Diary Guru

Mengalah Tidak Berarti Kalah

Mengalah Tidak Berarti Kalah

“Ustadzah…, pinjam Al-Qur’an…!” Dua santri yang cantik datang menghampiri kami hampir bersamaan. Kutatap mata keduanya, ada harap yang besar di sana.

“Em,,, tapi Al-Qur’an ustadzah cuma satu. Gimana dong?” Tanya kami memperhatikan ekspresi keduanya. Mereka saling memandang bergantian. Sebenarnya kami bisa saja memberikan Al-Qur’an itu pada salah satu dari mereka yang lebih dulu menghampiri kami, tapi di momen ini, kami ingin ‘menguji’ siapakah yang paling dewasa di antara keduanya, siapa yang pengamalan ilmunya lebih baik, dan siapa yang lebih bijaksana, lebih lapang hatinya di usia yang masih sangat muda.

“Kasih ke aku ustadzah…!” Keduanya menyahut hampir bersamaan lagi.

“Hemmm…., kan cuma ada satu? Jadi ustadzah kasih siapa dong?” Kami diam menunggu jawaban. Mereka kembali saling bertukar pandang. Salah satu dari mereka seperti akan menangis, takut bukan dia yang mendapatkan.

“Aku ngalah aja….” Akhirnya satu di antara mereka bersuara. Meski dengan wajah tak kalah sedih, ia memilih untuk mendahulukan temannya, saudaranya.

“Nggak apa-apa mbak?” Tanya kami penasaran.

“Iya, nggak apa-apa ustadzah. Al-Qur’annya buat fulana aja.” Katanya. “Nanti aku pinjam Al-Qur’an punya ustadzah Putu.” Sambungnya melangkah pergi untuk meminjam Al-Qur’an dari ustadzah lainnya.

Kami lantas tersenyum dan merasa haru. Anak yang masih duduk di kelas 1 SD itu telah lulus dari ujian keegoisannya. Ia telah sampai pada tingkatan ukhuwah yang paling tinggi yakni itsar, mendahulukan saudaranya. Sebuah tingkatan yang amat sulit diraih meski oleh seorang yang sudah tarbiyah dan banyak menuntut ilmu sekalipun.

Ia pun telah membuktikan bahwa rasa cintanya pada saudaranya begitu besar, serta membuktikan besarnya keimanan yang ada pada dirinya. Bukankah Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari).

Dan, gadis kecil nan manis ini telah mengajarkan kepada kita bahwa mengalah bukan berarti kalah, sesuatu yang masih menjadi ketakutan tersendiri bagi orang dewasa.

Wallahu’alam.

_Ustadzah HD_ (Jogja, 17-02-2016. Di ruang ustadzah tercinta)

———————————-

Catatan ini kami persembahkan kepada gadis kecil kami yang telah banyak menginspirasi menulis kisah-kisah penuh hikmah di setiap hari-hari mengajar kami, Afrina. Semoga Allah senantiasa menjaga dan menghiasinya dengan akhlak-akhlak terpuji hingga ia dewasa, bahkan hingga ajal menjemputnya kelak. Semoga ia menjadi anak yang shalihah dan menjadi wasilah kami (orang tua dan astidzah) masuk ke dalam Surga Allah bersamanya. Aamiin…

.

5 comments

  1. ummu yusya'

    Maa syaa Allah…

    Baarakallaahu fii kunnaa…

    Semoga senantiasa istiqamah dlm mentarbiyah generasi muslim ke depan,hingga bisa menjadi hujjah d hadapan Allah kelak.

    Aamiin…

    1. Ustadzah HD

      Wa baarakallaahu fik.

      Aamiin… ^^

    2. Mulyono Post author

      aamiin

  2. dadabanjar

    Aamiin… Aamiin… Yarabbala’lamiin…
    ^_^

  3. dadabanjar

    Aamiin…

Tinggalkan Balasan