Dunia Pengajar

Menghindari Perkataan Keji

papantulis

Berkata keji, mencaci, dan merendahkan orang lain merupakan sifat-sifat yang ditentang oleh jiwa, dienggani oleh tabiat, dan dijauhi oleh orang-orang yang mulia. Guru seharusnya menjadi teladan yang diikuti jejaknya dan dititi jalan (hidup)-nya. Jika guru berperangai dengan beberapa sifat ini, maka merupakan akhlak yang paling buruk. Dan jika sifat-sifat ini berkumpul pada seorang guru, maka itu merupakan bencana besar, karena siswa akan terpengaruh dengan gurunya, baik itu negatif maupun positif.

Jika kondisi gurunya seperti ini, apa yang bisa kita harapkan dari siswa?! Kesimpulnnya, bahwa laknat, perkataan keji, dan ejekan konsekuensinya pencelaan terhadap orang lain, membunuh mental, merusak fitrah dan lisan, mengobarkan amarah terhadap orang lain, dan lain sebagainya. Di samping sifat-sifat tersebut merupakan perkara yang bertolak belakang secara syar’i dan pemilikya juga diancam dengan siksa dan hal ini sangat penting untuk deketahui.

Penjelasannya adalah…

A. Ejekan

Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Q.s. Al-Hujarat [49]: 11)

Firman Allah; Janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain, dengan semua jenis perkataan, ucapan, dan perbuatan yang merendahkan saudaranya sesama Muslim, perbuatan tersebut haram, tidak boleh, dan itu menunjukkan sikap bangga diri pada orang yang mengejek tersebut.

Bisa jadi orang yang direndahkan lebih baik daripada orang yang merendahkan, inilah yang banyak terjadi dan (sesuai dengan) realita yang ada. Ejekan timbul dari hati yang penuh dengan akhlak-akhlak yang buruk, berperangai dengan semua perangai tercela, hampa dari semua akhlak mulia. Oleh sebab itu, Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Cukuplah keburukan bagi seseorang, bila dia meredahkan saudaranya seislam.”

B. Laknat dan Caci Maki

1. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, dia berkata Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Mencaci seorang Muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran.” (H.r. Bukhari, Musllim, ahmad, Tirmidzi, An-Nasa’i)

Di dalam hadits ini terdapat perintah untuk mengangungkan hak Muslim dan menghukumi orang yang mencacinya tidak berdasarkan haq dengan kefasikan.

2. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dia berkata,

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bukan orang yang keji, bukan pelaknat, dan bukan pencaci. Beliau berkata pada salah seorang kami ketika beliau dicaci, ‘Ada apa dengannya, semoga keningnya tertimpa tanah’.” (H.r. Bukhari dan Ahmad)

3. Dari Abu ad-Darda’ radhiallahu ‘anhu, dia berkata Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya orang-orang yang banyak melaknat tidak akan menjadi saksi dan tidak juga pemberi syafa’at pada hari kiamat.” (H.r. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Abu Daud)

C. Kata Kotor dan Sia-sia

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam beliau bersabda,

“Orang Mukmin bukan pencela, bukan pelaknat, tidak (berkata) keji, dan tidak berkata sia-sia.” (H.r. Bukhari, Ahmad, dan Tirmidzi)

Kesimpulan:

1. Sifat-sifat tercela ini efek negatifnya akan merambat kepada orang lain dan mempengaruhinya.

2. Ejekan mengandung perendahan dan pelecehan terhadap orang yang diejek, ini bisa mengundang permusuhan dan saling benci, lalu bagaimana jika ini adalah karakter seorang guru?

3. Melaknat adalah perangai yang buruk dan pelakunya diancam dengan siksa jika tidak bertaubat.

4. Kata kotor dan keji mencerminkan keburuan batin dan kerusakan niat.

Subhanallah. Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari sifat yang demikian. Aamiin…

– Disadur dari buku Begini Seharusnya Menjadi Guru, oleh Fu’ad bin Abdul Aziz asy-Syalhub.

.

Tinggalkan Balasan