfaat yang saya rasakan saja, lebih dari itu. Perbuatannya itu sepertinya muncul dari hati, muncul karena empati. Sehingga penulis bisa rasakan hal itu sampai dihati, berbekas indah dihati.

Coba bayangkan, masa anak-anak adalah masa bermain. Kalau lagi asyik bermain, biasanya lupa segalanya, lupa makan, lupa waktu, bahkan tak hiraukan lingkungan dan keadaan disekelilingnya.

Nah, mulai terasa kan bagaimana kondisinya, bila mereka masih sempat melakukan hal ini, disaat mereka sedang asyik bermain, mereka sempat membantu membuka pintu gerbang sekolah, disaat guru datang, Ma sya Allah … Makasih ya Nak!

Terlebih bagi guru yang setiap harinya datang ke sekolah. Di saat sekolah kami belum ada petugas Satpam resmi. Maka semua guru harus mengambil peran ini, menjaga keamanan sekolah, salah satunya adalah memastikan kondisi gerbang sekolah selalu dalam keadaan terkunci.

Walaupun kami paham hal ini akan mengundang sederet konsekuensi. Diantaranya ketika hendak memasuki area sekolah dengan kendaraan, kita seolah diwajibkan dengan ritual rutin yaitu turun dari kendaraan, membuka pintu, kembali naik kendaraan sampai parkiran, kemudian ditutup dengan aksi tutup pintu gerbang kembali. Repot?, Iyalah repot pastinya, tapi kami tetap harus melakukan hal ini untuk keamanan dan keselamatan buah hati murid kami.

Apalagi kalau kami sedang membawa barang berat di atas kendaraan, keadaan sulit untuk turun lebih dahulu dari kendaraan. Kemudian seorang murid datang menghampiri, harus melupakan kegiatan bermainnya, mempercepat langkah kakinya bahkan tak segan untuk berlari-lari kecil memangkas waktu menyegerakan membantu, membantu membuka dan menutup pintu gerbang sekolah bagi kami. Ma sya Allah itu adem banget dihati kami… Jazaakumullah khoira Nak!

Semoga hal ini tidak hanya terjadi dikala engkau masih anak-anak saja Nak. Bapak berharap sikapmu ini terus engkau miliki saat dewasa nanti. Apalagi kalau muara sikapmu, engkau bangun di atas sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berikut.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِيْ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَ اللَّهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَاكَانَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ.” أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ.

 

Dari Abu Hurairah Radiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meringankan kesusahan seorang mukmin di antara kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan meringankan kesusahannya di antara kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang sedang kesulitan, niscaya Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Allah akan selalu menolong seorang hamba selama ia mau menolong saudaranya.” (HR. Muslim).

Pastinya itu sesuatu banget untukmu. Terimakasih ya Nak, Jazaakumullahu khoira … aamiin.

Kang Ihsan.

Tinggalkan Balasan