Diary Guru

MANASIK

Siapa yg belum mampu berdiam-wukuf di Arafah suci, hendaklah ia berhenti pada batas hukum Allah yg telah ia mengerti.

Dan siapa yg belum mampu bermalam-mabit di Muzdalifah, bermalamlah dengan ketaatan kepada Allah, agar akrab padaNya, dan dekat bermesra.

Siapa yg belum kuasa menyembelih hewan Hadyu-nya di Mina, hendaklah ia sembelih hawa nafsunya agar dengannya sampainpada cita-cita.

Dan siapa yg belum mampu sampai ke Baitullah bersebab jauhnya, hendaklah ia tuju Rabb-nya Ka’bah yg lebih dekat dari urat lehernya.

(Lathaiful Ma’arif, dikutib dari Salim A Fillah)

♡ ambillah dariku, manasik-manasik kalian ♡

Bocah-bocah kecil itu antusias nan ceria. Mereka sedang melakukan simulasi manasik haji. Mereka adalah bocah murid sekolah wahdah, dari taman tahfizh-nya hingga madrasah ibtidaiyah. Dibersamai oleh almadinahtour dot com, dan didampingi ustadz ustadzah yang (mungkin) juga belum pernah ke tanah suci, Haramain Syarifain.

Maka dari foto bocah murid itulah ada pesan yang mengayun melambai. Dari aktifitas penuh ceria kadang teriring riuh kacau sautan kanak-kanak “labbaika allahumma labbaika, labbaika laa syariikalaka labbaik..”

Lalu tak berselang lama disaut lagi suara khas kanak-kanak “innal-hamda wa ni’mata, laka wal-mulk, laa syariikalaka”.

Hmm…imaji jamaah haji itu kian membumbung tinggi.. imaji menjadi bagian titik-titik putih yang khusyu’ mengagungkan dan mengabdi kepada-Rabbi.

Pada arafah, ada muhasabah tanpa tunda.
Pada muzdalifah & mina, ada taqwa di tenda.
Pada jumrah, ada nafsu terlontar sirna.
Pada tahalul, ada yg terpotong egonya.
Pada pakaian ihram, ada selaksa makna.
Pada thawaf, ada pusaran mengangkasa.
Pada sa’i, ada derap iman membahana.
Pada tahalul, ada yg terpotong jumawanya.

Ah.. kerinduan yang aneh.
Ya Rabb, sampaikan kami dan semua yg kami cintai pada manasik-manasik yang dirindukan itu. Mampukan kami… Ampuni kami. (MAB)

Tinggalkan Balasan