Dunia Anak

Keluarga Sabar

father-and-child-together

Tentang kesabaran, tentu tidak ada yang mengalahkan para nabi utusan Allah. Ujian demi ujian berat mereka lalui dengan penuh ketabahan dan ketaatan kepada-Nya. Juga tak ada yang mengalahkan para sahabat, pengikut setia para nabi. Mereka tegar menghadapi ujian dengan keyakinan yang teramat kokoh. Lalu setelah mereka, ada para ulama yang kesabaran mereka tak perlu diragukan lagi.

Kesabaran itu terus turun dan mengalir pada darah orang-orang shalih yang hidup hingga saat ini. Dan kesabaran itu telah kami temukan pada mereka, sebuah keluarga yang sangat bersahabat dengan kata pantang menyerah, pantang putus asa, dan pantang meminta-minta.

Namanya Alan. Dia anak laki-laki yang selalu tersenyum. Senyumnya tak pernah menghilang meski ia dikecewakan oleh teman-temannya. Ia suka berbagi meski sebenarnya dialah yang harusnya diberi. Dia tidak pernah marah karena ia sangat mudah memaafkan orang lain. Dia bangga pada ayah dan ibunya. Bahkan ia sangat senang jika bisa membantu keduanya.

Ketika tahun ajaran baru dimulai, adiknya yang benama Amal memutuskan mengikuti jejak sang kakak, sekolah di sekolah kami, MI Al-wahdah. Tak jauh berbeda dengan sang kakak, Amal juga tumbuh dan terbetuk menjadi anak yang sabar.

Sekali waktu, Amal tak sengaja ‘menendang’ kepada temannya ketika bermain bola. Dengan rasa bersalah, ia mengulurkan tangan untuk meminta maaf. Sayangnya anak yang menjadi ‘korban’ tidak mau memaafkan, justru membalas dengan melemparkan bola tepat ke wajah Amal. Amal tentu menangsis, dia masih anak-anak. Tapi tangisannya tidak menandakan ia marah pada sikap sang teman, terbukti ketika masuk ke dalam kelas ia masih berusaha untuk meminta maaf meski ditolak berkali-kali.

Melihat kakak beradik itu, kami langusng teringat kepada sosok yang telah melahirkan dan membesarkan keduanya. Dulu kami pernah berbincang ringan dengan sang ibu. Dari perbincangan itu, tergambar jelas bahwa sang ibu adalah wanita yang kuat sehingga mampu menguatkan anak-anaknya. Ia wanita yang sabar, hingga mampu menularkan kesabaran itu pada anak-anaknya. Ia juga wanita yang tidak pernah mau meminta-minta meski kondisi keluarga mereka berada di garis paling bawah. Ia mengajarkan kepada anak-anaknya tentang kesederhanaan dan kesyukuran meski yang mereka milikili sedikit.

Maka benarlah, ibu adalah madrasah pertama bagi seorang anak. Masyaa Allah. Semoga kita semua mampu menjadi orang tua yang baik lagi bijak. Semoga Allah terus membimbing kita dan memberikan taufiq-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

.

Tinggalkan Balasan