Diary Guru

Makna Merdeka Bagi Seorang Muslim

merdeka

       Siang itu, tanggal 18 Agustus 2015, memanfaatkan waktu Istirahat kedua, aku pun beinisiatif membuat halaqoh Ilmu dengan beberapa siswa MIA, tujuannya adalah memanfaatkan momentum apa yang terjadi di sekitar kita sebagai bahan efektif dalam pembelajaran, pembelajaran tematik, tema kemerdekaan bangsa Indonesia tercinta.

      “Siapa yang tahu, kenapa hari kemarin kalian belajar di rumah?” pertanyaanku mengawali halaqoh setelah membuka majelis tentunya. “karena tanggal merah!!”, spontan salah satu siswa menjawab, aku pun tersenyum dibuatnya. “17 agustusan”, Ihsan menjawab seraya mengacungkan jarinya. “ada yang tahu, tanggal 17 agustus hari apa itu?”, ku ajukan pertanyaan kedua, untuk mengarahkan ke tema yang telah direncanakan. “Hari kemerdekaan Indonesia!!!”, Beberapa siswa serempak menjawab. Itulah beberapa dialog pengantar sebagai bahan pembelajaran, bahan pembelajaran bagi generasi penerus bangsa ini ke depan. Bahwa kemerdekaan adalah sebuah nikmat besar bagi bangsa ini. Nikmat yang tentunya datang dari Allah Subhaana wata’ala yang patut disyukuri.

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah” Q.S. An Nahl ayat 53

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat” Q.S. Ibrahim ayat 7

         Mereka harus tahu bahwa kemerdekaan yang sudah 70 tahun ini diperoleh dengan perjuangan yang luar biasa dan penuh pengorbanan, baik pengorbanan harta maupun jiwa. Mereka harus tahu bahwa para pejuang kemerdekaan ini sebagaian besar adalah pejuang muslim. Mereka harus tahu bahwa hidup di masa kemerdekaan adalah nikmat yang besar yang patut disyukuri. Alhamdulillah dengan mengalirnya diskusi, kita pun mengucapkan rasa syukur walaupun baru hanya dengan kata tahmid, Alhamdulillah.

        Diskusi pun berlanjut, ku lontarkan pertanyaan yang membuat mereka sedikit berfikir, “Apa makna merdeka bagi seorang muslim?”. Suasana hening sesaat, anak-anak terlihat berfikir dengan gaya mereka masing-masing. Ada yang mengerutkan dahinya, ada yang menundukkan kepala, ada yang memandang jauh ke depan sambil meletakkan jari telunjuknya di pipi dan ada juga yang asyik bermain sendiri, mungkin itu gaya belajarnya, berfikir sambil bermain.

       “Untuk beribadah!!!”, jawab Allan selang beberapa saat. Alhamdulillah, jawaban yang membuat saya puas dan senang. “Bagus, jawaban yang tepat!!” kataku sambil ku acungkan jempol sebagai bentuk apresiasi padanya. Benar, merdeka bagi seorang muslim adalah merdeka dalam beribadah, beribadah dengan mentauhidkan Allah Subhanaa wata’ala, karena memang tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada Allah semata.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ . [ سورة الذاريات الآية:56]

“ Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” Q.S. Adz Dzariyat, ayat 56.

       Ada tantangan tersendiri ketika hendak memahamkan siswa yang lain, terkait ibadah adalah makna kemerdekaan bagi seorang muslim. Ku coba memahamkan ini dengan pendekatan hidupnya ikan dengan kisah sahabat mulia, Bilal bin Rabah – radhiyallahu ‘anhu-. Dengan metode pendekatan tanya jawab dan kisah, terlihat mereka tertarik mengikutinya. Saya jelaskan bahwa setiap makhluk Allah, diciptakan memiliki tujuan dan fungsi masing-masing. Ketika tujuan atau fungsi penciptaan tidak terpenuhi maka makhluk tersebut tidak akan bahagia, tidak merasakan ketenangan dan tidak merasakan kemerdekaan. Sebaliknya walaupun dengan segala keterbatasan, tetapi mampu memenuhi fungsi penciptaan, maka ia akan merasakan kebahagian, merasakan manisnya kehidupan, merasakan kemerdekaan sejati.

        Dengan metode pertanyaan, saya berusaha memahamkan bahwa ikan ketika dikeluarkan dari air, diletakkan ditempat tanpa air, maka ikan tersebut tidak akan nyaman, akan sengsara, akan kesakitan walaupun ditempatkan bejana emas. Karena ikan diciptakan Allah memang tempatnya adalah air. Begitu pula dengan kisah Bilal bin Rabbah – radhiyallahu ‘anhu-, kisah disiksanya beliau di padang pasir di siang hari yang terik, dengan kondisi tanpa mengenakan baju serta ditindih dengan batu besar. Harapan dari majikannya dengan penyiksaan seperti itu adalah agar sahabat yang kelak menjadi muadzin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini, kembali menukarkan keimanannya dengan kesyirikan, mengganti agama barunya yaitu tauhid dengan agama kesyirikan, agama penyembah patung berhala. Harapan majikan tersebut sia-sia. Bilal bin Rabbah – radhiyallahu ‘anhu- pun tetap tidak bergeming dengan penyiksaan yang maha dahsyat tersebut. Karena beliau telah mendapatkan tujuan pencitaan manusia yaitu mentauhidkan Allah, merasakan manisnya iman, berada dalam kemerdekaan yang sebenarnya bagi seorang muslim, kata-kata “ahad ahad ahad” yang artinya Esa adalah bukti kemerdekaan hati beliau – radhiyallahu ‘anhu- . Kemerdekaan sejati yang sepantasnya seorang muslim miliki. Merdeka dalam beribadah mentauhidkan Allah Subhaana wa ta’ala.

        Tak terasa waktu pun cepat berlalu, waktu istirahat telah usai, saatnya mengisi kemerdekaan bagi generasi bangsa untuk melanjutkan kegiatan belajar di kelas, Sebagai bekal memaksimalkan ibadah kepada Allah Subhaana wa ta’ala. Halaqah pun ditutup dan selamat belajar nak!!! Merdekakan jiwamu dengan TAUHID!!!

Sleman, 19 Agustus 2015

Ihsan Abu Hisyam.

Tinggalkan Balasan