Dunia Orang Tua

Pelajaran dalam Ibadah Kurban

Dari setiap kejadian pasti membawa segudang pelajaran. Karena segala sesuatu yang terjadi adalah merupakan ketetapan takdir Allah yang tentunya sarat akan makna dan pelajaran. Hal ini Allah tegaskan dalam firmanNya tentang manfaat penciptaan angin;

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ ۚ كَذَٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran”. (Q.Surat Al-A’raf : 57)

Demikian halnya tentunya terhadap pensyariatan idul Kurban beserta rangkaian ibadah di dalamnya.  Pasti banyak pelajaran yang bisa kita petik dan kita teladani. Dari penciptaan hewan ternak saja, terdapat manfaat yang Allah sampaikan dalam firmanNya;

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۖ نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهَا وَلَكُمْ فِيهَا مَنَافِعُ كَثِيرَةٌ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ

Dan sesungguhnya pada hewan-hewan ternak terdapat suatu pelajaran bagimu. Kami memberi minum kamu dari (air susu) yang ada dalam perutnya, dan padanya juga terdapat banyak manfaat untukmu, dan sebagian darinya kamu makan” (Q.S. Al Mu’minun : 21)

Terlebih bagi seorang guru ataupun orang tua, sebagai pendidik anak-anak calon generasi sebuah bangsa, maka seorang guru atau orang tua harus mampu mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya saat momentum hadirnya idul qurban ini sebagai bekal untuk menanamkan nilai-nilai pelajaran penting bagi kehidupannya kelak.

Berikut beberapa nilai-nilai pelajaran penting yang bisa kita ambil dari pensyariatan idul qurban sebagai bahan pembelajaran bagi anak atau peserta didik kita;

1. Nilai ketaatan

Kepatuhan nabi Ismail terhadap perintah ayahnya, nabi Ibrahim. Kepatuhan tidak hanya terhadap hal-hal yang ringan dan sederhana. Lebih dari itu, Ismail paham bahwa perintah apapun asalkan itu datang dari Allah maka itu adalah kebaikan bagi dirinya. Sebagaimana diabadikan dalam firman Allah berikut;

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

 

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (Q.S. Ash Shaffat : 102)

Tingkat kepatuhan luar biasa inilah yang mengantarkan namanya harum terkenang dengan kebaikan dan hal ini pula perlu kita tanamkan kepada anak atau siswa tentang arti ketaatan yang sesungguhnya beserta balasan bagi orang-orang yang mampu menjaga ketaatan kepada Allah.

Dari penggalan ayat di atas juga menyisakan pelajaran mahal yaitu perlunya keteladan dari orang tua atau pendidik dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan. Hal ini terlihat bagaimana taatnya nabi Ibrahim terhadap perintah Allah untuk menunaikan perintah “menyembelih” atau mengorbankan putra yang sangat dicintainya. Tapi nabi Ibrahim paham bahwa kecintaan yang utama dan hakiki hanyalah kepada Allah serta tidak boleh dikalahkan dengan kecintaan kepada apapun.

2. Nilai Kesungguhan

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik” (Q.S. Al Ankabut : 69)

Karena kesungguhan nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam menjalankan perintah Allah, maka Allah mengapresiasi dengan menjadikan syariat berqurban berlaku pada umat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

3. Nilai Kebersamaan

Adalah pensyariatan dalam penyembelihan kurban terkait pembagian daging hewan kurban, peruntukannya dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama untuk dikonsumsi orang yang berkurban, bagian kedua diperuntukkan bagi saudara kita yang fakir dan membutuhkan dan terakhir untuk hadiah kepada orang-orang yang perlu dilembutkan hatinya agar siap hidup dalam naungan Islam rahmatan lil ‘Alamin.

4. Nilai Ketakwaan

Inilah nilai yang terpenting dan teragung. Tidaklah ibadah yang kita lakukan kecuali agar dapat menggapai ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman;

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demi-kianlah Dia menundukkannya untuk-mu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar” (Q.S. Al Hajj : 37)

Tentunya masih banyak nilai-nilai pelajaran mahal dari rangkaian kegiatan ibadah idul Kurban yang bisa dipetik. Sedikit yang kami paparkan mudah-mudahkan sudah cukup membuat kita turut berkontribusi mengamalkan nilai-nilai tersebut dan mengajarkan kepada anak atau peserta didik kita. Wallahu a’lam. (KI)

 

Tinggalkan Balasan