Dunia Orang Tua

PEMBERI PETUNJUK HANYALAH ALLAH

Yellow-Kaligrafi-Allah-Wallpapers

Setiap orangtua dan pendidik tentu mengetahui dan meyakini bahwa yang bisa memberikan petunjuk pada hekekatnya hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang perlu dan bisa kita lakukan untuk kebaikan anak hanyalah mencari sebab-sebab datangnya hidayah kemudian menunaikan kewajiban-kewajiban terhadap anak yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan dalam syariat. Selebihnya merupakan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, karena Dia lah yang menunjuki dan menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang terjemahnya):

“Siapa diberi petunjuk oleh Allah maka dialah yang mendapatkan petunjuk dan siapa yang disesatkan maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf : 178)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang terjemahnya):

“… maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapasaja yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapasaja yang dikehendaki-Nya, maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.” (QS. Fathir : 8)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang terjemahnya):

“Dan seandainya Kami menghendaki, tentu Kami berikan kepada setiap jiwa petunjuknya.” (QS. As Sajdah : 13)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang terjemahnya):

“Allah memberi petunjuk dengan cahaya-Nya bagi siapasaja yang dikehendaki.” (QS. An Nur : 35)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang terjemahnya):

“Dan seandainya Tuhanmu berkehendak, tentu berimanlah semua orang yang ada di muka bumi.” (QS. Yunus : 99)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang terjemahnya):

“Dan Allah menunjukkan siapa saja yang dikehendaki ke jalan yang lurus.” (QS. An Nur : 46)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang terjemahnya):

“Katakanlah! Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat. Maka jika Dia menghendaki, pasti lah Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya.” (QS. Al An’am : 149)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang terjemahnya):

“Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (QS. Hud : 34)

Mari kita perhatikan perkataan yang diucapkan oleh Nabi ‘Isa ‘alahissalam ketika ia dalam buaian,

“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah. Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan menjadikan aku seorang nabi. Dan dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada. Dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup dan berbakti kepada ibuku. Dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (Terjemah QS. Maryam : 30-32)

Perhatikan kata-kata ‘Isa ‘alaihissalam: Ia memberiku (atani); Ia menjadikanku (ja’alani); Ia menjadikanku (ja’alani); dan Ia tidak menjadikanku (wa lam yaj’alni)!

Siapa gerangan yang “memberi”, “menjadikan” atau “tidak menjadikan” ‘Isa? Dia lah Allah ‘Azza wa Jalla. Manusia samasekali tidak punya andil. Karena itu lah, kita hanya diperintahkan untuk ridha (menerima sepenuhnya) bahwa Allah Tabarakta wa Ta’ala adalah Rabb, Islam agama kita dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Nabi kita.

Perhatikan pula anak durhaka yang kisahnya diabadikan dalam Al Quran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang terjemahnya):

“Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Cis bagi kamu berdua, apakah kamu berdua memperingatkanku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? Lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar.” Lalu dia berkata: “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka. Mereka itulah orang-orang yang telah pasti ketetapan (azab) atas mereka bersama umat-umat yang telah berlalu sebelum mereka dari golongan jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Ahqaf : 17-18)

Hendaknya dalam setiap perkara kita senantiasa bersandar kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak tertipu dengan kemampuan diri sendiri maupun makhluk, terlebih dalam hal mendidik anak-anak agar tumbuh menjadi hamba Allah ‘Azza wa Jalla yang bertakwa.

Para Nabi dan orang-orang pilihan pun tidak kuasa memberi petunjuk kepada karib kerabat dan orang-orang yang dicintainya. Tengok lah kisah Nabi Nuh dan Nabi Luth ‘alaihimassalam yang harus menyaksikan sebagian ahli keluarganya mendapatkan azab karena mereka enggan menerima petunjuk keimanan. Demikian pula hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga harus berlapang dada menerima ketentuan dari Allah Al ‘Alimul Hakim, pamannya yang sangat dicintainya tidak berkenan mengucapkan la ilaha illallah dan meninggal dalam keadaan kafir. Hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala tegaskan dalam firman-Nya (yang terjemahnya):

“Sesungguhnya engkau tidak bisa memberikan petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapasaja yang dikehendaki. Dan Dia lah yang Mahatahu terhadap orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. Al Qashshash : 57).

Wahai Dzat Yang Mahakuasa membolak-balikkan hati, teguhkan lah hati kami agar tetap berada di atas agama-Mu. Wahai Dzat Yang Mahakuasa memalingkan hati, arahkan lah hati kami untuk senantiasa taat kepada-Mu. Ya Allah baikkanlah keturunan kami, karuniakanlah penyejuk hati bagi kami dari isteri dan anak kami. Dan jadikan lah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.

*(Disalin dari buku (terjemahan) Fikih Pendidikan Anak karya Syaikh Musthafa al ‘Adawy, dengan sedikit penyesuaian).

.

Tinggalkan Balasan